
Selama menunggu di ruangan Nadira, Bagas memikirkan apa dari sikap dan prilakunya yang membuat calon istrinya itu marah, bahakan mendiaminya. Sudah sangat lama Bagas melihat Nadira marah lagi.
"Aku minta maaf atas sikap ku yang berlebihan." Ucap Bagas tetap tenang menghadapi kemarahan Nadira.
Nadira yang belum siap dengan semua penjelasan Bagas, memilih untuk kembali meninggalkan ruanganya.
Namun segera mungkin Bagas menghalangi, ia memeluk Nadira dari arah belakang, dan mengucapkan permintaan maafnya lagi.
Nadira terhenyak, dan membiarkan Bagas memeluknya.
"Kamu bisa marah dan meluapkanya, tapi jangan mendiami ku seperti ini, karena ini membuatku sedih." Bagi Bagas lebih baik Nadira marah seperti biasanya dari pada harus seperti ini, karena mentakitkan baginya.
"Alasan apa yang akan kamu buat?" Tanya Nadira siap untuk mendengarkan Bagas, karena sudah terlalu lama Nadira mendiamkan Bagas.
"Aku tidak tahu pertemuanku dengan Kinan tadi membuat kamu tidak nyaman, Karena memang kami baru bertemu kembali sejak hari itu."
Kinan adalah mantan kekasih Bagas, mereka terpaksa putus karena Kinan ternyata mengandung anak orang lain. dan sejak hari mereka putus, Bagas tidak lagi bertemu dengan Kinan, sampai hari ini, Kinan membawa anak yang dulu di kandungannya.
"Kamu bahakan mengundangnya kepernikahan kita, tanpa memberitahuku. Atau kamu belum melupakannya,Atau memang kamu merindukan suara lembutnya." Ucap Nadira meluap luap. Kini Nadira mengeluarkan semua isi hatinya.
Bagas tidak tahu bahwa Nadira mengartikan pertemuan yang kebetulan tadi sejauh ini.
"Kamu salah dik. Aku sudah memberitahu bahwa aku mengundang semua teman sekolahku, dan Kinan ada di daftar undangan itu."
Sebenarnya Nadira mengerti dengan semua penjelasan dari Bagas dan seharusnya ia sudah bisa memaafkan Bagas, Namun rasanya waktunya belum pas, karena hatinya belum puasa mengeluarkan rasa kesalnya.
"Aku tidak suka kamu dekat bahakan mengobrol dengan wanita selain aku. Aku cemburu Bli." Tutur Nadira yang kemudian bergegas mengambil tas dan kunci mobilnya.
Dengan langkah cepat Nadira keluar menunggalkan ruangannya, karena kini tangannya memegangi kedua pipinya yang bersemu merah.
Bagas terdiam mencerna ucapan dari Nadira, sampai bibirnya kini menampakan giginya yang rapi. Bagas senang dengan apa yang baru saja ia dengar.
Bagas dengan berlari mencoba menyusul Nadira, dan gampir saja Bagas terlambat, karena kini ia melihat Nadira hendak masuk kedalam mobilnya.
Bagas kemudian merebut kunci mobil Nadira dan masuk kedalamnya, sementara Nadira dengan kesal terpaksa berputar menuju pintu mobil sebelahnya.
Bagas terperanjat begitu Nadira masuk dan membanting pintu mobilnya. Namun itu tak membuat Bagas kesal atau marah, justru Bagas menahan bibirnya untuk tidak tersenyum.
Nadira berusaha tidak menoleh atau melirik kearah Bagas, ia fokukan pandangannya menatap jalan dan mobil-mobil yang berjajajr. Meski kini Bagas membawanya kearah yang berbeda. Arah yang Bagas ambil bukan jalan menuju apartemen mereka.
__ADS_1
Deg...
Jantung Nadira tiba-tiba berdetak kencang, karena secara tiba-tiba Bagas menarik tangannya untuk ia genggam.
Kemudian Ia menoleh menatap Bagas yang fokus berkendara dengan hanya menggunakan sebelah tangannya.
"Ada apa ini, mengapa jantungku berdetak seperti ini, apa aku sudah jatuh hati kepada pria ini?" Tanya dalam hati.
Nadira tidak menyangka Bagas berhasil mencuri hatinya. Ia bahakan tidak pernah membayangkannya. Pria sekaku Bagas bisa membuatnya jatuh cinta.
...****************...
Undangan pernikahan Nadira sudah sampai di perusahaan TBL. Dan kini Tristan sedang membacanya. Tepatnya satu minggu lagi acaranya di selenggarakan.
Tiba-tiba saja Liam datang dan ikut beragabung. dan itu membuat Liam terkejut dan segera menutupinya.
"Apa yang lu coba sembunyikan?" Tanya Liam menatap curiga.
Dengan perlahan tristan membukanya kembali.
Liam melihat beberapa fhoto prawedding Nadira bersama Bagas yang nampak serasi.
"Lu beneran baik-baik saja?" Tanya tristan khawatir.
"Tenang aja, gue nggak akan bunuh diri." Tutur Liam dengan terkekeh.
Tristan sangat tahu Saat ini Liam sedang menyembunyikan kesedihannya. Lukanya yang dulu belum sembuh kini terluka kembali.
"Siapkan tiket dan yang lainnya, karena kita semua akan memenuhi undangan Nadira." Lanjut Liam yang kemudian beranjak meninggalkan Tristan.
"Lu serisu iam, akan menghadiri pernikahan Nadira?" Tristan tidak percaya Liam menjadi seperti ini. Karena Liam sama saja membiarkan lukanya. jika dulu dia mengobatinya dengan bekerja kali ini ia membiarkan lukanya mengering dengan sendiri, dan itu akan terasa sangat menyakitkan.
...****************...
Benar yang banyak orang katakan, mitos yang beredar sejak lama, bahwa menjelang pernikahan pasti tidak mudah.
Dan ini yang Nadira rasakan. Tapi dia bersyukur di hadapkan dengan pria sesabar Bagas, jika itu pria lain maka yang ada kejadian dengan Sandy akan terulang lagi.
Mobil yang Bagas kendarai, berhenti di bibir pantai, dan Nadira keluar dengan pandangan takjub.
__ADS_1
Rasa lelah dan masalah seolah tersapu ombak yang membasahi kakinya, selalu itu yang ia rasakan jika berhadapan dengan hamparan air dan ombak.
Berjalan perlahan, melihat jejak kakinya sendiri membuatnya senang. sampai tak terasa Bagas sudah tertinggal sangat jauh di belakangnya.
Perlahan Nadira berbalik dan melambaikan tangannya kearah Bagas,
"Aku mencintaimu Bli." Teriaknya sekuat tenaga.
Bagas samar-samar mendengar terikan Nadira, dan segera berlari mendekat.
"Aku lebih mencinati kamu dik." Balas Bagas memeluk Nadira.
Hamparan langit dan pantai menjadi saksi pernyataan cinta dari keduanya.
...****************...
Terilihat ketegangan di wajah Nadira, padahal masih ada 3 jam sebelum acara pernikahan Nadira dan Bagas dimulai.
"Santai saja." Ucap Anggun mencoba menenagkannya.
Saat ini wajah Nadira sedang di makeup oleh MUA, dan dia hanya merespon semua ucapan Anggun dengan anggukan.
"Gun, apa kayla belum datang?" Tanya Nadira lagi. karena acara hampir di mulai tapi Kayla selaku birdsmaidnya belum juga muncul.
"Kayla sudah datang, dia sedang di makeup. Kamu tenang saja, Bagas sudah memastikan semuanya berjalan dengan lancar.
"Bagas sampai turun tangan?" Tanya Nadira tidak percaya Bagas memastikan semuanya sempurna.
Bagas ingin pernikahannya sempuran, karena ini adalah pernikahan impiannya juga Nadira. Ia tidak mau ada kesalahn sedikit pun. karena kliennya kali ini dirinya sendiri.
"Kamu pasti tidak percaya, Bagas sangat ingin membuat kamu bahagia."
"Kamu memang pantas untuk bahagai Ra." Tambah Kayla yang kini bergabung dengan Nadira.
"Aku kira kamu tidak akan datang kay." Ucap Nadira menggenggam tangan sahabtnya.
"Itu tidak mungkin, hari ini penting juga untukku, bahakan aku sudah mengajukan cuti dari jauh hari." Balas Kayla, mencoba menghangatkan tangan Nadira yang dingin.
Kayla memang mengusahakan untuk hadir, karena dulu saat pernikahan Nadira yang pertama Kayla tidak hadir, bahakan kayla tidak mengetahui tentang pernikahan itu. Awalnya sempat kecewa, namun ia mengerti mengapa Nadira melakukan itu.
__ADS_1