
“Ma, boleh aku bicara sebentar dengan Amara. Ada yang ingin aku katakan,” kata Akram menatap ibunya.
“Ya, silakan. Mama tunggu di mobil saja. Jangan lama-lama, ya.” Azizah seperti mengetahui apa yang ingin dikatakan putranya, dia memberikan ruang untuk keduanya berbicara dan pergi sambil membawa beberapa kantong belanja menuju ke arah mobilnya.
Hening untuk beberapa saat sampai akhirnya Akram mengatakan sesuatu yang membuat dada Amara bergemuruh keras seakan ingin meledak.
“Aku ingin melamar kamu pada orang tuamu, Mara.”
Sesuatu yang tak pernah dipikirkan sama sekali. Kalimat itu membuat Amara yang semula menunduk, mengangkat wajahnya. Menatap lawan bicaranya untuk memastikan kesungguhan.
Amara menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Sungguh kah kalimat itu terucap saat mereka bahkan tak pernah saling mengenal satu sama lain?
“Apa yang membuat Mas Akram ingin meminang diriku yang baru beberapa kali ditemui? Kita gak saling mengenal, apa Mas Akram yakin dan gak akan menyesal jika mengetahui masa laluku yang buruk?”
__ADS_1
Akram menatap Amara, sorot matanya penuh cinta dan kekaguman. Bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman yang begitu hangat.
“Masa lalu gak bisa diubah. Tapi kamu sudah memperbaiki masa depan untuk lebih baik. Itu sudah cukup,” kata Akram yakin. “Tutuplah aibmu sebaik mungkin seperti Allah menutup kekuranganmu.”
Amara mengangguk setuju. Dia pernah mendengarnya saat mengikuti kajian.
Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan dalam bermaksiat. Yaitu seseorang yang telah berbuat dosa di malam hari lantas di pagi harinya ia berkata bahwa ia telah berbuat dosa ini dan itu padahal Allah telah menutupi dosanya. Pada malam harinya, Allah telah menutupi aibnya, tetapi di pagi harinya ia membuka sendiri aib yang telah Allah tutupi. (HR. Bukhari, no. 6069 dan Muslim, no. 2990.)
“Apa yang membuat Mas Akram memilih menjadikanku wanita pilihan?” tanya Amara dengan suara nyaris bergetar karena menahan sesuatu dalam dadanya.
Amara meremas ujung pakaian yang dipakai. Tampak begitu gugup karena dia juga harus mengakui hal yang sama. Entah sejak kapan, yang pasti sejak berada di Pondok Ustadz Yusuf, dia telah merasakan getar-getar asmara saat pertama kali mata mereka bersitatap.
Perasaannya membuncah penuh kebahagiaan, hatinya bermekaran, tetapi ada cemas yang juga mendera sudut hatinya.
__ADS_1
Dia takut kejadian itu terulang lagi?
Takut ditinggalkan karena begitu buruk.
“Jika Mas Akram serius, datanglah pada orang tuaku dan katakan niat baiknya.” Amara menyambut dengan senyum, menunduk untuk menyeka sudut matanya yang basah.
“Benarkah? Bagaimana jika aku ditolak?” tanya Akram dengan gugup. Namun, sebuah senyum mengembang di bibirnya.
Cintanya terbalas.
“Jika Mas Akram merasa pantas, baik dan gak kekurangan apa pun, kamu gak akan ragu untuk mendatangi kedua orang tuaku.” Amara segera mengakhiri pembicaraan, dia pamit lebih dulu karena harus kembali ke kantor.
Senyumnya mengembang sempurna saat kakinya melangkah, sesekali dia menoleh menatap Akram yang masih berdiri di tempatnya.
__ADS_1
“Allah, inikah jodoh yang telah Engkau tentukan untukku?”
To Be Continue ....