Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Nasihat mertua


__ADS_3

Setelah menghabiskan dua hari menginap di hotel mereka akan kembali ke rumah.


Rumah baru.


Namun, sebelum itu mereka harus berpamitan kepada orang tua dan mertuanya.


“Ini sudah semua kah?” tanya Akram mengamati koper yang sudah tertata rapi oleh barang mereka.


“Sudah, Mas. Tolong ditutup, ya.” Amara menatap pantulan suaminya di cermin. Dia masih merias wajahnya tipis agar tak terlihat pucat.


Setelah semuanya usai, mereka meninggalkan hotel tempat pertama kali menyatukan cinta dalam balutan hubungan yang halal. Mereka dijemput oleh Hakim—asisten Akram yang memang diminta langsung oleh sang tuan.


Mobil segera melesat menuju ke rumah orang tua Akram. Sesampainya di sana mereka disambut hangat oleh Azizah yang kebetulan sedang tidak bertugas.


Amara mencium punggung tangan mertuanya dengan khidmat.


“Kami ke sini cuma mau pamit. Aku mau ajak Amara tinggal di rumah baru,” kata Akram.


“Secepat ini? Kenapa gak nginap dulu di sini satu atau dua hari?” tanya Azizah dengan berat.


“Kami sudah menikah dan ingin belajar mandiri, Ma.”


“Itu bagus. Tapi jangan lupa sering-sering berkunjung ke rumah jika kalian senggang.”

__ADS_1


“Itu pasti, Ma. Papa gak pulang kah?”


“Pasti pulang sebentar lagi.” Azizah menatap jam dinding. “Kalian nunggu makan siang sekalian ya biar bisa pamitan sama papa.”


Akram mengangguk patuh. Dia meminta ibu untuk mengajak istrinya berkeliling melihat rumah mereka, sementara dirinya sendiri akan ke kamar untuk berkemas.


Amara diajak berkeliling ke rumah besar itu. Ada banyak pekerja di bagian masing-masing. Namun, Amara mengagumi taman kaca milik mertuanya yang sangat besar dan terawat dengan bunga-bunga yang cantik dan tentunya sangat mahal.


“Mama suka berkebun?”


“Suka banget. Apalagi kalau ditemani papa,” jawab Azizah membuat Amara terkekeh pelan. Meskipun usianya tak lagi muda, kedua mertuanya itu tetap harmonis di usianya.


“Mama ... boleh aku tanya?” Amara sedikit sungkan, juga ragu.


Amara tersenyum dan berterima kasih. Bukan hanya mendapat suami yang baik, tetapi berkah karena mendapat mertua yang baik juga.


“Adakah tips apa yang membuat hubungan mama dan papa selalu tampak harmonis? Aku iri melihat usia kalian yang gak lagi muda tapi cinta masih begitu besar terlihat.”


Azizah tersenyum. Dia mengajak menantunya duduk di kursi santai dekat kolam renang dan meminta pelayan membawakan minuman.


“Yang penting adalah komunikasi. Semua hubungan gak ada yang gak diuji, Mara. Dulu saat muda kami juga sering bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Tapi kami selalu menjaga komunikasi dalam keadaan marah sekalipun.”


“Apa pertengkaran terbesar dalam perjalanan rumah tangga mama dan papa?”

__ADS_1


“Banyak!” Azizah menjawab cepat sambil tertawa. “Kami pernah hampir bercerai juga. Tapi itu saat kami masih muda dan sama-sama memiliki ego yang tinggi dan gak ada yang mau mengalah.” Azizah seperti ditarik kembali untuk mengingat masa lalu.


“Maaf jika pertanyaanku lancang dan membuat mama bersedih.” Amara menatap sungkan kepada mertuanya.


“Gak apa-apa, itu pelajaran bagi kami juga.” Azizah menoleh dan tersenyum manis. “Sejatinya gak ada manusia hidup di dunia yang gak diuji. Rumah tangga pun memiliki ujian masing-masing, salah satunya ekonomi. Itu selalu jadi momok menakutkan bagi setiap orang saat menikah tapi belum punya kehidupan yang layak. Mereka takut akan hidup dalam kesusahan dan sebagainya, padahal ketika berumah tangga rezeki itu akan datang dari pintu mana saja selagi mau berusaha.”


Amara mengangguk.


“Anak, keluarga, lingkungan, apa saja bisa jadi masalahnya. Tetaplah jaga komunikasi dan jangan membantah saat suamimu masih dalam keadaan marah. Tetaplah diam dan tundukkan kepala sebagai tanda hormat. Nanti ... jika marahnya sudah reda baru kamu dekati dia dan tanyakan apa kesalahanmu yang membuatnya marah lalu minta maaf jika memang andai kamu yang bersalah.”


Amara memasang telinga dan mendengar nasihat itu dengan baik.


“Seorang pria itu memiliki ego dan harga diri yang tinggi. Jika kamu melawan, akan semakin meledak pula dirinya sebagai seorang pria yang gak bisa membuat istrinya jadi penurut.”


“Andai kita bersalah, apa gak diizinkan membela diri?”


“Boleh. Tapi tunggu waktu yang tepat. Jangan menyiram bensin di api yang menyala atau akan terbakar nantinya.”


“Seorang pria juga suka wanita yang mengandalkannya. Meskipun kamu bisa melakukan apa pun sendiri, tetaplah libatkan suamimu agar dia merasa dibutuhkan. Jangan pernah membanggakan diri sendiri karena bisa mandiri, itu justru akan melukai harga dirinya sebagai seorang pria. Ada saatnya kamu mandiri dan ada saatnya perlu berbagi.”


Amara mengangguk mengerti dan memeluk mertuanya erat. “Terima kasih, Ma.”


To Be Continue .....

__ADS_1


__ADS_2