Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Ujian cinta


__ADS_3

Persiapan pernikahan dilakukan kedua orang tuanya. Sementara sang mempelai pria dan wanita masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Beberapa kali mereka telah bertemu untuk melakukan fitting gaun pengantin yang akan dipakai untuk acara resepsi.


Siang itu saat jam makan siang, tiba-tiba Akram mendatangi kantor dan mengajak Amara makan siang. Tentunya tidak hanya berdua saja karena masing-masing dari mereka juga membawa sekretarisnya.


Mereka memang tak terlalu sering berkirim pesan. Hanya jika hal-hal yang penting dan mendesak saja mereka akan berkomunikasi. Mengingat pesan Ahmad Arsalan yang mewanti-wanti untuk tidak berkirim pesan cinta.


Namun, namanya anak muda, ada saja tingkahnya.


Setelah duduk di meja yang berisi empat orang, mereka memesan makanan yang diinginkan.


Sambil menunggu pesanan, mereka mengisi waktu dengan sebuah obrolan singkat.


“Bagaimana harimu, Mara? Jangan terlalu memaksakan diri dan tetap jaga kesehatan,” kata Akram perhatian.


“Not bad, banyak banget pekerjaan menumpuk yang gak ngizinin aku buat narik napas lega. Memang bisnis bukan passion aku,” jawab Amara sambil menghela napas lelah.


“Kamu bisa menjadi pelukis seperti cita-citamu.” Akram mengingat bahwa wanita itu pernah mengatakan bahwa ingin menjadi pelukis terkenal dan mempunyai galeri seni sendiri.


“Lalu menelantarkan perusahaan ayah yang telah dibangun susah payah? Aku gak egois dengan mengorbankan banyak orang yang bekerja di sana. Mungkin jika Mas Juan masih ada di sana aku bisa melakukannya, tapi bujang lapuk itu sudah kembali ke kotanya.” Amara menggeleng lemah. Bisa saja sang ayah menunjuk orang lain sebagai CEO untuk menjadi pemimpin tertinggi kelak, tetapi sebagai pemilik saham terbesar, hanya keluarga mereka lah yang bisa menduduki posisi itu.


“Boleh aku tetap bekerja, kan Mas meskipun kita sudah menikah nanti?” tanya Amara yang ingat bahwa belum membicarakan soal itu.


“Boleh. Asal kamu tetap bisa membagi waktunya. Menikah itu bukan berarti aku merenggut kehidupan kamu. Selagi itu hal yang baik dan gak merugikan, aku tentu akan mendukungmu.”


Obrolan keduanya sudah tak kaku seperti dulu. Mereka bisa bicara apa adanya asal masih dalam batas wajar dan tidak menjurus ke hal lain.

__ADS_1


Setelah menyantap makan siang, Amara pamit sebentar untuk pergi ke toilet.


“Mara!”


Amara yang masih menunduk karena membaca pesan seketika mendongak ketika suara yang tak asing itu merasuk di telinganya.


“Mas Haris,” gumamnya pelan. Dia menatap dan mengamati mantan calon suaminya. Tatapan keduanya beradu, tetapi Amara tak lagi merasakan apa pun, tiada lagi tatapan penuh cinta dan mendamba yang dulu tersorot dari manik matanya.


“Apa kabar, Mara? Lama gak pernah melihatmu,” kata Haris dengan senyum tipis. Dia berjalan maju, tetapi justru Amara mundur beberapa langkah dan menghindar.


“Aku permisi dulu, Mas.” Saat Amara melewati Haris, pria itu mencekal pergelangan tangannya, lalu mengucapkan maaf karena kelancangan yang dilakukan.


“Jaga batasanmu, Mas Haris!” bentak Amara dengan sedikit kasar, menepis tangan itu.


Kata maaf itu tidak lagi berarti apa pun. Semuanya sudah usai, kenapa di saat seperti ini mereka harus bertemu kembali?


“Aku sudah melupakannya!” Amara kembali melangkah, tetapi dia dapat merasakan tatapan seseorang yang masih mengawasinya.


“Aku sedang dalam proses perpisahan,” kata Haris membuat langkah Amara terhenti, tetapi sama sekali tak membuatnya menoleh.


“Itu bukan urusanku, Mas Haris. Apa pun yang terjadi denganmu sudah gak ada kaitannya lagi denganku,” kata Amara acuh tak acuh dan berlalu begitu saja.


Mau bercerai juga bukan urusanku! Siapa dirimu? Aku gak peduli dengan apa pun yang kamu lakukan!


Amara kembali menuju meja dan mendapati pertanyaan dari calon suaminya karena melihat wajahnya yang tampak kesal. Namun, dia tidak menceritakan apa yang baru saja dialami, tidak ingin menimbulkan permasalahan.

__ADS_1


Pukul satu kurang sepuluh menit, mereka meninggalkan restoran. Amara dan sekretarisnya diantar kembali ke kantor.


Lalu lintas yang tak begitu padat membuat perjalanan mereka lancar tanpa hambatan, lagipula jarak kantor dan restoran tak terlalu jauh.


“Terima kasih, Mas. Hati-hati di jalan,” kata Amara sebelum turun dari mobil.


Pertemuan singkatnya dengan Haris sama sekali tak meninggalkan kesan apa pun lagi. Saat menatap sosoknya Amara juga tidak lagi merasa sakit hati atau terluka.


Rasa itu sudah benar-benar hilang.


Kenangan itu sudah tak lagi membekas dalam ingatan.


Ponsel Amara bergetar, dia mencoba mengabaikannya karena waktu sudah menunjukkan tengah malam. Siapa juga yang menghubunginya di tengah malam seperti ini. Tidak sopan, pikirnya.


Tangannya menggapai ponsel yang ada di atas nakas, dengan malas matanya melihat layar yang menampilkan sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenal, tetapi Amara mengingat nomor tersebut. Dia mendengus pelan dan menolak panggilan tersebut.


Panggilan itu terus berulang, Amara yang jengah memasukkan nomor tersebut ke dalam daftar blokir.


Dia tidak lagi ingin menjalin hubungan apa pun dengan pria itu lagi. Apa pun. Biarkan semuanya hanya menjadi masa lalu.


Amara mematikan ponsel dan memilih tidur.


Karena tubuh yang lelah terkadang membuat pikiran menjadi kehilangan kendali. Dia tidak mau merusak apa pun yang sudah di depan mata.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2