Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Masa Depan


__ADS_3

Setelah mendaptkan kabar dari Nadira, Liam memberitahukan untuk memulai rapat 10 menit lagi. Ini kali pertama Nadira terlambat dalam rapat dan menunjukan ketidak profesionalannya, namun semuanya memaklumi sebab ini pertama kali di lakukan Nadira.


Arez melambaikan tangannya kepada seseorang yang muncul dari arah pintu, mereka pikir itu adalah Nadira, ternyata dia adalah Bagas, yang memang juga bagian dari rapat hari itu.


"Apa kabar? Nampaknya malam kalian sangat panjang." Bisik Arez seraya memeluk bagas.


Bagas menanggapi dengan senyumnya  juga pukulan pelan di bahu Arez. Ia sedikit malu dijadikan guyonan oleh Arez. Namun itu hal wajar, karena Arez juga pernah mengalami masa-masa itu.


"Anda tidak bersama bu Dira?" Tanya Liam sebab sudah sepuluh menit ia menunggu, namun ternyata yang datang hanya bagas seorang.


"Sebentar lagi turun...."


"Biarlah pak Liam, kita menikmati minuman kita  dulu." Lanjut Arez meminta Liam untuk lebih santai dalam rapat kali itu, Selain itu Arez juga ingin sedikit mengobrol santai dengan Bagas sebelum memulai rapat.


Liam mengagguk atas semua yang di ucapkan Arez, karena posisi Arez disana adalah bosnya, sementara perwakilan pihak TBL hanya diam dan menunggu dengan sedikt kesal, karena hari itu banyak pekerjaan yang sudah menunggu, terlebihlagi untuk tristan.


Tak begitu lama dari kedatangan  Bagas, nadira pun datang, dan segera meminta maaf kepada semuanya karena sudah di buat menunggu.


"Saya tidak mempermasalahkannya, saya maklum, lagi pula ini memang waktunyya kalian berbulan madu, hanya saja pekerjaan yang tidak mau mengerti." Balas Arez mempersilahkan Nadira untuk duduk.


Nadira merasa sedikit malu, karena ucapan Arez yang sangat jujur. ia kemudian melirik rekan bisnisnya yang lain, sraya menggukan kepalanya. Syukurnya tak ada tanggapan berlebih dari TBL mengenai keterlambatannya.


Juga Liam, yang sedari tadi seperti menghindari tatapannya. Karena ia lebih fokus mengeluarkan materi rapatnya.


Sepanjang berjalannya rapat, Nadira berkali-kali membenarkan syal yang melilit di lehernya, ia khawatir bekas merah itu terlihat.

__ADS_1


Rapatpun selesai, Nadira dan Bagas kemudian pamit bersama Arez, meninggalkan Liam juga kedua shabatnya. Karena masih ada yang akan mereka bahas bersama.


Nampaknya ketidaknyamanan Nadira akan syal yang dikenakannya, terlihat oleh Boy juga tristan, dan itu menjadi topik obrolan sepanjang perjalanan mereka, sampai malam panas Nadira juga Bagas tak luput dari obrolan mereka.


"Bisa tidak jangan turut campur urusan mereka." uacp liam yang merasa gerah dengan obrolan kedua sahabatnya.


"No, kami hanya membicarakan  tentang syal yang menutupi leher bu Dira. Kamu pasti tahu apa yang di tutupinya?" Ucap bagas mulai memacing kekesalan Liam. ia sengaja melakukan itu, karena shabatnya selalu membela wanita yang telah menyakitinya. ia ingin sahabtnya sadar bahwa wanitanya sudah bersuami dan dia tidak memilki kesmpatan. karena masih ada wanita di luar sana, yang jauh lebih cantik juga pastinya baik.


Liam memegang setir dengan keras, berusaha tetap diam tak membalas ucapan dari tristan. Ia tahu bahkan mengerti, karena ia bukan anak kecil. ia sangat paham situasinya, ia juga tahu mengapa sampai Nadira datang terlambat, tapi semua itu tidak perlu dijabarkan.


Seketika perjalanan hening, tristan juga boy juga tak lagi membicarakan Nadira, mereka hanya sibuk dengan ponsel masing--masing.


                                                            ***************************************


"Bli, sepertinya kita tidak boleh menunda untuk memiliki anak. aku ingat saat kamu berinteraksi dengan anak kecil, pada saat itu aku membayangkan kalau itu adalah anak kita." Ucap nadira mengingat saat bagas bertemu dengan anak mantan kekasinya. Entah dari mana ide tentang anak itu, Nadira merasa selama ini hidupnya hanya mengenai pekerjaan, ia hanya ingin sesuatu yang lain. ditambah lagi Bagas yang terlihat sangat senang dengan anak kecil.


Bagas terkejut karena tiba-tiba Nadira membicarakan tentang seorang anak yang tidak pernah terbayangkan olehnya, ia memang sangat menyukai anak kecil, tapi memiliki anak sendiri ia pun belum memikirkannya.


"Bli, kamu kok diam saja?" tanya Nadira mendongkakn wajahnya.


Bagas kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya, " Ayo kita punya anak, tapi setidaknya kita harus mempersiapkan diri dulu. Aku sama sekali Nol tentang ini." Balas Bagas.


Nadira mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Bagas, Karena semua orang tua pasti awalnya Nol, tidak mengerti apapun dan itu hal wajar, dan bisa belajar selama prosesnya.


"Maksud kamu apa bli? kamu ingin menundanya dulu?" Nadira melepaskan sandarannya, dan berbalik menatap tajam kearah suaminya. Ia sedikit kecewa dengan jawaban yang Bagas berikan. Karena sangat berbeda dengan keinginannya.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, aku mau sama seperti kamu sayang, tapi kita tidak perlu memaksakannnya, perlahan saja, oke sayang." Bagas menarik nadira kedalam pelukannya, ia tak ingin istrinya berpikiran bahwa ia tak ingin memilki anak bersamanya. ia hanya saja belum tahu apa dirinya  siap akan hal itu.


                                                                    ********************************


Sandy datang berkunjung kerumah kakaknya bersama sang istri dengan perut yang mulai membesar. ia datang dengan tujuan hendak memperkenalkan sandra kepada seorang wanita yang merupakan kerabat jauh istrinya, untuk di kenalkan kepada Liam. Usia Liam sudah tidak muda, di saat teman-teman seusianya sudah menyebarkan undangan  dan itu membuat Sandra khawatir jika Liam akan menjadi perjaka tua. dan Sandra tak sempat mengais cucunya sendiri.


Kekhawatiran itu kini mulai mengganggu kesehariannya, di tambah kerabatnya sering memamerkan cucu mereka. rasa ingin itu sudah merasuk kedalam hatinya. Ia kemudian mencari ponselnya untuk menelphon sang anak. ia akan mengutarakan smeuanya kepada Liam, meski ini bukan kali pertama, namun sudah seharusnya ia terus memperingati Liam.


" hallo nak." Ucapnya begitu terdengar suara anaknya di sebrang telphon,


seperti biasanya Liam akan  menanyakan kabar dan keseharian sandra. Juga Liam bercerita tentang kesehariannya disana,


"Nak mama sudah tidak muda lagi, mama khawatir tidak sempat menggendong cucu?" Ucap sandra kini agak lain dari biaisanya.


"Mama jangan berkata seperti itu, hidup mama masih panjang."


"Tidak sayang, kalau kamu terus seperti ini, mama selalu kepikran nak. sampai kapan mama harus menunggu?" Tanya Sandar,  kini Sandra mulai tegas kepada masa dpan anaknya.


"Akan ada waktunya mah, tunggu saja. Aku akan memperkenalkan istri juga anakku kepada mama." Jawab Liam yang tak kalah tegas dnegan mamanya.


jawaban Liam tadi membuat Sandra terkejut, ia pikir selama ini Liam tidak membuat kemajuan, tapi ucapannya barusan mengenai istri bahkan anak, itu sudah pasti Liam memilki seseorang di sisinya.


"Baiklah nak, mama tunggu, mama yakin kamu tidak akan mengecewakan mama." Ucap mamanya mulai tenang setelah mendengar jawaban anaknya.


Liam menutup telphonnya, ia terpaksa harus berbohong demi mengatasi kegundahan hati sang mama, karena ia khawatir penyakitnya akan kambuh lagi. mengenai ucapannya, ia sendiri tidak tahu siapa istri dan anak yang ia maksud. Namun semoga itu menjadi doa untuknya.

__ADS_1


__ADS_2