
Hampir dua minggu lamanya Amara jarang bertemu dengan Akram. Kesibukan pria itu membuatnya harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang saat Amara sudah terlelap.
Pagi ini Akram sepertinya tak akan berangkat ke kantor. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan, tetapi dia masih betah berada di ruang olahraga.
“Lho Mara, ibu lihat mobil Akram masih ada di garasi. Dia gak ke kantor?” tanya Azizah yang baru saja pulang.
“Kayaknya enggak, Bu. Mas Akram masih di ruang olahraga,” sahut Amara.
“Ibu sudah dapat nomor antrean. Ini kemungkinan agak siangan, palingan jam satu atau dua.”
“Gak apa-apa, Bu. Nanti aku bisa minta antar sopir. Ibu istirahat saja.”
“Nanti ibu antar. Sekarang biar ibu tidur dulu, ya. Matanya sudah gak tahan,” ujar Azizah sambil mengusap matanya yang perih.
“Ada masalah, Bu?”
“Biasalah. Namanya juga rumah sakit, isinya ya masalah semua. Kalau gak bermasalah gak mungkin datangnya ke rumah sakit,” jawab Azizah dengan tawa pelan.
Setelah kepergian mertuanya, Amara segera menuju meja makan untuk sarapan. Meski hubungannya dengan Akram sudah membaik, tetapi tak membuat kebekuan di hatinya mencair begitu saja. Sebelum ada bukti kongkrit yang menyatakan jika Ibra benar-benar bukan putra Akram.
Meski hubungan mereka tak sedekat dulu, tetapi Amara tetap melakukan kewajibannya untuk melayani suaminya.
Selepas Amara sarapan, Akram datang dengan napas tersengal. Tubuhnya tampak basah oleh jejak keringat.
“Mau sarapan sekarang, Mas?”
“Nanti saja. Susu hamil sudah diminum?”
“Sudah. Kamu gak ke kantor?”
”Libur. Ada urusan lain yang lebih penting.”
__ADS_1
Amara menoleh dan menatap intens suamimya. “Boleh tahu apa itu, Mas?”
“Lihat saja nanti. Kamu akan ikut. Sekalian periksa kandungan.”
Amara memilih mengangguk meski heran. Urusan apa yang sampai melibatkan dirinya?
Matahari mulai naik ke peraduan saat mobil yang dikendarai Akram tiba di rumah sakit.
“Mas, jadwal nanti agak siangan. Ini masih terlalu pagi,” kata Amara kebingungan.
“Turun saja, Sayang. Nanti aku jelaskan.”
Keduanya memasuki rumah sakit. Namun, langkah Akram tidak terarah menuju poli kandungan. Meski tanya menyeruak di kepala, dia tetap memilih diam sampai akhirnya tiba di poli anak. Keningnya semakin mengerut dalam.
Poli anak? Jangan-jangan ....
Amara menggeleng tak ingin berburuk sangka dulu.
Amara menghentikan langkah kakinya. “Mas?”
“Kenapa? Lelah? Duduk dulu kalau begitu. Sebentar lagi sampai. Ada di ruangan ujung sana.” Tunjuk Akram.
Keduanya kembali berjalan dengan pelan dan sampai di depan ruangan yang dituju. Akram mendorong pintu, mengucap salam dan mengenggam tangannya untuk masuk.
Bola mata Amara melebar sempurna saat melihat pemandangan di depan mata.
Ibra ... anak itu terbujur di ranjang pesakitan dengan berbagai alat bantu yang menempel di tubuh. Wajahnya tampak pucat dengan bibir kering yang terlihat jelas. Di sampingnya ada Zivanna dan Wahyu Nugroho menatap dengan sendu.
“Mas, Mbak. Silakan duduk,” ucapnya dengan suara serak.
Akram sama sekali tak melepas genggaman tangannya. Dia membawa Amara duduk di sofa yang ada di sudut ruangan.
__ADS_1
Zivanna dan Wahyu mendekat dan duduk di depan sepasang suami istri itu.
Amara benar-benar seperti orang bodoh yang tidak tahu apa pun. Dia sama sekali tak mengerti keadaan apa yang telah terjadi. Ingin tanya itu terlontar, tetapi dia tak sampai hati membuat keributan karena tak bisa mengendalikan diri.
“Maafkan aku, Mas Akram, Mbak Amara,” ujar Zivanna membuat Amara mengangkat wajahnya.
“Maaf jika karenaku hubungan kalian menjadi berantakan. Aku sama sekali tak bermaksud melakukannya.” Zivanna terisak pelan.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Mbak?” tanya Amara pelan.
“Jika bungkamku membuat persepsi orang-orang seolah membenarkan jika Ibra adalah putra Mas Akram. Itu sama sekali gak benar, Mbak. Ibra bukan anak Mas Akram dan gak ada hubungan apa pun dengannya.”
Dada Amara berdebar tak karuan. Benarkah? Mengapa tiba-tiba mau mengaku jika selama ini Akram berkata jika Zivanna selalu memilih bungkam.
“Lalu bagaimana, maaf, Mas Akram bisa ada di kamarmu dalam keadaan polos tanpa busana?” tanya Amara penasaran.
“Itu semua ulahnya, Mbak. Dia ingin melempar kesalahan itu pada Mas Akram. Sengaja menjebaknya agar tidak ada yang mencuriganya. Selama ini Mas Akram dikenal paling pendiam di antara teman-temannya, mungkin dia berpikir jika Mas Akram akan percaya begitu saja,” jelas Zivanna dengan napas tersengal.
“Mas Akram bilang saat dia bangun kamu gak ada di kamar. Ke mana kamu saat itu?”
“Sejak awal aku memang gak ada di kamar, Mbak. Tapi melihat Mas Akram ada di kamarku dengan keadaan seperti itu, jelas orang-orang langsung menuduhnya, termasuk kakakku. Aku gak pernah angkat suara tentang hal itu karena aku anggap itu adalah aib yang harus ditutup rapat, tapi jika karenaku kehidupan kalian menuai akibatnya. Aku sungguh mohon maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Zivanna lirih dengan wajah penuh penyesalan.
“Tapi test DNA itu?”
“Itu juga ulahnya, Mbak. Dia ingin memastikan Mas Akram percaya bahwa Ibra memang benar anaknya.”
Tampak wajah Wahyu Nugroho amat keruh. Pria itu meminta maaf pada Akram dengan sungguh-sungguh. Dia bahkan mengatakan menyesal karena tak mendengar penjelasannya dan justru memusuhinya.
Akram pun maklum. Dia sebagai seorang kakak pasti akan melakukan hal yang sama untuk melindungi adiknya.
“Dia yang kamu maksud itu siapa sebenarnya, Mbak?”
__ADS_1
To Be Continue ....