Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Suamimu bukan urusanku


__ADS_3

“Mara, ada yang cari kamu di bawah.” Raisa datang memberikan informasi yang membuat Amara mengernyit heran.


“Siapa, Bu?”


“Ibu juga gak kenal. Kayaknya dia baru pertama kali ke sini deh, wajahnya asing banget.”


Amara mengangguk. Ada rasa penasaran yang menghampiri dirinya, pasalnya aneh sekali jika ada yang mencarinya tepat saat dirinya ada di rumah orang tuanya.


Esok tadi Amara memang datang ke rumah orang tuanya diantar oleh Azizah yang kebetulan akan berangkat dinas pagi. Sengaja dia datang karena merindukan kedua orang tuanya, juga karena kesepian di rumah hanya sendirian.


Amara segera memasang penutup kepala dan berjalan turun menuju ruang tamu. Sambil bertanya-tanya, siapakah gerangan yang datang mencarinya.


Sesampainya di ruang tamu, Amara tampak menatap wanita yang tengah duduk dengan kepala menunduk. Wajahnya tampak tak begitu asing dalam pandangan. Dia mengucapkan salam hingga membuat wanita itu mendongak menatapnya, bibirnya menyunggingkan senyum. Namun, Amara bisa melihat ada rasa sakit dibalik senyum tipis itu.


“Maaf. Mbak kenal dengan saya? Ada keperluan apa, ya?” Amara duduk di depan wanita yang menatapnya begitu intens.


Wanita itu mengangguk dengan senyum getir. “Saya sudah cukup mengetahui siapa kamu, Mbak.” Ucapannya terjeda, dia menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Perkenalkan saya Farah Aisyahrani, istri dari Mas Haris.”


Amara mengangguk, tetapi masih tidak paham alasan apa yang membawa wanita itu untuk datang padanya. Mereka tidak saling kenal hingga wanita itu nekat datang ke rumahnya. Bertepatan pula saat dirinya ada di rumah ini. Jika tidak mungkin wanita itu tak akan bertemu dengannya.


“Izinkan saya bicara lebih dulu, Mbak,” ucapnya menyela, menghentikan Amara yang hampir membuka mulutnya.


“Saya dan Mas Haris menikah karena perjodohan, mungkin kamu sudah tahu akan hal itu. Tapi yang membuat saya sakit hingga detik ini adalah karena suami saya masih menyimpan nama wanita lain di hati dan pikirannya. Tanpa saya sebutkan kamu jelas tahu siapa wanita itu.”


“Tapi itu bukan urusan saya, Mbak Farah. Terlepas kami adalah mantan kekasih, hubungan kami sudah selesai ketika dia lebih memilih kamu. Sejak saat itu apa pun yang menyangkut dia bukan lagi urusan saya,” jawab Amara malas dan acuh tak acuh.

__ADS_1


“Saya paham, Mbak. Kedatangan saya menemuimu hanya ingin meminta pertolongan untuk menyelamatkan rumah tangga kami yang kini berada di ujung tanduk.”


Amara terkekeh pelan. “Astaga, Mbak Farah. Di mana sebenarnya pikiranmu? Saya bukan siapa-siapa, sementara kamu adalah istrinya, harusnya kamu yang bicara dan mencari jalan keluar atas apa pun yang terjadi dengan rumah tanggamu. Bukan malah menarik orang lain yang gak tahu apa-apa.”


“Saya sedang melakukannya, Mbak Mara. Karena jalan keluarnya adalah kamu, semua sumber masalah yang terjadi dalam rumah tangga kami,” sahut Farah setengah menggebu.


Amara menahan kekesalan yang bercokol di hati. Bisa-bisanya dia dianggap menjadi sumber masalah, sementara dirinya merasa tak pernah melakukan apa pun. Haris menikah dengan Farah karena keinginannya sendiri, dia yang memilih. Jika dikemudian hari ada sesuatu yang belum usai mengapa dirinya dibawa-bawa.


“Saya mohon, Mbak Mara. Hanya kamu yang bisa bujuk suamiku untuk membatalkan rencana perpisahan ini, tolong kasihani wanita yang tengah mengandung ini.”


“Maaf, Mbak Farah saya gak bisa melakukannya. Saya berstatus istri orang dan urusan suamimu adalah denganmu.” Amara enggan, untuk apa dia ikut campur rumah tangga orang lain. “Pun apa pun yang akan saya lakukan harus atas izin suami.”


“Tolong saya, Mbak. Saya mohon,” ujar Farah menghiba, berharap mantan kekasih suaminya ini mau berbaik hati mengabulkan keinginannya.


“Saya gak ada urusan denganmu atau suamimu, Mbak. Tolong diingat bahwa saat ini saya juga memiliki suami dan tengah mengandung. Jangan sampai permintaanmu membuatku juga dalam masalah yang bisa menghancurkan rumah tanggaku.”


“Ada-ada saja. Mau menyelesaikan masalahnya sendiri, tapi bawa-bawa aku. Bisa-bisa dia akur sama suaminya, aku yang dimusuhi suamiku,” gumam Amara sambil menggelengkan kepala gemas dengan jalan pikiran wanita itu.





“Iya, Mas. Aku menginap di rumah ayah dan ibu dulu boleh gak? Kangen mereka,” kata Amara melalui panggilan video bersama suaminya.

__ADS_1


“Boleh, tapi jangan lupa kabari mama biar gak khawatir.”


Amara mengangguk. “Mas Akram gimana kerjaannya?”


“Alhamdulillah semuanya lancar, Sayang. Doakan saja semoga urusannya cepat selesai biar aku bisa segera pulang,” jawab Akram dengan menyunggingkan senyum.


“Jangan terlalu lelah, Mas. Jangan lupa jaga kesehatan dan makan tepat waktu.”


“Kamu juga hati-hati di sana, ya. Jangan pergi-pergi sendirian, kalau mau ke mana-mana ajak sopir saja.”


“Iya, Mas.”


“Oh, ya aku tadi kedatangan tamu gak diundang.”


Tampak di seberang sana Akram menaikkan alisnya penasaran. “Siapa?” tanyanya menyelidik.


“Istri Haris. Aneh banget tahu gak sih. Dia datang-datang ingin minta tolong, tapi kalimatnya sungguh menyebalkan. Mengatakan aku sumber masalah dalam rumah tangganya. Enak saja.” Amara menumpahkan kekesalannya kembali ketika mengingat wanita itu.


“Mau ngapain?” tanya Akram dengan mata yang memicing tajam.


“Aku disuruh ngomong sama suaminya untuk membatalkan perpisahan yang mungkin akan terjadi. Lah memangnya dia kira aku siapa? Aku ini orang lain, sudah bersuami dan gak ada urusan lagi sama suaminya,” omel Amara dengan nada kesal.


“Sudahlah abaikan saja. Gak perlu diambil pusing. Kamu sudah menolaknya, itu sudah cukup. Jangan menarik diri ke dalam permasalahan orang lain.” Akram menasehati. Sedikit ada perasaan tidak nyaman karena kehidupan istrinya dibayangi masa lalu yang mungkin bisa mengubah apa yang sudah terjadi di depan mata.


Obrolan mereka berlanjut hingga tengah malam. Membicarakan hal-hal yang sederhana, tetapi penuh makna.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2