Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Nadira duduk seorang diri di kursi kelas bisnisnya, terlihat suasana cukup sepi, hanya ada beberapa penumpang yang ada disana.


Nadira kemudian mengambil majalah untuk ia baca mengisi kebosanannya, Sampai matanya mulai terasa berat. Nadira kemudian menyimpan kembali majalahnya, dan mulai terlelap.


Sampai terdengar pemberitahuan dari awak kabin yang memberitahu bahwa pesawat yang di tumpanginnya akan transit.


Kali ini Nadira transit di Dubai, ada waktu 3 jam sebelmum penerbangannya di lanjutkan. Nadira pun berinisatif untuk beristirahan di salah satu hotel dekat dengan bandara. Karena ia sudah memiliki rencana akan mengembangkan bisnisnya di kota yang kaya akan minyak dan emasnya.


Nadira masuk dengan terkesima melihat interior dalamnya, ia pun penasaran dengan orang di balik desain tersebut.


Nadira semakin di buat takjub saat memasuki kamar yang ia pesan. seakan ia tak ingin meninggalkan tempt itu secepatnya.


Sampai alarm ponselnya berdering hingga membangunkan Nadira yang terlelap. Nadira terkejut, sebab waktu tiga jamnya hampir habis, ia pun bergegas merapikan pakaiannya dan siap meninggalkan kamar hotelnya.


Dengan langkah cepat, Nadira meninggalkan Kamarnya, sampai tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria yang muncul tiba-tiba dari kamar hotel yang ia lewati.


"Maaf, saya tidak sengaja." Ucap sang pria sambil membantu Nadira memunguti barang yang terjatuh dari dalam tasnya.


Nadira yang sedang memunguti barangnya, Seketika tubuhnya menegang, sebab ia merasa kenal dengan suara dari pria yang tepat di sampingnya.


Perlahan Nadira menoleh, dan seketika Nadira berdiri, Ia sangat terkejut. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan pria yang ingin ia hindari di belahan dunia yang berbeda.


"Liam, kamu di sini juga?" Tanya Nadira bingung. Ia belum siap bertemu denga Liam secepat ini.


"Kebetulan aku menginap disini." Jawab Liam tetap dengan senyum ramahnya.


Nadira tidak boleh berlama-lama, lagi pula waktunya sudah tidak banyak. Nadira kemudian izin untuk jalan mendahului Liam.


Liam dengan langkahnya yang santai, tetap berada di belakang Nadira, bukan bermaksud untuk mengikuti Nadira, hanya saja sepertinya tujuannya sama.

__ADS_1


Benar saja, arah Nadira menuju Bandara sama dengan arah tujuannya, seketika memorinya mundur kebelakang, dimana Bandara adalah tempat yang paling membahagiakannya di kala itu. Liam bisa menebak semua yang akan di lakukan Nadira, seperti saat ini Nadira mulai memasuki resto ayam, seperti yang selalu di lakukannya.


Rasanya Liam ingin terus mengikuti, dan duduk di sebelahnya, Namun mengingat Nadira sudah memiliki Suami, Bagaikan tamparan untuknya.


Liam pun hanya melewati Nadira begitu saja, sambil berharap bahwa Nadira akan ada di penerbangan yang sama,karena memang tujuan mereka sama.


Masih ada 20 menit sebelum pesawat siap landas, Namun kursi di sampingnya masih kosong, ia pun menoleh ke sekitarnya mencari sosok yang sedang di tunggunya.


Tiba-tiba suara Nadira terdengar dan mengejutkannya.


"Kita di penerbangan yang sama." Ucap Nadira yang sudah berdirsi sebelahnya.


Ternyata tuhan menjawab semua harapan dan doa yag Liam panjatkan, Di hadirkannya Nadira duduk tepat di sebelahnya.


"Ya, Kamu sendirian?" Tanya Liam.


"Iya, suamiku harus menunda kepergiannya karena suatu alasan." Jawab Nadira memberi kesan lain Bagi Liam.


...****************...


Liam mengejar Nadira begitu mereka turun dari pesawat, Setidaknya Liam ingin memberi tumpangan untuk Nadira sampai ke Nadvilla, Karena mobil Liam berada di parkiran bandara.


"Aku tidak ingin merepotkan." Jawab Nadira menolak tawaran Liam.


"Anggap saja ini sebagai pelayanan dari perusahaan kami." Bujuk Liam.


Nadira hampir saja tertawa dengan alasan yang Liam gunakan. Memang cukup masuk akal namun terlihat konyol.


"Baiklah." Jawab Nadira.

__ADS_1


Nadira hanya ingin berhati-hati, ia tidak ingin terlalu dekat dengan Liam sehingga membuat kehadian dulu terulang lagi. Karena walau bagaimanapun Liam tetaplah Liam seorang pria yang pernah singgah di hatinya..


Tak ada obrolan penting di sepanjang perjalanan mereka, Nadira sibuk dengan ponselnya, sementara Liam fokus berkendara dengan sesekali melirikan matanya kearah Nadira.


"Terimakasih tumpangannya." Tutur Nadira begitu turun dari mobil Liam.


Dengan di sambut para pekerjaannya, Nadira pun masuk kedalam villanya.


hari pertama kedatangannya, ia habiskan dengan beristirahat. Barulah keesokan harinya ia memulai pekerjaannya.


Di awali dengan sarapan pagi, berbaur dengan para tamu villanya yang lain. Tiba-tiba salah satu pekerjanya memberitahukan bahwa sebuah mobil sudah menunggunya.


Dan itu membuatnya terdiam merasa heran, karena rencananya ia sendiri yang akan berkendara menuju kantor TBL.


Nadira segera menyelsaikannya sarapannya, kemudian menghampiri mobil yang di maksud.


"Liam..."


Nadira terkejut karena ia pikir TBL mengirimkan supir untuk menjemputnya, namun ternyata petingginya sendiri yang datang menjemputnya. dan menurutnya itu sangat berlebihan. Dan ia tidak tahu apa sebenarnya tujuan Liam.


"Aku datang menjemput kamu Nad." Ucap Liam dengan santai.


"Ini sangat berlebihan pak Alex." Tutur Nadira yang Lagi-lagi membuat Liam terdiam terhalang dinding besar.


"Maaf, jika saya tidak sopan. Ini salah satu pelayanan dari TBL dalam menjemput klien kami." Balas Liam terdengar hanya alasan saja.


"Saya juga harap kedepannya pak Alex bisa memberi pemberitahuan terlebih dahulu jika akan datang menjemput." Lanjut Nadira.


Nadira harus menegaskan semuanya kepada Liam, bahwa Liam dan dirinya kini hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih dari itu. Nadira hanya ingin belajar dari masa lalunya.

__ADS_1


"Sekali lagi saya mohon maaf, kedepannya saya akan memberi kabar terlebih dahulu." Liam merasa semakin terhempas jauh dari Nadira. Namun harapan -harapan kecilnya selalu ada, dan ia tidak ingin kehilangan itu.


__ADS_2