Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Pelajaran hidup


__ADS_3

Amara duduk bersama Umi Rahma setelah menyelesaikan pelajaran malam. Dia pamit kembali ke kamar sebentar untuk mengambil sesuatu. Lima menit kemudian dia kembali dan membawa paper bag dengan logo toko pakaian. Dia menyerahkannya pada Umi Rahma sebagai hadiah.


“Ini berlebihan, Nak Mara.” Umi Rahma menggelengkan kepala.


“Aku akan sangat bahagia jika umi gak menolaknya. Itu pilihanku sendiri, Umi.” Amara menatap wanita paruh baya yang sudah seperti ibunya sendiri.


“Terima kasih, Nak. Ini cantik sekali. Mungkin umi akan memakainya di hari pernikahanmu kelak.” Sambil tersenyum haru.


Amara tertawa pelan. “Allah ... umi sudah memikirkannya.”


“Hari itu pasti akan datang, Nak.”

__ADS_1


“Untuk saat ini aku belum memikirkannya. Mungkin ... entahlah, semoga Allah segera dekatkan jodoh untukku jika memang waktunya telah tiba.” Amara tersenyum dengan mata yang menerawang lurus ke depan. Memang untuk saat ini dia belum fokus atau memikirkan tentang pernikahan. Dia masih menyembuhkan luka hatinya yang belum sepenuhnya mengering.


Amara masih mencoba terus merelakan setiap apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Dia tidak mau memupuk rasa sakitnya terus menerus, insya Allah dia terus belajar untuk benar-benar mengikhlaskan semuanya.


Setiap kenangan dan rasa sakit datang, Amara akan beristighfar dan mengadu kepada Allah untuk terus memohon agar menghapus perasaan yang masih bercokol di hatinya.


“Setiap manusia yang lahir di bumi diciptakan berpasang-pasangan. Gak perlu risau, jodoh yang terbaik sudah Allah persiapkan. Jangan lupa berdoa dan berikhtiar,” tutur Umi Rahma. “Jodoh itu tidak akan tertukar. Allah akan mendekatkan jodoh bagi orang-orang yang saleh yang selalu dekat dengan Sang Pencipta.”


Amara mengangguk. “Aku hanya perlu menyerahkan semuanya pada Allah. Jika waktunya telah tiba bahagia pasti akan didapatkan. Benar begitu, kan?”


“Kenapa hikmah harus didapatkan dari keburukan dulu, Umi?”

__ADS_1


“Gak selalu didapatkan dari keburukan, Mara. Hikmah adalah suatu proses panjang yang telah dilewati. Melewati fase ini juga tidak mudah, banyak jalan terjal yang harus dilalui, tapi itu menjadikannya pelajaran berharga dalam hidup. Setiap manusia berproses untuk menjadi lebih baik. Seperti firman-Nya, ‘Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.’ Surah Al-Baqarah ayat 269.”


Allah selalu memberikan ujian kepada manusia untuk menaikkan tingkat ketaqwaan. Kalau bisa dibilang, ini seperti ujian kenaikan kelas. Semakin sulit ujiannya, level atau tingkatan derajat yang didapatkan akan semakin tinggi.


Salah satu ujian dari Allah untuk menaikkan derajat ketaqwaan manusia adalah dengan ditimpakan musibah atau cobaan. Dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami memberikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”


“Semoga ujian dan cobaan yang telah menempa kita menggugurkan dosa-dosa kita.”


“Aamiin.”


Amara mengusap air mata yang meluncur membasahi pipinya. Semakin dia mengenal Tuhan, semakin dia terpesona dengan segala hal yang terjadi atas kehendak-Nya.

__ADS_1


Allah maha baik atas segala nikmat yang telah diberikan untuk setiap hamba-Nya.


To Be Continue ....


__ADS_2