
Wahyu terkekeh mendengar pernyataan Niko yang seperti lelucon di telinganya.
Bertanggung jawab? Saat ini? Bahkan status pria itu saat ini masih menjadi tunangan wanita lain.
Tanggung jawab macam apa yang tengah dibicarakan.
“Aku akan memenuhi semua kebutuhan Ziva dan anaknya hingga kelak dia dewasa,” lanjut Niko dengan napas naik turun.
Tawa Wahyu semakin kencang terdengar.
“Kau pikir aku gak mampu menghidupi mereka? Sungguh, ucapanmu lucu sekali. Aku kaya, bahkan hartaku gak akan habis hanya untuk membiayai hidup adik dan keponakanku. Ziva gak butuh itu semua!” tekan Wahyu.
“Lalu kamu mau minta apa, hah? Menikahinya?” tanya Niko dengan tatapan mengarah pada Wahyu.
Senyum sinis terbit di bibir Wahyu. Menikah? Hah, dia tak akan membiarkan adiknya menikah dengan pria brengsek itu.
“Lucu sekali. Kamu pikir aku akan dengan mudah memintamu menikahi adikku, setelah apa yang kamu lakukan?” Wahyu menarik napas dalam dan menatap Niko tajam. “Tanggung jawabmu gak akan menghapus ingatan buruk yang telah kau torehkan untuk adikku. Kamu gak akan bisa menebus waktu enam tahun yang telah dilewati Ziva dan Ibra dengan penuh perjuangan. Kamu gak akan pernah bisa melakukannya, Nik!”
“Dengan cara apa aku bisa menebus semuanya? Katakan! Aku akan melakukannya,” lirih Niko dengan frustrasi.
“Ibra butuh donor sum-sum tulang belakang dan mungkin, hanya kamu yang memiliki kecocokan dengannya. Tebus rasa bersalahmu dengan memberi Ibra kesempatan hidup yang lebih baik,” tekan Wahyu.
Niko membulatkan matanya. “Sum-sum tulang belakang?” ulangnya dengan bingung. Sudah hampir dua tahun ini Niko memang tak pernah lagi memantau Zivanna. Mendengar bahwa putranya butuh donor sum-sum tulang belakang tentu mengejutkan untuknya. Sejak kapan?
__ADS_1
“Ya. Lakukan itu untuk menebus rasa bersalahmu pada adikku. Selamatkan nyawa Ibra dan aku gak akan mengganggumu lagi.”
Setelah mengatakan itu, Wahyu mengajak Akram pergi. Walau banyak kemarahan yang ingin disalurkan Akram, tetapi rasanya sudah cukup karena Wahyu telah mewakili semuanya.
“Jadilah pria sejati, jangan bersembunyi dan jadi pengecut. Walau hukum tak mengakuimu sebagai ayahnya, tapi secara garis keturunan dia tetaplah putramu. Mengalir darahmu dalam tubuh anak itu. Selamatkan nyawanya sebagai penebusan dosamu.” Akram menepuk bahu Niko dengan sedikit keras hingga pria itu meringis pelan.
Dalam perjalanan pulang. Suasana hening tampak mendominasi. Akram yang memegang kemudi tampak fokus menatap jalanan di depan mata yang lumayan lenggang.
“Maafkan aku, Akram,” kata Wahyu sungguh-sungguh.
Dia menyesal atas apa yang selama ini telah terjadi. Permusuhannya dengan Akram selama bertahun-tahun akhirnya terurai saat kenyataan itu menyadarkan jika Akram memang tak bersalah.
“Maaf telah menuduhmu. Memusuhimu dan bahkan pernah berpikir menghancurkanmu. Maaf,” lanjutnya dengan wajah menyesal.
“Aku ingin marah padamu, Ziva dan Niko. Tapi, sungguh aku menahan diri untuk itu. Aku gak mau semakin memperkeruh suasana. Sungguh, aku amat kecewa dengan apa yang dilakukan Ziva. Menyembunyikan kenyataan itu bertahun lamanya dan berdalih demi menutupi aib.” Hembusan napas kencang keluar dari bibirnya. “Seandainya Ibra baik-baik saja, akankah Ziva tetap akan bungkam? Lalu rumah tanggaku yang akan jadi taruhannya.”
Tangan Akram memukul kemudi dengan keras.
“Andai itu terjadi, aku gak akan memaafkan kalian.”
Setelah mengantar Wahyu ke rumah sakit, Akram langsung menancap gas kembali ke kantornya.
♡
__ADS_1
♡
♡
“Alhamdulillah satu persatu masalah kita selesai, ya Mas,” kata Amara yang berbaring di atas ranjang sambil meluruskan kakinya.
Akram dengan penuh perhatian, memijat kakinya lembut.
Sesekali mereka bertukar cerita tentang keseharian yang melelahkan.
Sesekali terdengar suara tawa dari bibir keduanya.
“Sudah kamu gak usah banyak pikiran. Fokus saja dengan kehamilanmu. Masih sering mual gak?” tanya Akram menatap Amara intens.
“Enggak, Mas. Cuma kadang-kadang saja kalau cium bau menyengat. Selebihnya sih gak ada keluhan apa pun selain pinggang nyeri dan kaki yang sering kesemutan.”
“Semoga kamu dan bayi sehat sampai nanti proses persalinan. Aamiin.”
Amara menikmati setiap sentuhan tangan Akram di kakinya. Tekanannya tak terlalu kuat juga tak terlalu pelan. Sangat nyaman hingga membuatnya mengaguap beberapa kali.
“Ngantuk, Mas.”
“Tidurlah. Miring bisa? Biar aku pijat punggungmu.”
__ADS_1
Amara mengangguk dan tersenyum. “Makasih, Mas.”
To Be Continue ....