Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Pengantin baru


__ADS_3

Entah pukul berapa acara itu usai, Akram sudah pamit lebih dulu membawa Amara ke kamar. Lelah dan bahagia beradu menjadi satu. Dalam nuansa remang-remang kamar pengantin yang telah disiapkan, Amara segera melepas seluruh aksesoris yang menempel pada tubuhnya. Lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang yang bertabur kelopak bunga mawar.


“Aku mandi dulu, ya.” Akram langsung masuk kamar mandi. Tak sampai sepuluh menit sudah kembali keluar dengan tubuh yang lebih segar.


Saat melangkah kembali ke kamar dia mengucap salam, “Bismillahi was salami’ala Rasulullah. Assalaamu’alaikum!”


Akram mendekat ke arah ranjang dan membangunkan Amara yang justru ketiduran.


“Kenapa, Mas? Aku capek banget, malam pertamanya boleh ditunda besok saja gak? Kakiku lemas,” kata Amara dengan suara serak.


Akram justru terkekeh dengan pikiran istrinya, gemas sekali, tangannya lembut menarik Amara untuk bangun dan menopang tubuh sang istri yang ingin kembali berbaring. “Kita salat sunah dulu,” kata Akram membuat mata Amara terbuka.


“Namanya salat sunah malam pengantin. Ayo bangun dulu. Gak mandi juga gak apa-apa, wudhu saja.”


Amara bangun dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya supaya segar.


Keduanya melakukan salat sunah dua rakaat. Usai salat Amara mencium punggung tangan suaminya dengan lembut.


Akram menyentuh ubun-ubun sang istri sambil berdoa, “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami berdua dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami berdua dalam kebaikan pula.” Akram mengusap ubun-ubun sang istri sambil meniupkan angin pelan dari bibirnya.


“Aamiin,” sahut Amara sambil membuka matanya, tersenyum ke arah suaminya.

__ADS_1


Akram mencium kening dan kedua pipi Amara, lalu menatap wajah cantik istrinya yang begitu polos tanpa riasan. Hatinya bergetar hebat saat berdekatan dengan seorang wanita yang memang halal untuknya.


“Ana uhibbuki.”


Amara mencengkeram mukena yang dipakai gugup. Saat berdekatan dengan Akram jantungnya selalu tidak aman. Seperti tengah baku hantam di dalam sana hingga terkadang membuat napasnya terasa sesak dan berat.


“Aku cinta kamu juga, Mas Akram.”





Amara tersenyum dan mengecup pipi suaminya. “Mas Akram, bangun! Waktunya subuh,” ucapnya pelan sembari meniup telinga sang suami.


Akram mengerang pelan dan membuka matanya. Menatap wajah cantik bidadari dunia yang kini telah resmi menjadi istrinya. Senyumnya mengembang begitu melihat jarak mereka yang sangat intim. “Selamat pagi, Ayang,” ucapnya sambil melabuhkan kecupan di kening istrinya.


“Lepas ih, aku mau ke kamar mandi, Mas.”


Namun, bukannya melepaskan pelukan Akram justru semakin menarik sang istri dalam dekapannya. Menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuh istrinya. Saat Akram menggesekkan wajahnya ke telinga istrinya terdengar suara kekehan dan pekikan pelan karena rasa geli yang menyergap.

__ADS_1


“Mas!” kesal Amara karena perutnya sampai kram akibat menahan tawa yang ingin dikeluarkan.


Pada akhirnya Akram melepaskan istrinya. Keduanya melakukan salat berjemaah dan menikmati pagi yang begitu indah ditemani orang terkasih.


“Bulan madu maunya ke mana?” tanya Akram mengeratkan pelukan di perut sang istri yang duduk di pangkuannya. Mereka tengah berada di balkon sambil menikmati indahnya Kota Surabaya.


“Terserah, Mas Akram saja.”


“Kamu maunya ke mana? Mau ke luar negeri gak? Negara mana yang belum kamu kunjungi?” tanya Akram beruntun.


Amara menggeleng cepat. “Mau umroh, Mas,” katanya pelan.


“Ide bagus! Kita akan umroh sama keluarga sekalian.” Akram antusias karena permintaan istrinya. Sebenarnya niat awalnya memang ingin mengajak Amara umroh, tetapi dia takut sang istri tidak mau. Biasanya pengantin baru akan bulan madu di tempat-tempat yang romantis, dia ingin Amara juga memiliki hak dalam menentukan keputusan.


“Terima kasih, Mas.”


“Apa pun untukmu bidadari duniaku.” Akram kembali melabuhkan kecupan di bahu istrinya.


Sungguh ... pesona Amara Khaira Shaza memang mengkhawatirkan.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2