
Hari berlalu, minggu terlewati dan bulan berganti tanpa terasa. Waktu benar-benar berlalu dengan cepat tanpa disadari.
Fatimah memilih tak kembali mengajar ke pondok milik Ustadz Yusuf. Salah satunya karena kondisi kesehatan kedua orang tuanya yang seringkali menurun.
Fatimah sebagai putri pemilik pondok tentu akan menggantikan tugas Abah dan Uminya ketika mereka berdua tak bisa turun langsung saat dibutuhkan.
Setelah operasi beberapa minggu yang lalu, kondisi kesehatan Zainudin memang cukup baik. Perkembangannya juga selalu membaik setiap harinya.
Beberapa hari ini Zainudin terus mengamati perkembangan sang anak gadis yang selalu terlihat murung dan seperti kehilangan sesuatu yang berarti.
Saat bertanya pada istrinya, barulah wanita yang menjadi istrinya itu menceritakan apa yang terjadi pada sang anak. Bahkan Winata memberi ide untuk menjodohkan Fatimah saja. Toh selama ini banyak lamaran yang datang untuknya dari anak-anak pemilik pondok maupun donatur di pondok.
“Fatimah, dipanggil Abahmu.” Winata masuk ke kamar sang anak dan melihatnya membaca buku di sisi ranjang.
“Ada apa, Umi?” tanya Fatimah pelan. Menutup buku yang dibaca dan segera memakai kerudungnya.
“Gak tahu, mungkin ada yang perlu dikatakan. Sudah sana,” balas Winata dengan tegas.
Sambil memikirkan gerangan apa yang membuat sang ayah memintanya datang malam-malam begini.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya dia memang sudah tidur, tetapi malam ini matanya seperti enggan terpejam.
Setelah mengetuk pintu, Fatimah melangkah masuk sambil mengucapkan salam. Zainudin duduk di sisi ranjang dan menyambutnya dengan senyum hangat.
“Abah, kenapa belum tidur?”
__ADS_1
“Belum mengantuk,” balasnya singkat.
“Ada apa Abah mencariku? Tumbenan lho ... ini sudah malam, kan bisa dibicarakan esok hari.”
Zainudin tetap mempertahankan senyum di bibirnya.
“Abah mau tanya sesuatu sama kamu.”
Fatimah mengangguk saja.
“Abah mau menjodohkan kamu dengan Ustadz Zaki jika kamu berkenan.”
Deg!
“Kamu sudah cukup umur untuk menikah. Tapi kamu sepertinya gak tertarik menjalin hubungan. Apa ada seseorang yang kamu impikan?”
Fatimah menggeleng ragu. “Kenapa tiba-tiba, Abah?”
“Abah hanya ingin melihatmu menikah. Mumpung Abah masih bisa jadi wali nikahmu.”
“Hush! Gak boleh mendahului ketentuan yang di Atas. Umur itu rahasia dan gak ada yang tahu. Bisa saja besok aku yang sudah gak bernapas,” sahut Fatimah.
Zainudin hanya terkekeh pelan. Dia menatap wajah putrinya intens dan dalam. Sorot matanya menunjukkan kesedihan walau coba ditutupi.
“Amara gak memintamu datang ke rumahnya lagi?”
__ADS_1
“Dia gak tahu kalau kemarin aku ke Surabaya. Kalau tahu ya sudah pasti dia berisik minta aku datang ke rumahnya, atau dia yang akan mengunjungi Abah di rumah sakit.” Saat menjawabnya, Fatimah tersenyum membayangkan betapa cerewetnya Amara yang ketika meminta sesuatu harus dikabulkan.
“Kamu mencintai suami Amara? Putra Pak Ahmad Arsalan? Akram namanya? Benar, begitu?” tuntut Zainudin santai, tetapi membuat Fatimah tersentak kaget.
Darimana Abah tahu?
Dada Fatimah seperti diremas kuat. Napasnya tersengal dan tubuhnya sedikit gemetar. Bukan karena takut dimarahi, hanya saja dia tak ingin sang ayah kecewa karena sikapnya.
“Jawab, Nak. Abah gak akan marah padamu.”
Fatimah menunduk dan terisak. Kepalanya mengangguk sebagai jawaban. “Maafkan aku, Abah. Maaf telah mengecewakanmu.”
Terdengar tarikan napas panjang dari Zainudin. Pria paruh baya itu menyentuh dadanya pelan, menghalau rasa nyeri yang tiba-tiba datang menembus jantung.
“Kamu mencintainya?”
Fatimah mengangguk.
“Apa harapanmu, Nak?” Pertanyaan ambigu itu membuat Fatimah menoleh bingung.
“Apa kamu mau menikah dengan pria yang kamu cinta?”
Deg!
To Be Continue ....
__ADS_1