
Amara baru saja membaca dokumen dari direktur marketing terkait undangan salah satu klien dari Jakarta yang berniat mencari lahan dan membangun apartemen dan sebuah penthouse mewah.
Dia menyetujuinya dan meminta mereka untuk hadir dan memaparkan tempat mana yang strategis yang mungkin menarik minat klien.
“Ini kesempatan besar, Bu. Pak Wahyu Nugroho bisa menjadi investor emas andai kita bisa mendapatkan kontraknya,” kata Naura.
“Aku gak tahu siapa dia dan bagaimana sepak terjangnya, tapi berusahalah untuk mendapatkan kontrak ini,” kata Amara tegas. Dia yang belum lama bergelut di dunia bisnis tentu hampir tak pernah mendengar nama itu.
“Konon katanya dia masih muda dan cukup tampan, Bu.”
Amara mendongak menatap sekretarisnya sinis. Apa hubungannya? Pikirnya malas.
“Lakukan apa pun yang kau inginkan, Mbak!” Dia memberikan kode untuk wanita itu pergi dari ruangannya.
Jam makan siang Naura ikut pergi bersama dengan direktur marketing. Sementara Amara yang cukup senggang dan tidak begitu memiliki pekerjaan memilih keluar setelah meminta izin pada sang ayah.
Tujuannya adalah pusat perbelanjaan. Dia butuh menyegarkan isi kepalanya yang beberapa minggu ini terganggu karena kehadiran pria yang tak terduga.
Hanif Akram Arsalan.
__ADS_1
Entah sejak kapan pria itu merenggut hatinya, mengisi ruang yang telah lama kosong tanpa dimiliki siapa pun. Berkali-kali bibirnya mengucap istighfar ketika bayangan sosok menawan itu memenuhi kepalanya, membayangkan betapa indah rupa yang dimiliki.
Sejak kepergian Haris, Amara tak pernah dekat dengan pria mana pun selain Bilal Hasby yang pernah berniat melamarnya. Namun, dari kabar yang didengar pria itu sudah menjalin hubungan dengan salah satu pianis muda berbakat, anak dari salah satu pejabat pemerintah. Terdengar selentingan kabar bahwa akan ada lamaran juga yang akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan.
Amara cukup senang mendengarnya. Setidaknya pria itu sudah bisa move on dan menggapai cinta yang lain.
Jodoh adalah misteri dan tidak ada yang bisa menebak di mana hati akan bermuara. Sedekat apa pun jaraknya, jika bukan jodoh selalu ada dinding yang membentang. Sejauh apa pun jaraknya, jika jodoh akan selalu ada jalan dan cara terbaik untuk menjadi satu dalam tujuan.
“Boleh duduk di sini?” tanya seseorang membuyarkan lamunan Amara. Dia menoleh ke arah sumber suara dan menemukan seorang wanita paruh baya tersenyum menunjuk bangku sebelahnya.
“Silakan, Bu,” jawab Amara dengan senyum yang menunjukkan keramahan.
“Sendirian saja, Nak?” tanya wanita paruh baya itu, yang wajahnya tak begitu asing dalam ingatan.
Amara hanya mengangguk sambil mencoba membongkar memori ingatannya tentang wanita paruh baya di depannya.
Wajahnya, senyumnya, semuanya seperti tak begitu asing di dalam pandangan. Seperti pernah bertemu sebelumnya, tetapi entah kapan. Ingin bertanya, tetapi Amara takut salah orang.
“Aku sudah cari muter-muter dan telpon gak diangkat. Ternyata malah duduk di sini,” kata seseorang membuat Amara melebarkan matanya karena terkejut. Pria yang berdiri di hadapannya saat ini semakin mendekat dan langsung mencium punggung tangan wanita paruh baya di sebelahnya. “Mama bikin aku khawatir saja.”
__ADS_1
“Mama?” gumam Amara yang mampu terdengar di telinga keduanya.
“Kamu kenal anak saya, Nak?” tanya wanita paruh baya itu kembali menyadarkan Amara.
“Ma, kenalkan ini Amara. Dia yang pernah kita temui dulu di Pondok Ustadz Yusuf.” Akram memperkenalkan keduanya.
“Pantas saja wajah ibu seperti gak asing. Ternyata ibunya Mas Akram.” Amara terkekeh, mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan hormat.
“Kalian sudah saling kenal, ya?” tanya Nufa Azizah dengan mata memicing.
“Kami gak sengaja bertemu beberapa kali, Bu,” jawab Amara sambil menunduk.
“Mama sudah makan? Aku lapar,” kata Akram mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah ... ayo. Nak Mara ikut sekalian ya, ayo makan siang bersama.”
Amara menggeleng dan menolaknya karena segan, tetapi Akram sedikit memaksa dan meyakinkan bahwa ibunya sama-sama makan nasi. Mau tak mau dia jadi terkekeh karena candaan receh tersebut. Dia akhirnya pasrah saat wanita paruh baya itu menggandeng tangannya.
Sementara Akram harus mengikuti dua wanita itu sambil menatap ibunya kesal karena memonopoli Amara.
__ADS_1
To Be Continue ....