
Bagas mulai mengemas barang bawaannya kedalam koper kecil miliknya, kepergiaannya kali ini ia tak akan lama, Karena ia memiliki alasan untuknya segera kembali. Ada misi yang akan di kerjakan Liam, ia merasa ini waktunya, ia takan melewatkan kesempatan itu. Beberapa bulan bersama Nadira membuatnya semakin yakin bahwa ia harus melakukan itu semata demi Nadira.
"Kenapa sangat dadakan sekali?"tanya Tristan, karena TBL sedang banyak pekerjaan yang melibatkan Liam.
Liam memang sudah lama menangani pekerjaan Amecrop di Jakarta, sehingga wajar saja jika ia diminta secara dadakan, karena ia harus sudah siap kapanpun jika ia di butuhkan.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan lama disana." Ucap liam yang mengerti kekhawatiran Tristan, karena walau bagaimanapun itu semua bagian pekerjaan Liam.
"Tris, Boy, aku percayakan Nadira kepada kalian. Jangan meninggalkan Nadira sendirian." lanjut Liam mengulang kalimatnya lagi, sebab ini kali ke tiga Liam mengatakan hal yang sama.
"Iya iam, pokoknya kamu tenang saja, Nadira aman bersama kami." balas boy yang tiba-tiba seperti suami siaga.
Liam merasa aman jika kedua sahabtnya terlibat dalam penjagaan nadira, meski wajah Tristan tak terlihat seperti Boy yang amat meyakinkan, namun Liam yakin, tristan juga peduli kepada nadira.
"Terima kasih, aku merasa tenang."
*******************
Liam sudah tiba di bandara I gusti nguranghrai. Tujuan utamanya bukan untuk pekerjaan, melainkan menemui seseorang, ia sengaja menginap di Gasturi, hotel milik suami nadira, karena memang Bagas lah yang akan di temui Liam. jelas tujuannya adalah untuk mempertannyakan sikap Bagas selama kehamilan nadira, Karena ia adalah saksi bagaimana Nadira selalu terlihat sedih setiap selesai menelphon suaminya, dan Liam lah yang selalu menghibur Nadira setelahnya.
Liam sudah bertekat untuk melewati dinding pembatas yang di buatnya, karena sekarang dia sangat yakin bahwa dirinya ternyata yang mampu untuk membahagiakan Nadira, bukan orang lain, ini adalah kesalahannya yang berulang, mengaggap nadira akan bahagia dengan pria selainnya.
"Selamat Pagi pak Alex, saya di kabarkan anda menginap di hotel ini." Sapa bagas yang datang menghampiri Liam di restoran hotel.
__ADS_1
Liam terkejut dengan kedatangan Bagas, karena rencanannya ia akan menemki Bagas di kantornya setelah sarapan paginya selesai.
"Dimana lagi saya akan menginap selain di hotel ini." Liam membiarkan Bagas untuk menemani sarapannya, dengan obrolan-obrolan ringan sampai pembicaraan tentang pekerjaan.
Hingga sarapan mereka hampir habis, tak ada satupun kalimat yang menanyakan tentang kabar Nadira ataupun kabar kehamilan Nadira, padahal Bagas sangat tahu bahwa Liam yang selalu di samping Nadira, menemani Nadira dari awal kehamilan sampai saat ini. Sikap Bagas itu menambah tekad di hati Liam, juga membenarkan semua dugaan yang di perkirkan Liam.
"Saya senang bisa menemani sarapan pak Alex." Ucap Bagas sebelum pamit untu meneruskan pekerjaannya.
"Anda tidak akan menanyakan tentang Nadira?"
Baru saja Bagas melangkah pergi, Ia mendengar ucapan dari Liam yang membuatnya kembali berbalik.
"Saat ini aku akan mengatakan atas nama Liam, sebagai teman dan mantan kekasih dari Nadira." Lanjut Liam.
"Silahkan duduk." bagas mempersilahkan Liam untuk duduk, sambil memikirkan cara lepas dari seorang Liam yang ia tahu sangat gigih, apa lagi ini menyangkut wanita yang dulu pernah di cintainya dan bahkan masih dicintainya.
"Kamu tahu, Nadira disana sangat membutuhkan kamu, meski kehadiran kamu tidak ada, setidaknya perhatian kamu ada. Itu yang di butuhkan Nadira."
"Maaf saya rasa anda sudah melangkah sangat jauh, ini masalah kami, biar kami berdua yang menyelsainkannya."
"Saya tahu itu, saya hanya akan menegaskan satu hal, jika Pak Bagas tidak mampu membahagiakan Nadira dan anaknya, biar saya yang akan membahagiakan mereka." liam menatap tajam kearah Bagas, ia sangat serius dalam semua ucapannya.
Mata Bagas bergetas, Ucapan Liam seakan membabad habis dirinya, Namun ia tak ingin menyerah, ia masih menjalnkan pengobatan sebagai bukti bahwa ia tak ingin kehilangan orang yang paling penting untuk hidupnya.
__ADS_1
Liam sudah mengutarakan semua yang harus di dengan Bagas, ia kemudian beranjak pergi meninggalkan Bagas yang masih termenung.
Setelah kepergian Liam, Bagas duduk termenung dengan mencengkram kepalanya, ia tak bisa membiarkan Liam membawa Nadira dari sisinya, ia masih yakin bisa membahagiakan Nadira juga calon anaknya, hanya saja ia perlu waktu. Namun melihat tekad Liam tadi membuatnya nragu dengan keyakinannya selama ini. ia berpikir sangat egois jika membuat Nadira menunggu untuk ia bahagiakan. Ia bingung harus melakukan apa?.
*************************
Sesuai instruksi Liam, kedua sahabatnya sudah berada di rumah besar yang kini berpenghuni seorang wanita hamil, untuk memasak dan menemaninya sarapan. Tak berapa lama Nadira keluar dari dalam kamar dan terkejut karena sudah ada dua pria di dalam dapurnya.
"Pak Tristan, Pak Boy, mengapa kalian ada disini?" Ucap Nadira terkejut. meski Liam sudah memberitahu tentang kedatanagn kedua sahabatnya, namun Nadira tak berpikir mereka datang sepagi ini.
Kedua pria itu hanya saling pandang dan sedikit terkekeh.
"Pasti ini ulah Liam." Lanjut nadira segera menyalakan ponselnya untuk menghubungi Liam
Nadira mengatakan lewat panggilannya, bahwa yang di lakkuan Liam sangat berlebihan, karena Nadira merasa tak nyaman, karena kedua pria itu adalah rekan bisnisnya. harus mendapatkan pelayanan di luar pekerjaan sangat tidak lazim.
Di sebrang sana Liam hanya tertawa mendengar omelan Nadira, ternyata kedua sahabatnya melakukan semua arahan darinya.
"Kamu baik-baik ya disana bersama tristan dan boy, karena itu akan membuat aku tenang bekerja disini." Ucap Liam sebelum mematiakan ponselnya.
Kemudian nadira melihat kearah depannya, dua pria yang sedang menikmati sarapannya, tanpa rasa canggung atau tak nyaman seperti dirinya.
"Kami senang saat mendengar kehamilan bu Dira." Ucap boy di sela-sela sarapannya.
__ADS_1
Suasana mulai mencair, nadira yang semula tak nyaman, kini mulai tertawa mendapati celotehan lucu dari kedua pria itu, Sisi lain yang baru Nadira tahu, kekonyolan kedua pria itu hampir serupa dengan Liam, sehingga kecocokan mereka bertiga membuat persahabatan terjalin sangat lama.