Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Teman lama


__ADS_3

“Amara!”


Panggilan dari arah belakang membuat Amara menoleh. Dilihatnya sosok mantan tunangannya bersama dengan seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda mendekat ke arahnya.


“Sedang apa kamu di sini, Mara?”


Amara tak menjawab, dia hanya menatap kedua orang itu dengan tatapan yang tak seramah dulu. Namun, demi rasa hormat yang tetap mengakar dalam dirinya, dia menunduk untuk memberi salam pada Dahlia—ibunda Haris.


“Maafkan ibu,” bisik wanita paruh baya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


“Anda tidak perlu minta maaf, Bu. Gak ada yang salah di antara kita, semuanya sudah takdir dan aku gak menyesal,” jawab Amara dengan panggilan yang sangat formal seperti dengan orang asing.


“Andai ibu gak mendesak—”


Amara menggelengkan kepala. Dia tidak mau membahas apa pun yang telah terjadi. Karena baginya itu hanya masa lalu dan tidak akan bisa diubah. Lagipula Amara tidak menyesal, sebab dengan itu dia bisa bertemu dengan Akram, pria yang kini menjadi teman hidupnya.


“Semua yang sudah terjadi biarlah menjadi masa lalu. Saya ataupun Mas Haris sudah sama-sama memiliki keluarga, rasanya gak pantas jika Anda masih mengungkit hal tersebut.”


Dahlia mengangguk dengan mata yang basah. Dia mendongak untuk menatap mata putranya, masih terlihat ada cinta di sana. Sungguh, dia merasa berdosa karena telah memisahkan dua anak manusia yang saling mencintai karena keegoisannya.


“Anda sedang apa di sini?” tanya Amara basa-basi. Dia agaknya sedikit terkejut melihat Dahlia duduk di kursi roda dengan mata sayu seperti kehilangan semangat.


“Ibu jatuh di kamar mandi dan mengalami stroke ringan. Kakinya tak bisa digerakkan. Sekarang sedang menjalani terapi,” jawab Haris menjelaskan.


“Semoga segera diberikan kesembuhan dan diangkat segala penyakitnya,” kata Amara dengan tulus.


Karena tak ingin berlama-lama berada di sana Amara segera pamit pergi karena khawatir ibu mertuanya menunggu lama.


Sesampainya di depan ruangan Azizah, dia diminta menunggu karena masih ada satu pasien yang tengah berada di dalam ruangan.


Hampir sepuluh menit menunggu, pasien yang ada di sana tak kunjung keluar, Amara memutuskan mengunjungi Fatimah.


Sesampainya di depan kamar rawat, Amara menatap sungkan karena cukup ramai dengan kehadiran keluarga Fatimah yang datang dari Kediri.


“Mara, masuk saja. Ini keluargaku,” kata Fatimah mendekatinya yang masih terpaku di gawang pintu.


“Ah, enggak Mbak. Tadi aku hanya mau mampir,” sahut Amara dengan senyum tipis.


“Silakan masuk, Nak. Gak apa-apa, kami gak gigit kok,” sahut wanita paruh baya yang tersenyum teduh ke arahnya.


Amara masuk dan menyalami dua wanita paruh baya yang ternyata salah satunya adalah ibunda Fatimah.

__ADS_1


“Saya murid Ning Fatimah di pondok Ustadz Yusuf. Nama saya Amara,” ujar Amara memperkenalkan diri.


“Fatimah sering menceritakan tentang Mara. Kamu cantik sekali, Nak,” puji Winata—ibunda Fatimah.


“Ibu bisa saja. Ning Fatimah jauh lebih cantik, bukan hanya parasnya, cantik pula hatinya. Saya senang sekali bisa kenal dan menjadi temannya,” balas Amara sungguh-sungguh, membuat sedikit hati Fatimah tercubit.


“Keadaan abah sudah membaik, besok kami akan pulang ke Kediri sambil menunggu operasi dilakukan. Alhamdulillah abah sudah menemukan donor jantung yang cocok. Ini semua berkat Bu Azizah,” kata Fatimah.


“Alhamdulillah, ikut senang mendengarnya, Mbak. Semoga segala sesuatunya dilancarkan. Besok sebelum pulang mampir ya ke rumahku,” kata Amara.


“Aku gak janji, Mara. Besok kuberikan kabar jika memang bisa,” balas Fatimah.


“Gak apa-apa, besok kita mampir dulu ke rumah Nak Mara. Sekalian abah ingin berterima kasih dengan Bu Azizah yang telah membantu mencarikan donor jantung,” kata Zainudin—ayah Fatimah, pemilik pondok pesantren di Kota Kediri.


“Benar kata abahmu, Fatimah. Besok kita bisa berkunjung sebentar sebelum pulang,” timpal Winata yang akhirnya dijawab anggukan pasrah oleh putrinya.


Amara mengangguk dan pamit kepada mereka semua karena ponselnya sudah berdering beberapa kali menampilkan nama mertuanya.





Akram yang kebetulan baru keluar kamar mengernyit heran. Siapa tamu yang datang di pagi hari, apa mungkin mertuanya? Pikirnya menebak.


“Bu Fatimah dan keluarga. Mau bertemu Bu Mara dan Bu Azizah.”


“Jamu mereka dengan baik. Aku akan bangunkan istriku dulu. Jangan lupa panggilkan mama dulu di kamar,” kata Akram, kembali ke kamarnya dan membangunkan sang istri yang masih bergelung dalam selimut.


Kebetulan ini hari libur, Akram sedang tidak ke kantor. Itulah sebabnya pukul tujuh semua orang masih di dalam kamar menikmati empuknya ranjang dan hangatnya selimut.


Perlahan Akram menyentuh bahu sang istri, memberikan banyak kecupan di wajahnya sambil berbisik, “Yang, bangun. Ada tamu.”


“Siapa?” gumam Amara dengan suara serak, matanya masih tertutup rapat.


“Ning Fatimah sama keluarga. Nyari kamu sama mama.”


Seketika itu juga Amara langsung membuka mata dan bangun. “Jam berapa sekarang?” Dia ingat jika dirinya sendiri yang mengundang mereka untuk datang berkunjung.


“Jam tujuh.”

__ADS_1


“Mama sudah tahu belum?”


“Mama juga masih di kamar tadi, sudah dikasih tahu sama Mbak Tiara kayaknya. Gak perlu mandi, kasihan tamunya nunggu lama.”


Amara mengangguk. “Mas temui mereka dulu. Aku mau bersiap sebentar.”


Akram mengangguk dan segera menuju ke ruang tamu sambil mengucapkan salam. Dia tersenyum dan mengangguk sopan, memberitahu jika sang istri dan ibunya masih bersiap.


“Maafkan kami datang pagi-pagi sekali, Mas Akram. Kami hanya berniat mampir karena akan kembali ke Kediri.” Fatimah menunduk dengan hati yang berdebar tak karuan. Kedua tangannya saling bertaut dengan keringat dingin.


“Gak apa-apa, Ning. Jangan sungkan. Silakan diminum dan dinikmati dulu.”


“Maaf jika kedatangan kami merepotkan,” kata Winata dengan segan.


“Gak merepotkan sama sekali, Umi. Abah bagaimana keadaannya, wah sudah lebih sehat sepertinya. Alhamdulillah,” ujar Akram dengan sangat ramah dan cepat berbaur, padahal mereka baru bertemu sekali.


“Alhamdulillah Allah masih kasih umur panjang. Semoga diberikan kesehatan karena ingin lihat Fatimah menikah.”


“Abah,” gumam Fatimah dengan menunduk semakin dalam.


Obrolan mereka terhenti saat Amara dan kedua orang tuanya datang sembari mengucapkan salam.


Untuk sesaat, Ahmad Arsalan dan Zainudin tampak terpaku satu sama lain. Ada keterkejutan yang tergambar jelas dari sorot mata keduanya.


Ahmad Arsalan segera menguasai diri dan tersenyum ramah ke arah tamunya. Namun, saat tatapannya beradu dengan Zainudin, ada sedikit ketegangan yang tergambar di sana.


Saat Amara ingin memperkenalkan mertuanya, Zainudin segera menyela, “Kami sudah saling mengenal. Bukan begitu Pak Arsalan?”


Ahmad Arsalan hanya mengangguk dan menjawab dingin, “Ya, teman lama.”


Zainudin segera menyampaikan niat dan maksud kedatangan mereka. Ingin mengucapkan terima kasih kepada Azizah yang telah ikut membantu mencari donor jantung. Andai menunggu, mungkin masih perlu waktu yang lama lagi.


Setelah menyampaikan maksudnya, Zainudin segera ingin pamit, tetapi Azizah menahannya untuk sarapan bersama. Tidak mungkin dia membiarkan tamunya yang akan perjalanan jauh dengan perut kosong.


Awalnya baik Winata maupun Zainudin menolak karena segan, tetapi akhirnya mengalah saat pemilik rumah sudah repot-repot menyiapkan semuanya.


Sementara sedari tadi Fatimah hanya mengamati betapa bahagianya hidup Amara. Memiliki suami yang sangat mencintai dan mertua yang baik hati. Itu adalah impian semua wanita.


Ada sedikit rasa sakit yang masih menggerogoti hatinya. Mengapa dia masih saja iri akan apa yang didapatkan oleh Amara?


Mengapa harus Amara?

__ADS_1


Mengapa bukan dirinya?


To Be Continue ....


__ADS_2