
“Aku gak bisa menjelaskannya sekarang, Mara. Banyak hal yang aku sendiri masih tak bisa memahaminya.”
“Contohnya?”
“Siapa ayah dari Ibra.”
Deg!
Jantung Amara langsung saja berdetak dengan keras. Kedua tangannya gemetar merasakan aliran darahnya seolah berhenti.
“Jangan bilang ... kalau anak itu adalah anakmu, Mas,” ujar Amara lirih.
Akram hanya tertunduk tanpa jawaban.
“Mas!” teriak Amara menuntut.
“Aku gak tahu, Mara.”
“Lalu apa maksudmu bicara kayak gitu? Jika memang gak ada hubungannya denganmu, harusnya kamu gak ragu menjawabnya,” kata Amara dengan mata yang sudah berembun.
“Aku gak bisa menjelaskan apa pun karena aku sendiri gak yakin dengan apa yang telah terjadi,” sahut Akram pelan.
“Jadi maksudmu memintaku percaya itu apa, jika kamu sendiri gak yakin.”
Akram menerawang jauh pada kejadian bertahun-tahun yang lalu saat dirinya menempuh pendidikan di Hardvard. Dia menceritakan semuanya pada sang istri tanpa ada sedikitpun yang ditutupi.
__ADS_1
Sepanjang mendengarkan cerita Amara sesekali menahan napas saat tiba pada bagian, “Tiba-tiba aku terbangun dengan keadaan polos di kamar Ziva!”
Namun, Akram tak menemukan jawaban apa pun tentang apa yang terjadi. Karena pada saat itu semua orang juga tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya tubuh Akram menerima alkohol. Itupun karena dipaksa.
Sejujurnya Akram bukanlah pria suci yang tak memiliki celah kesalahan. Dia pun memiliki masa lalu yang buruk sebelum akhirnya menemukan jalan terbaik.
“Jadi apakah ini yang dimaksudkan oleh Pak Wahyu Nugroho?”
“Wahyu Nugroho?” ulang Akram dengan kedua tangan yang mengepal sempurna.
“Dia mengatakan kamu memiliki rahasia.”
Akram berdecak pelan, lalu menjawab, “Karena dia adalah kakak Ziva.”
“Amara!” Suara Akram meninggi tanpa sengaja mendengar penuturun sang istri. Dia sama sekali tak mengingat kejadian itu. Namun, dia meyakini bahwa tak pernah terjadi apa pun di antara dirinya dan Zivanna.
“Bagus. Kamu berani membentakku, Mas.” Amara turun dari ranjang dan menepis pelan tangan sang suami yang mencoba meraihnya.
Amara memilih keluar dari kamar. Hatinya berdenyut nyeri mendengar sang suami meninggikan suara.
♡
♡
♡
__ADS_1
“Bu, tadi aku lihat Bu Mara keluar dari kamar tamu,” kata Anita yang memang biang gosip.
“Ya mungkin ada yang mau diambil di kamar tamu,” jawab Meri seadanya.
“Tapi tadi kulihat Bu Mara sepertinya baru bangun. Masuk kamar utama bentar terus balik lagi ke kamar tamu.”
“Biarin saja. Ini kan rumahnya. Suka-suka beliau mau tidur di manapun.”
“Ah ... Bu Meri gak asyik.” Anita menghentakkan kakinya kesal karena wanita paruh baya itu tidak banyak merespons ketika diajak bicara. Padahal dia berharap mendapat informasi menguntungkan.
Kebetulan Azizah yang sudah ada di dapur sejak beberapa menit yang lalu tentu mendengarnya dengan jelas. Namun, kedua orang itu mungkin tak menyadari karena dia berada di kamar mandi.
Azizah ke dapur untuk mengambil minum, tetapi saat ingin kembali ke kamar tiba-tiba perutnya melilit. Itu sebabnya dia berada di sana dan tanpa sengaja mendengar kabar yang sedikit mengejutkan.
Saat Azizah keluar dari kamar mandi, Meri tampak terkejut. Dia menatap sungkan karena dia yakin majikannya mendengar apa yang tadi mereka bicarakan.
“Memangnya Mara benar tidur di kamar tamu?” tanya Azizah.
“Benar, Nyonya.” Meri membenarkan karena dia yang diminta Amara untuk mengganti sprei kamar tamu. Menurutnya sprei yang dipakai saat itu terlalu mencolok dan mengganggu pemandangan.
“Biarkan saja. Mungkin mereka ada sedikit problem. Semoga saja semuanya gak berlarut-larut.”
Azizah memilih tak ikut campur andai anak atau menantunya tak mengatakan. Sebagai orang tua dia ingin anak menantunya belajar jika dalam mahligai pernikahan tak hanya akan ditemui manisnya cinta saja. Ada banyak ujian dalam menjalaninya dan bisa dalam bentuk apa pun.
To Be Continue ....
__ADS_1