
Bagas berdiri tegap dengan balutan tuxedo buatan desianer ternama,terlihat rona bahagia terpancar dari wajahnya, dengan senyuman yang sejak tadi tak pernah hilang dari bibirnya. sesekali Bagas melirik karah sampingnya, untuk melihat wanita yang sekarang sudah sah menjadi istri dan bagian hidupnya, sosok wanita penyempurna di kehidupannya. sambil terus menyalami tamu undangan yang memberikannya selamat.
Sementara Nadira dengan senyum tersipu membalas setiap tatapan mata yang penuh arti dari Bagas.
Acara pernikahan berlangsung dengan sangat meriah, banyak tamu undangan yang ternyata menyempatkan hadir, dari para rekan bisnis sampai teman-teman sekolah Bagas.
Sementara Nadira yang hanya mengundang segelintir orang pun ternyata menyempatkan diri untuk menghadiri acara pernikahan Nadira lagi.
Terlihat Liam yang membawa serta kedua orang tuanya, tentu saja membuat Nadira tersentuh, karena sesuai yang di janjikan, bahwa mereka akan datang menghadiri pernikahannya.
"Bli, bukannya itu Sandy?" Bisik Nadira di telinga pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
Bagas kemudian menoleh ke arah yang Nadira maksud.
"Iya, sepertinya itu Sandy." Jawab Bagas setelah melihat sosok Sandy berdiri jauh dari kerumunan tamu undangan.
"Ada nyali juga dia datang kemari." Guman Nadira terdengar samar di telinga Bagas.
Masih saja ada rasa kesal dan benci yang Nadira rasakan setiap melihat Sandy. Meski ia yang mengundangnya, namun ia tak berharap kehadirannya. Apa lagi setelah Sandy melakukan hal yang menjijikan kepadanya.
"Selamat ya Nak,tante doakan kamu bahagia. maafkan tante tidak bisa menjaga kamu saat bersama Sandy."
Kini Giliran Keluarga Liam yang berkesmpatan memberi selamat untuk kedua mempelai. Di muali dari Sandra yang memeluk Nadira begitu tulus, karena Sandra sangat merasa bersalah, meski bukan dirinya yang secara langsung menyakiti Nadira, namun ia mempunyai peranan di hubungan Nadira dan adiknya. Andai saja ia tidak pernah mengizinkan adiknya menikahi Nadira, mungkin Saja Nadira tidak akan pernah tersakiti.
"Terimakasih tan." Jawab Nadira seraya menahan ai matanya.
Nadira selalu bersyukur pernah ada di dalam kehidupan sandra, yang sudah seperti orang tua untuknya.
Selanjutnya ada Liam yang kini memberikan ucapan selamanya untuk Nadira. Liam sangat berebsar hati, dia mampu tersenyum dan ikut bahagia bisa menyaksikan Nadira menjemput bahagia bersama pria pilihannya.
"Terimakasih iam, kamu pasti menemukan wanita yang baik. karena kamu orang yang sangat baik.
__ADS_1
Seharusnya setelah Liam, ada Sandy yang memberikan ucapannya, karena tadi Nadira sempat melihat Sandy dan istrinya sudah berbaris tepat di belakang Liam. Namun ternyata sosoknya tiba-tiba menghilang.
Nadira merasa sangat lega, karena dia tidak perlu bertemu dengan mantan suaminya.
...*****************...
Sandy menarik tangan Reni menjauh dari tempat acara pernikahan Nadira berlangsung, Rani dengan perut besarnya mencoba mengimbangi langkah sang suami.
"Mas, bukankah kita harus memberikan selamat untuk Nadira juga Bagas." Tutur Rani kepada sang suami.
"Tidak perlu, kita pulang saja." Balas Sandy semakin membawa istrinya menjauh.
Rani sangat heran, karena tujuan mereka datang adalah memenuhi undangan dari kedua pengantin, jika tidak bisa menemuinya dan memberi selamat secara langsung, untuk apa datang jauh-jauh sampai ke Bali.
"Lantas apa tujuan mas datang keacara pernikahan ini?" Tanya Rani kesal, karena jika ia tahu sepertinini mungkin ia akan memilih untuk tidak ikut.
"Aku hanya ingin memastikan saja bahwa mereka benar-benar menikah, dan mereka tidak pura-pura menikah." Balas Sandy.
"Tapi kenapa? kenapa kamu harus peduli tentang itu mas?" Tanya Rani emosi.
Dia sangat kesal, meski telah lama bersama Sandy, namun Sandy tetap saja belum melupakan Nadira seutuhnya.
"Cukup. kamu harusnya diam saja. lagi pula aku datang sebagai rekan bisnis, bukan sebagai mantan suami. jadi kamu hanya sekertarisku." Bentak Sandy dengan mengangkat jari telunjuknya.
"Tapi kita sudah menikah, aku istri kamu mas." Sela Rani membela dirinya. ia merasa tidak bersalah sehingga harus diam mengikuti apa yang di katakan Sandy. Ia juga kini mempunyai hak atas diri suaminya itu.
"Kamu memang istriku, tapi itu semua aku lakukan karena terpaksa." Sandy kemudian pergi meninggalkan Rani yang terdiam setelah di benaknya.
Tiba-tiba dari arah belakang Rani datang Liam menawarkan sapu tangan untuk menghapus air matanya yang sudah menetas.
"Kamu seharusnya sudah tahu pria macam apa omku itu. Tapi kamu tetap saja menikahinya." Ucap Liam sekan menambah luka di hati Rani.
__ADS_1
Bukannya menerima kalimat yang membuatnya tenang, Liam justru membuat Rani semakin sakit karena sadar ia telah memilih pria yang salah. Namun meski demikian ia tidak menyesal bersama dengan Sandy, karena itu memang keinginannya.
...***************...
Nadira duduk di tepi tempat tidur, mencoba memijat kakinya yang terasa pegal dan kaku karena berdiri seharian.
Sementara Bagas sedang meminta air hangat juga handuk untuk merendam kaki Nadira kepada staf hotel.
"Kaki kamu sangat tegang dik." Ucap Bagas sambil memijat kaki Nadira.
Nadira menatap dengan mata berkaca-kaca, pria yang saat ini di depannya begitu sangat memperhatikan dirinya.
Ingin sekali ia memberi pelukan terimakasih atas segalanya, namun ia sangat caggung untuk melakukan itu. Namun di bayangannya ia sedang memeluk erat Bagas. Bahakan kini tatapan perlahan berpusat di area bibir Bagas. Dan seketika bayangan Nadira buyar, begitu pintu kamar di ketuk staf hotel.
Bagas kemudian mengambil alih wadah yang berisikan air hangat, lalu ia duduk bersimpuh dan perlahan ia membawa kaki Nadira masuk kedalam air terasbut.
"Bagaimana? ini akan melncarkan peredaran darah di kakimu dik." Ucap Bagas dengan telaten mengurus Nadira.
"Terimakasih bli." Ucap Nadira seraia meraup wajah Bagas dengan kedua tangannya.
Nadira mulai mendekatkan bibirnya, dan dengan mata terpejam, ia merasa benda kenyal milik Bagas sudah menempel dengan miliknya.
Jantungnya mulai berdetak kencang, kedua matanyapun enggan untuk terbuka. seolah dirinya sedang terbang melayang di udara. Rasanya begitu berbeda, meaki ia sudah pernah melakukan itu sebelumnya.
Nampaknya malam ini akan di lalui Bagas dan Nadira dengan sesuatu yang memanaskan. Semua yang menempel di kudanya satu persatu mulai di tanggalkan.
Setelah Bagas yakin, Nadira sudah menyerahkan diri sutuhnya, Barulah Bagas memerankan peranannya. Hal yang baru untuk dirinya, yang hanya dia lihat dari beberpa film yang pernah dia lihat, juga beberpa pengalaman yang oernah ia dengar dari sahabtnya.
Kini hari ini ia bisa melakukan semuanya dengan wanita pilihannya.
Suara erangan, saling saut menyaut memenuhi ruangan kamar hotelnya. rasa lelah juga letih setelah acara pernikahan pun sudah tak lagi terasa. Bahkan kaki Nadira yang semula terasa pegal dan kaku pun sudah tak lagi terasa, terbukti dengan lincahnya pergerakannya. Semua rasa itu terbayar dengan nikmatnya malam pertama mereka.
__ADS_1