Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Hamil...?


__ADS_3

Sandra menceritakan kepada adiknya mengenai apa yang anaknya katakan, dia juga menolak dengan halus wanita yang akan Sandy kenalkan. Awalnya Sandra sempat khawatir karena dulu Liam pernah mengatakan untuk tidak menikah dengan wanita manapun kecuali wanita itu adalah Nadira. dan semua ucapan Liam adalah kebenaran, Liam tipikal pria yang tindakannya sesuai dengan ucapannya.


"Kakak yakin, itu bukan alasan Liam saja." Ucap Sandy menanggapi.


"Kakak yakin, Liam tidak mungkin berbohong.' Balas Sandra, ia sangat percaya kepada anaknya.


"Baiklah, semoga saja benar, karena aku tidak ingin Liam terus larut sampai dia gila karena tidak bisa melupakan Nadira."


"Jaga ucapan kamu dik. hubungan mereka baik-baik saja sampai saat ini, Liam juga sudah bisa menerima semuanya. meski kakak tahu tidak semudah itu." Sandra tahu Liam tengah berusaha untuk melupakan sosok Nadira, wanita satu-satunya yang dia cintai, merelakan untuk bersanding dengan orang lain itu tidak mudah apa lagi untuk kesekian kalinya Liam menghadapi hal yang sama.


Sandy sangat ingin Liam segera menemukan wanita lain, untuk menggantikan Nadira, dia tidak rela jika Liam terus berdekatan dengan Nadira. Karena sampai kapanpun jika ia tidak bisa memiliki Nadira, maka keponakannya pun tidak bisa memiliki Nadira. Karena kesempatan Liam bersama Nadira menurutnya masih terbuka, jika Liam terus seperti ini, terus mendekat kepada Nadira, kemungkinan Nadira akan luluh kembali. Ia sangat mengenal Nadira, wanita yang mudah jatuh cinta. Pernikahan bukan pembatas bagi Nadira jika sudah mencintai pria lain. Seperti halnya dulu. mudah bagi Nadira untuk melakukan hal yang sama. Kesalahan yang sama.


                           ************************


Hampir satu bulan Bagas meninggalkan pekerjaanya, dia limpahkan semua pekerjaannya kepada sekertarisnya, karena ia ingin menikmati momen kebersamaan dengan sang istri. Untuk sementara Bagas dan Nadira kembali menjalani hubungan jarak jauh, sampai semua pekerjaan Nadira selesai, untuk sementara Bagas yang akan mengalah dengan pulang pergi terbang untuk menemui istri tercinta,


"Bli, seprtinya perutku agak membuncit." Ucap Nadira yang berdiri di depan cermin dengan memegangi perutnya yang semua rata kini agak berisi.


"Mungkin akhir-akhir ini kamu tidak menjaga pola makanmu." Balas bagas yang masih fokus dengan laptopnya, karena baru saja Bagas selesai dengan rapat yang di lakukan secara online.


"Nggak bli, perutku juga akhir-akhir ini terasa aneh, atau jangan-jangan aku hamil?" dugaan Nadira, yang kemudian menedekat kearah Bagsa.

__ADS_1


Bagas terekjut dengan apa yang baru saja Nadira ucapkan, namun semua itu ia tutupi dengan snyumannya, "Apakah Bagas junior sudah hadir di perut ini?" Ucap Bagas mengelus perut nadira.


Nadira tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat bagas menyentuh perutnya, bahkan kedua matanyapun berbinar.


"Sepertinya kita harus segera menemui dokter kandungan.' Nadira sangat antusias, ia ingin segera mengetahui apakah dirinya tengah mengandung atau tidak.


Namun ketika hendak bangun, tangan Nadira di tahan oleh Bagas, Nadira pun kemudian menoleh dengan kebingungan, ia pikir Bagas akan setuju dengannya.


"lebih baik kita bertanya terlebih dahulu kepada dr Diaz, Bagaimana?" Bagas belum siap untuk menemui dokter kandungan langsung, ia lebih menyarankan untuk bertanya kepada Diaz, karena ia ragu bahwa yang di alami Nadira adalah ciri-ciri awal kehamilan.


Nadira pun duduk kembali, dan menunggu suaminya menelphon sahabatnya yang merupakan dokter, meski bukan dokter kandungan, setidaknya dr Diaz akan memberi sarannya sebagai dokter.


dr Diaz mengatakan bisa saja yang Nadira rasakan itu karena adanya perubahan di perutnya, dan itu salah satu ciri awal kehamilan, selain ciri umum seperti mual dan sebagainya, namun Diaz menyarankan agar bagas membeli alat test kehamilan terelbih dahulu sebelum pergi menemui dokter kandungan.


"Kita harus membeli alat test kehamilan untuk memastikannya. kamu tunggu disini, aku akan membelinya." Ucap bagas yang kemudian pergi.


Sepanjang perjalanan menuju apotik terdekat, Perasaan Bagas kacau, wajahnya begitu tegang, semua senyum yang di tunjukan di hadapan Nadira seketika hilang. Entah mengapa dia merasa ketakutan, dia tidak mengerti mengapa sepertinya, seharusnya ia bahagia dengan kemungkinan kehamilan Nadira,


Tak membutuhkan waktu lama Bagas sudah kembali dengan membawa alat test kehamilan yang ia beli. Dan segera ia berikan kepada nadira. nadira kemudia beranjak menuju kamar mandi untuk memeriksakannya, sementara Bagas menunggu dengan gelisah, ia berkali-kali meremas tangannya menunggu Nadira keluar dari balik pintu kamar mandi.


"Bagaima?" Tanya bagas, begitu Nadira keluar.

__ADS_1


Nadira sendiri tidak mengerti cara kerja alat itu, karena tidak menunjukan perubahan apapun. Sampai mereka membacanya di balik kemasan, rupanya mereka harus sedikit menunggu sampai dua garis merah muncul yang menandakan bahwa Nadira ternyata hamil.


"Tarnyata aku tidak hamil." Ucap nadira terdengar kecewa, Karena mera sudah menunggu cukup lama dan ternyata alat tersebut hanya menunjukan satu garis berwarna merah.


Bagas memeluk Nadira erat, ia merasa lega, meskipun Nadira terlihat sangat sedih.


"Ini yang aku khawtirkan jika kita langsung menemui dokter kandungan, aku tidak ingin melihat kamu sedih seperti ini. kita bisa berusaha lagi. jangan khawatir."  Ucap Bagas mengusap pucuk kepala nadira.


"Iya kamu benar bli, masih banyak waktu. tapi, sebentar lagi kamu harus pergi." Ucap sedih Nadira, karena Sudah waktunya Bagas untuk kembali kepekrjaannya. dan Nadira harus menunggu untuk kedatangan Bagas kembali.


...****************...


Baru saja Nadira tiba dari Bandara setelah mengantar kepergian suaminya. Kini ia merasa sangat keaepian, kamar yang semula ramai, terdengar canda dan tawa darinya dan suami kini hanya terdengar suara dentingan dari jarum jam dinding yang menghiasi kamarnya.


Ingin sekali bersikap egois untuk tak membiarkan Bagas pergi, Namun ia tak bisa, karena banyak tanggung jawab di pundak suaminya itu. Tak hanya dirinya melainkan ratusan pekerja yang juga membutuhkannya.


Nadira kemudian membaringkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit. Namun tiba-tiba ia merasa mual, dan segera berlari menuju kamar mandi.


Nadira memuntahkan semua yang di makannya hari itu, perutnya juga merasa tidak nyaman, ia kemudian memutuskan untuk kembali berbaring karena tubuhnya terasa lemas, sampai ia tertidur.


Nadira tertidur cukup lama, sampai ia terkejut begitu bangun hari sudah gelap, bahkan panggilan telphon dari liam juga terlewatkan.

__ADS_1


Nadira kemudia memegangi perutnya yang mengeluarkan bunyi, ia merasa sangat lapar, karena semua makanan yang ia makan di keluarkan kembali.


Karena kepalanya juga merasa berat, Nadira kemudian memutuskan untuk memesan makanan dari kamarnya. Hari ini sejak kepergian Bagas banyak yang Nadira rasakan, dari mulai perutnya yang tak nyaman samapi tiba-tiba mual bahkan sampai muntah. Nadira sendiri tidak mengerti dengan perubahan dirinya, karena kemarin sampai pagi hari ia merasa sangat sehat. Namun begitu menjelang sore hari ia kehilangan semua tenaganya. Ditambah lagi ia hanya seorang diri, sehingga ia bingung harus bagaimana.


__ADS_2