Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Godaan pernikahan


__ADS_3

Amara sedikit terkejut melihat keberadaan calon suaminya. Pasalnya sedari tadi dia tidak melihat bahwa pria itu ada di sini. Seharusnya Amara tak terlalu terkejut dengan kehadiran Akram, sebab dia tahu calon suaminya itu juga bukan orang sembarangan.


“Siapa kamu? Gak perlu ikut campur urusan kami,” kata Haris dengan tatapan tajam seperti pisau yang menghunus.


“Diam kamu, Mas Haris!” bentak Amara penuh kemarahan.


Bukannya terpengaruh, Akram justru maju dan mengulurkan tangannya ke arah Haris disertai senyuman yang penuh arti. “Hanif Akram Arsalan, calon suami Amara,” ucapnya penuh penekanan yang seketika membuat Haris melotot tak percaya.


“Gak usah membual. Amara gak mengatakannya!” Haris memang keras kepala, dia menggeleng keras menolak percaya.


“Aku gak mengatakannya karena kamu bukan siapa-siapa yang penting bagiku dan hidupku,” sahut Amara keras membuat pandangan orang-orang menoleh ke arah mereka.


“Sudahlah, Mara. Gak perlu marah, jangan membuang energi untuk hal-hal yang gak perlu.” Akram sepertinya tidak memikirkan apa yang terjadi. Dia terlihat tetap santai dan mengajak Amara segera pergi.


Meninggalkan Haris yang menatapnya dengan tajam.


Amara masih sedikit menunjukkan kemarahan, bibirnya menggerutu kesal, tetapi Akram memintanya tak melanjutkan apa pun yang ingin dikatakan.


“Lebih baik diam jika mulutmu bicara hanya untuk mengatakan hal buruk.”


“Aku hanya kesal.”


“Ini tempat umum, jangan membuat orang lain justru berpikiran negatif dengan kedekatan kalian.”

__ADS_1


Amara menurut untuk diam. Dia duduk di satu meja yang sama dengan Akram dan asistennya yang menyapa dengan sopan.


“Kamu jangan salah paham,” kata Amara. “Dia adalah mantan calon suamiku,” cicitnya sangat pelan.


“Aku tahu!” jawab Akram santai.


Amara terkejut, dia tak pernah menceritakan siapa mantan calon suaminya.


Kenapa Akram bisa tahu?


Kira-kira dia tahu dari mana?


Siapa yang mengatakannya?


Amara menjadi salah tingkah. Sampai sejauh mana Akram mengetahui tentang dirinya.


“Tentu saja itu gak mungkin dan gak akan terjadi,” jawab Amara. Pria itu sendiri yang membatalkan pernikahan mereka dan memilih menikahi wanita lain, lalu dia tiba-tiba datang kembali dan ingin memperbaiki semuanya. Setelah Amara berjuang melewati banyak fase untuk tetap baik-baik saja, dia pikir bisa mengulang semuanya dari awal? Tidak punya otak!


Meskipun andaikata Amara masih sendiri, dia tetap akan menolaknya.


“Aku bisa jelaskan, Mas.”


Akram menggeleng pelan dan menjawab, “Aku mengerti, Mara.” Melemparkan senyum tipis seolah apa yang terjadi bukan sesuatu yang perlu penjelasan.

__ADS_1


“Kenapa kamu gak mau dengar penjelasanku?” Amara hampir saja meluapkan kemarahan. Sisi liarnya memang terkadang keluar di saat tertentu.


“Karena aku percaya padamu,” sahut Akram yakin.


Amara memandang Akram lamat-lamat. Dia tidak salah dengar, pria itu tidak marah, menuntut atau kesal dengan apa yang ada di depan matanya.


Sungguh aneh. Ada pria yang tetap tenang saat calon istrinya didekati pria lain, apalagi pria dari masa lalunya.


Sikap Akram justru menimbulkan tanda tanya di hatinya. Benarkah pria itu bersungguh-sungguh dengan sebuah pernikahan yang akan diadakan kurang dari seminggu lagi.


“Hei, jangan berpikiran buruk,” omel Akram seolah mengerti isi kepalanya.


“Siapa yang berpikiran buruk. Jangan su’udzon, Mas,” kilah Amara.


“Aku tahu kamu mulai meragu, Mara. Mungkin ini yang namanya ujian pernikahan. Setan gak suka dengan pernikahan karena berlangsung seumur hidup dengan ikatan sah yakni ijab kabul. Semua yang dilakukan pasangan setelah ijab kabul itu jatuhnya ibadah.”


“Aku gak ragu, hanya heran,” kilah Amara lagi.


Akram menggeleng dengan gemas. Ingin sekali dia menarik bibir calon istrinya yang maju beberapa senti karena kesal.


“Jika hatimu memang untukku, dari sisi mana pun pria lain mendekat dan merayu, setia tetap akan kamu lakukan. Jika kamu mencintaiku karena Allah, aku yakin Allah akan jagakan cinta kita.”


Akram selalu bisa membuat Amara meleleh dengan kalimat yang luar biasa.

__ADS_1


“Manis banget. Gulanya berapa kilo, Pak?” canda Amara tersenyum.


To Be Continue ....


__ADS_2