Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Asisten multitalent


__ADS_3

“Pak, sekretaris Pak Galih menghubungi untuk meminta pertemuan diajukan sore nanti.”


Akram langsung menghentikan langkahnya. “Gak bisa. Istriku sedang sakit, aku akan pulang setelah ini.”


“Tapi Pak—”


“Ajukan siang ini juga, jika gak bisa maka sesuai kesepakatan awal saja,” potong Akram tanpa mau mendengar penjelasan apa pun.


Setelah memastikan kondisi Amara baik-baik saja, Akram memutuskan berangkat ke kantor karena memang pagi itu dia ada rapat bersama dengan beberapa investor penting.


“Baik, Pak.”


Akram masuk ke dalam ruangan dan menghubungi ke rumah. Menanyakan kondisi sang istri yang ternyata masih tidur sampai saat ini.


“Jangan lupa nanti bangunkan untuk makan siang dan berikan vitamin yang ada di atas meja, Bu Meri.”


“Baik, Pak.”


“Kemungkinan aku pulang selepas makan siang, nanti kalau Mara tanya bilang saja aku ada pertemuan dadakan.”


“Baik, Pak.”


“Oh, ya sekalian nanti malam tolong siapkan makan malam dengan menu kesukaan mama dan papa. Nanti malam mereka akan datang.”


“Siap, Pak.”


Akram memutuskan panggilan dan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terus memikirkan keadaan istrinya.

__ADS_1


Pintu ruangannya diketuk disusul Hakim yang mengatakan bahwa pihak dari kliennya setuju untuk bertemu siang ini.


...♡♡♡...


Akram mengernyit heran saat pelayan membawa mereka ke ruangan VIP, tetapi justru di dalam hanya ada dua wanita yang sama sekali tidak dikenal.


Akram menoleh ke arah asistennya yang langsung bertanya, “Kami ingin bertemu Pak Galih.”


“Silakan. Saya sekretaris Bu Claudia yang kebetulan putri Pak Galih,” jelas wanita itu dengan sopan.


Akram dan sang asisten masuk ke dalam ruangan dan duduk berhadapan dengan dua wanita yang lalu mengenalkan diri.


“Kenapa Pak Galih mengirim Anda? Bukankah seharusnya saya harus bicara langsung dengan beliau karena perlu detail yang diinginkan.”


“Maaf tapi papa sedang ada urusan siang ini dan meminta saya menemui Anda sendiri. Anda gak perlu khawatir karena sesungguhnya itu adalah proyek saya sendiri, bukan milik papa. Beliau hanya merekomendasikan karena pernah memakai jasa perusahaan Anda.”


“Saya sedikit terkejut karena Pak Galih tidak mengatakan apa pun sebelumnya.”


Wanita itu tampak mengangguk tipis. Lalu mulai menjelaskan apa yang diinginkan.


Akram mendengarkan dan sesekali mengangguk sebagai tanggapan sementara Hakim mencatat keinginan kliennya.


Setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya pesanan makanan mereka datang dan membuat pembahasan itu terhenti untuk beberapa saat.


“Secepatnya sekretaris saya akan menghubungi kembali,” kata Akram buka suara.


Wanita bernama Claudia itu mengangguk. “Nanti jika desain ada yang kurang, bisakah direvisi?”

__ADS_1


“Bisa, Bu. Kami akan rapat dengan direktur perencanaan dan pelaksanaan lebih dulu baru akan mengirim detailnya pada Anda. Bagian lapangan juga akan survey ke lokasi untuk melihat kondisi,” ujar Hakim yang terus menjawab. Seperti memahami kondisi sang atasan yang sedikit kurang fokus.


Mereka makan siang dengan tenang. Sesekali Claudia menatap ke arah Akram yang tampak begitu tenang dan tidak banyak bicara. Justru yang sedari tadi bicara hanya asistennya, sedikit membuatnya kesal.


“Anda sudah menikah, Pak?”


“Belum, Bu Claudia. Apa Anda mau menjadi calon istri saya?” jawab Hakim membuat Akram hampir menyemburkan tawa yang tertahan.


Claudia menatap kesal asisten itu yang baginya tampak kurang ajar karena selalu menjawab apa pun yang sebenarnya tidak ditunjukkan untuknya.


“Saya bertanya dengan Pak Akram, bukan Anda,” desis Claudia.


Bibir Hakim membulat dan tetap memasang senyum menyebalkan di wajahnya. “Anda tidak menunjuk satu nama, jadi bukan saya yang salah.”


Tampak tangan wanita itu menggenggam sendok dengan erat seperti menahan emosi.


“Pak Akram sudah menikah, sudah punya istri yang cantik, baik dan salihah.” Kembali Hakim yang menjawab. “Sungguh beruntung sekali mendapatkan the real bidadari dunia.” Memuji istri atasannya dengan sedikit melirik penampilan sang klien yang atas bawah terbuka.


“Tidak sopan,” desis Claudia kesal dan memilih diam menikmati makanan yang kini terasa hambar.


Akram menatap sang asisten dan menggelengkan kepala, memintanya untuk diam dan tak menanggapi agar tak berlarut-larut.


Dalam hatinya Akram bertanya-tanya, sejak kapan asistennya itu beralih profesi jadi lambe nyinyir.


Sungguh bakat terpendam yang baru diketahui.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2