Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Tidak nyaman


__ADS_3

“Bos, jangan lupa kabari Ibu Negara,” pesan Hakim saat mereka baru memasuki mobil jemputan, fasilitas dari hotel tempat mereka menginap.


Akram tanpa menjawab, segera mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya. Dia menghubungi sang istri, tetapi tak dijawab. Kemungkinan wanita hamil itu sedang tidur siang seperti kebiasaannya. Akhirnya dia meninggalkan pesan singkat.


Sesampainya di hotel, Akram segera merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuk. Menempuh perjalanan udara kurang lebih dua setengah jam membuatnya kelelahan. Apalagi perjalanan panjang menuju hotel tempat menginap. Ah ... Bandung sama halnya dengan ibukota yang identik dengan kemacetan lalu lintas.


Akram terbangun saat mendengar suara bel kamarnya berbunyi terus menerus. Kakinya melangkah menuju pintu dan dilihatnya Hakim telah rapi kembali.


“Kok sudah siap?”


“Ini sudah jam tujuh malam. Pak Galih dan Bu Claudia sudah menunggu di restoran hotel,” jawab Hakim.


Akram terbelalak karena terkejut. Dia tak sadar tidur selama itu, bahkan sampai melewatkan salat ashar dan magrib.


“Kamu turun saja dulu, aku nanti menyusul. Mau mandi dan salat sebentar,” jawabnya. Akram langsung bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, setelahnya memilih salat lebih dulu dan turun dengan sedikit tergesa.


“Selamat malam Pak Galih, Bu Claudia,” sapanya, “maaf saya terlambat.” Akram menatap keduanya sungkan.


“Gak apa-apa, Pak Akram. Kami mengerti,” sahut pria paruh baya itu mempersilakan duduk.

__ADS_1


Akram menatap kliennya. Mereka sudah cukup lama kenal karena pernah terlibat proyek yang cukup besar.


“Begini Pak Akram, saya sedikit ada kendala dan ingin merevisi beberapa bagian. Sebelumnya terima kasih atas kesediaan Anda datang dari jauh.” Claudia tersenyum merekah. Tatapannya penuh kekaguman saat menatap Akram.


“Bukan masalah, Bu Claudia. Silakan jelaskan bagian mana yang ingin Anda revisi. Besok saya akan survey ke lokasi dan membuat detail gambarnya lagi.”


Wanita dengan kemeja berwarna putih itu mengangguk dan mulai menjelaskan.


Akram mengalihkan pandangan saat wanita itu mendekat. Belahan dadanya menyembul karena dua kancing bagian atasnya dibiarkan terbuka.


“Maaf, Bu Claudia. Bisakah Anda memberi jarak lebih? Jujur saya kurang nyaman,” kata Akram berusaha mundur dan memberi jarak.


“Ada yang salah Pak Akram?” tanya Claudia dengan memanyunkan bibirnya.


Dengan wajah kesal, Claudia mundur dan memberi jarak. Dia kembali menjelaskan dengan suara yang berat dan terdengar terpaksa.


Setelah menjelaskan detail yang diinginkan, mereka menikmati makan malam bersama.


“Terima kasih atas waktu Anda, Pak Akram. Maaf terlalu merepotkan. Putri saya memang banyak maunya,” ucapnya dengan tawa pelan.

__ADS_1


Setelah mengakhiri pertemuan, Akram dan Hakim masih berada di coffe shop. Menikmati secangkir kopi yang menguarkan aroma harum yang menyapa indera penciuman.


“Bos, Anda merasa ada yang aneh gak dengan sikap Bu Claudia?” Hakim berpendapat.


“Maksudmu?”


“Sepertinya dia menyukai Anda.”


Akram terkekeh. “Wanita memang menjadi godaan terbesar pria. Bisa dalam bentuk dan wujud apa pun. Itu sebabnya di antara pria dan wanita harus memiliki batasan. Bukan karena kita jaim atau sok alim, tapi mencegah timbulnya sesuatu yang tanpa disadari bisa muncul. Sesuatu yang gak halal itu selalu menyenangkan dan melenakan. Setan itu bisa menyesatkan jika ada kesempatan, walau hanya sekecil lubang semut.”


Benar sekali.


Itu sebabnya bagi pria maupun wanita yang telah memiliki pasangan tak dianjurkan memiliki pertemanan lebih dengan lawan jenis. Apa pun alasannya.


Berawal dari teman yang penuh perhatian, akhirnya ada rasa tertarik. Setan dengan senang hati akan selalu mengobarkan bara api agar di dalam hati timbul hawa nafsu menginginkan lebih. Jika sudah terjadi seperti itu, perselingkuhan tak bisa dielakkan.


“Bos yakin bisa setia dengan Ibu Negara?”


Akram menoleh dan menatap sang asisten dalam. Bibirnya tertarik membentuk senyum tipis. “Insya Allah. Semoga Allah jauhkan hal-hal buruk dari pernikahan kami. Karena pada dasarnya main hati itu berawal dari diri sendiri yang gak pernah bersyukur dengan pasangan. Selalu melihat kekurangan, padahal sejatinya semua manusia, kan gak ada yang sempurna. Hanya gak menyadari kekurangan diri sendiri saja.”

__ADS_1


Setelah menghabiskan kopinya, Akram memilih naik ke kamar. Dia rindu ingin menghubungi istrinya.


To Be Continue ....


__ADS_2