Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Pemilik Sesungguhnya


__ADS_3

Begitu sampai di kamarnya Nadira segera menghubungi Bagas, ia ingin segera menceritakan perkembangan kehamilannya, juga menunjukan beberapa hasil USG yang tadi ia lakukan.


"Hallo bli, kenapa lama sekali mengangkat telphonnya?" kesal Nadira ketika ia sudah berkali-kali menelphon Bagas dan baru diterima di keskeian kali panggilan darinya.


"Maaf sayang, tadi aku sedang rapat." Balas Bagas datar.


Nadira mulai menceritakan apa yang terjadi saat pemeriksaan dengan dokter kandungan, juga tentang kepulangannya yang harus di tunda.


Namun belum selesai ia bercerita Bagas dengan cepat memotong ceritannya.


"Maaf sayang, kita harus tunda pembicaraan kita, kamu jaga kesehatan di sana, nanti aku telphon lagi." Ucapnya segera mematikan panggilannya.


Nadira lagi-lagi menelan kekecewaan, ia kembali merasa Bagas menjaga jarak dengannya, itu sudah terhitung sejak ia memberi tahu tentang kehamilannya. Ia merasa suaminya berubah. Tak sekalipun Bagas menanyakan tentang kehamilannya, selain Nadira yang terus mengabari tentang perkembangan kehamilannya.


Padahal du saat seperti ini ia butuh sosok suami yang membuanya merasa nyaman,dan ternyata semua tak sesuai harapan Nadira, karena pekerjaan yang selalu menjadi alasan Bagas.


Liam kembali melihat wajah murung Nadira, sambil memegang erat ponselnya, Nadira terdiam, seolah jiwanya sedang meninggalkan raganya. Ini bukan kali pertama Liam melihat itu, karena Liam selalu mencoba menghibur Nadira, agar ia tak terlalu memkirkan tentang suaminya. Karena ia khawatir itu akan berpengaruh kepada bayi dalam kandungannya. Entah apa yang Bagas perbuat sampai membuat Nadira seperti itu.


"Bagas sibuk lagi?" Tanya Liam segera menghampiri Nadira.


Namun bukan jawaban dari Nadira yang ia dapat melainkan tiba-tiba Nadira menangis memeluk Liam.


Liam sangat terkejut, karena detak jantungnya yang tiba-tiba melonjak. Namun ia segera menyingkirkan semua perasaannya dan berfokus kepada keadaan Nadira.


Iapun tak berani untuk menanyakan lebih dalam lagi, karena ia tak mau memaksa Nadira untuk bercerita jika dia tidak siap menceritakannya.


Selama beberapa bulan bersama Nadira ia tahu seberapa sering Bagas menghubungi Nadira, dan itu tidak pernah terjadi, yang ada Nadira selalu lebih dulu menghubungi suaminya, di tambah setiap reaksi setelah Nadira selesai berbincang dengan suaminya. Itu menunjukan keadaan sebenarnya hubungan Nadira dan Bagas.

__ADS_1


Ini membuat liam kesal juga kecewa, karena ia tidak menyangka Bagas akan membuat Nadira sedih apa lagi di saat kehamilannya seperti saat ini, jika ini terus berlangsung ia sangat menyesal telah membiarkan Nadira bersama Bagas, Dan ia akan menghancurkan semua batas norma yang selama ini dijaganya.


...****************...


Pengunjung Nadvilla melonjak mendekati akhir tahun, dan itu jelas mendatangkan pundi pundi uang bagi Nadvilla. Namun saking banyaknya antrian membuat Nadira berpikir untuk mencari tempat tinggal sementara, karena ia ingin kamar yang sering ia tempat bisa di pakai untuk pengunjung villanya. Karena memang seharusnya ia sudah meninggalkan Nadvilla sebelum akhir tahun mengingat lonjakan pengunjung.


Ia menceritakan niatnya itu kepada Liam, dan Liam bersedia untuk mencarikan Nadira rumah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor TBL yang merupakan tempat tinggal Liam.


Disinilah Nadira berada, setelah pagi tadi di jemput Liam, kemudian Liam membawanya kesebuah rumah yang cukup besar, Nadira perlahan memasuki rumah tersebut, ia pun terperangah karena ia memilki kecocokan dengan rumah tersebut.


"Wwwaahh... aku suka sekali rumah ini, udara sekitar pun masih sangat asri." Ucap Nadira dengan terus menelusuri setiap ruangan yang terlihat bersih juga rapi, karena rutin di bersihkan.


"Aku senang jika kamu menyukainya." Balas Liam yang juga bahagia karena Nadira menyukai rumahnya.


"Rumah ini milik siapa?" Tanya Nadira lagi. Nadira sangat menyukai rumah itu bahkan ia ingin membelinya,


"Ini rumah temanku, kamu bisa tinggal disini, dan rumah ini tidak di jual." Jawab Liam terkekeh, karena ia sudah menebak apa yang ada di benak Nadira.


Setelah melihat rumah yang akan Nadira tempat, Liam kembali ke Nadvilla untuk membantu Nadira berkemas barang miliknya.


Setelah selesai dengan Nadira, Liam pun pulang, untuk beristirahat, karena besok ia harus kembali ke Nadvilla untuk membantu kepindahan Nadira.


Sesampainya di rumah, Liam di sambut oleh tatapan tajam kedua sahabatnya.


"Iam, kamu membatalkan penjualan rumah itu?" Tanya Boy mengawali mengintrogasi Liam.


"Kamu tahu harga rumah itu sudah naik 3 kali lipat. dan kamu membuang kesempatan itu." Kini giliran tristan menanbahkan. Bahkan Liam belom sempat masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Iya aku membatalkannya, karena besok rumah itu akan di tempati Nadira." Jawabnya sambil berlalu meninggalkan kedua sahabatnya yang terkejut.


Boy dan tristan tidak bisa berkata-kata lagi, karena yang berhak atas rumah itu adalah Liam selaku pemiliknya. dan yang akan menempatinya adalah orang yang seharusnya. Karena masih jelas teringat di ingatan sahabtnya, ketika Liam membangun rumah itu dari Nol sampai menjadi bangunan yang sangat cantik. Dan itu semua terinspirasi dari Nadira sang mantan kekasih, dengan penuh harapan Liam mulai mendesain rumah tersebut untuk kelak bisa ia tinggali bersama Nadira.


Tristan dan Boy sering kali mengatakan bahwa harapannya itu tidak akan terjadi, karena Nadira sudah bersuami dan suaminya itu adalah pamannya sendiri. Namun Ucapan dari sahabatnya itu selalu membuat Liam semakin bersemangat. Karena Bagi Liam cara ia mencintai sesorang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya. Ia memiliki caranya sendiri dan ia sudah bahagia dengan melakukan itu.


Ini sebuah tamparan bagi kedua sahabat Liam, karena harapan yang semula mereka anggap sia-sia ternyata terjadi. Jalan tuhan memang unik, semua yang dulu hanya menjadi harapan Liam kini akan menjadi kenyataan, rumah itu akhirnya di tinggali pemilik sesungguhnya. Dan semua itu di luar dugaan.


...****************...


Sudah satu minggu Nadira menempati tempat tinggal barunya, jauh dari kebisingan dan aktifitas banyak orang, sehingga ia lebih nyaman menikmati harinya. Juga ada pria yang tak habis mencurahkan seluruh perhatian untuknya meski tak ada Keharusan.


"Ini minum dulu" Ucap Liam membawa segelas susu hangat untuk Nadira.


"Terimakasih." Balas Nadira dengan suara lembutnya.


Liam kemudian duduk di sebelah Nadira dengan segelas kopi menemani sore hari mereka, menatap kolam yang tenang.


"Aku ada pekerjaan di Jakarta, untuk tiga hari kedepan Boy dan Tristan yang akan menjaga kamu."


Ada beberapa yang harus Liam kerjakan atas nama amecrop dan ia terpakasa harus pergi meninggalkan Nadira meski untuk sementara waktu, namun terasa berat baginya.


"Tidak usah, aku tidak ingin merepotkan mereka, lagi pula aku sudah terbiasa sendiri." Tolak Nadira, karena ia sudah merasa lebih baik, juga ia tak ingin melibatkan kedua sahabat Liam untuk kehamilannya.


"Setidaknya itu akan membuat aku tenang selama kepergianku." Liam menggengam Tangan Nadira, menatap matanya dalam, ia ingin Nadira mengerti kekhawatirannya.


"Baiklah." Jawab Nadira pada akhirnya menerima semua keinginan Liam

__ADS_1


"Satu hal lagi, jangan jauh-jauh dari ponselmu, karena aku akan selalu menghubungi." Liam memberikan ponsel Nadira untuk di genggam. Liam sudah seperti seorang suami yang akan meninggalkan istrinya untuk pergi dinas.


Nadirapun tersenyem melihat Liam yang begitu protektif kepadanya, karena ia belum pernah di perlakukan seperti itu oleh siapapun. dan dia senang di perlakukan seperti Liam memperlakukannya. Sangat romantis penuh tanggung jawab. Dan sangat beruntung untuk wanita yang kelak akan bersanding dengan Liam.


__ADS_2