Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Bab 8


__ADS_3

Berbeda dengan Dayan, kini Anita terlihat tak ingin berpisah dengan anak semata wayangnya.


"Tapi Pa, harusnya putri kita tetap di sini dan tak perlu pergi jauh meninggalkan kita" ucap Anita yang kini menatap sang putri.


"Sayang ...," panggil Dayan yang kini menatap sang istri dengan tatapan pengertian.


"Zoya, ingin mencari jati diri. Zoya harus bisa memilih apa yang diinginkan, sedangkan kita hanya melihat dan menegurnya saja jika ia salah. Percaya kan saja semuanya pada Zoya. Zoya sudah dewasa dan Zoya harus menentukan bagaimana kelak" sambung Dayan yang kini menatap sang putri yang tersenyum haru melihat bagaimana sang Papa yang memberikan pengertian.


"Baiklah jika itu menjadi keputusan kalian berdua. Jika Papa saja setuju maka mama akan ikut setuju seperti Papa" ucap Anita yang kini pasrah akan keputusan sang putri dan juga suami.


"Kapan perginya Nak?" tanya Anita yang memperhatikan Zoya.


"Lusa Ma, lusa Zoya akan pergi untuk berkerja dan akan mendaftar kuliah di universitas yang tak jauh dari tempat Zoya berkerja." ucap Zoya.


"Hmm," Anita pun hanya berdehem menanggapi ucapan Zoya.


Bukan tak ingin melihat anak sewata wayangnya sukses dan menjadi orang yang hebat, akan tetapi dirinya pun tak ingin berjauhan berpisah debgan sang putri karna baginya adanya Zoya membuatnya bahagia dan juga berwarna, akan tetapi kini sang putri akan meninggalkannya. Mau ataupun tidak ia terpaksa menerima apa yang menjadi keputusan sang putri yang juga di dukung oleh sang suami, Dayyan.


Keesokkan harinya ....


"Semuanya sudah siap Nak?" tanya Anita yang kini melihat Zoya yang saat ini sedang di suapi oleh Anita.

__ADS_1


"Sudah Pa, semua sudah Zoya masukin di tas" jawab Zoya yang juga menerima suapan dari Anita.


"Baiklah, Papa bawa semuanya ke dalam mobil ya" ucap Dayyan yang kini membawa koper milik Zoya.


"Tinggal di bawa aja Pa, pake bilang mulu" ucap Anita yang kini menatap sang suami.


"Bukan begitu Ma, takut jika Zoya ada yang meninggalkan sesuatu makanya Papa tanya."jawab Dayyan yang kini tersenyum saat melihat raut wajah sang istri yang kelihatan kesal.


"Haisss alasan saja Papa"jawab Anita dengan tangan menyendokkan makanan di piring, lalu ia suapkan kepada Zoya.


"Sudah Ma, kenyang sekali Zoya" tolak Zoya yang terlihat kenyang menerima suapan sang Mama.


"2 suapan lagi ya" ucap Anita yang menatap sang putri.


"Baiklah" jawab Zoya yang terlihat pasrah.


"Ma" ucap Dayyan yang kini telah duduk di samping sang Putri.


"Ada apa si Pa?"tanya Anita yang kini melihat sang suami yang memanggil dirinya dan duduk di samping sang putri,Zoya.


"Papa juga mau menerima suapan dari istri Papa" ucap Dayyan yang kini dengan wajah memelas menatap Anita, sang istri.

__ADS_1


"Ambil sendiri saja Pa, lagian Papa bukannya sudah sarapan?" jawab Anita yang kini masih dengan tangan yang menyuapi Zoya.


"Lihat lah putri mu sudah sangat kenyang, jangan di paksa Ma" ucap Dayyan yang memperhatikan wajah sang putri yang terlihat memelas.


Anita pun menatap wajah cantik sang putri yang terlihat memaksakan makanan yang masuk dari suapan darinya.


"Oh ya ampun sayang, maafkan Mama" ucap Anita.


"Papa si, harusnya bilang sama Mama kalau Zoya sudah kenyang" ucap Anita yang kini menatap Dayyan.


"Lah kok Papa si Ma?" jawab Dayyan yang menepuk keningnya.


"Bukannya Zoya juga sudah bilang kalau dia sudah kenyang?" sambung Dayyan yang memperhatikan sang istri, Anita.


Sedangkan Zoya hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap keduanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terkadang sesuatu yang kecil bisa membuat orang bahagia, baik itu hal yang sepele sekalipun......


...Sny......

__ADS_1


__ADS_2