
Sandy tidak bisa menerima dengan keputusan kakaknya juga keponakannya, ia tidak terima jika Liam akhirnya akan bersanding dengan Nadira, selain Nadira adalah mantan istrinya, Sandy juga belum bisa melupakan Nadira.
Rasa kesal Sandy, menggangu Rani yang tidak mengerti apapun terkena imbasnya. Karena Sandy melampiaskan kekesalan kepada istrinya.
"Sudahlah, itu sudah menjadi keputusan Liam. Kita hanya bisa mendukung mereka." Ucap Rani yang sudah kesal karena mendengar suaminya yang terus membahas tentang Nadira dan Liam di depannya, dan sama sekali tidak memperdulikan perasaannya yang mendengar semua itu.
"Tapi mereka tidak menghargaiku." Jawab Sandy yang semakin kesal karena istrinya sendiripun tidak mendukungnya.
"Justru kamu yang tidak menghargai aku dan anakmu, keluarga kamu sendiri. kamu hanya memperdulikan wanita yang akan menjadi istri dari keponakanmu. kamu masih saja terpaku kepada Nadira sedangkan Nadira sudah tidak mengggap kamu." Kesal Reni membanting pintu meninggalkan Sandy di dalam kamar.
Reni selama ini sudah berusaha membuang bayang-bayang Nadira dari dalam kepala suaminya, bahkan sering kali ia merasa lelah, namun rasa cintanya lebih besar dari Sandy, yang menyebabkan dia terus berusaha mengemis cinta suaminya.
Demi untuk dirinya juga usahanya selama ini agar tak menjadi sia-sia, membawa mobilnya untuk bertemu dengan Liam meski jam sudah menujukan dini hari. Reni sama sekali tidak menghubungi Liam terelbih dahulu, karena jika ia lakukan itu kemungkinan Liam menolak untuk bertemu.
Reni berusaha menelphon Liam berulang kali, karena jelas hari sudah sangat malam dan Liam pasti sedang tidur terlelap, namun Reni terus berusaha sampai Liam mengkat ponselnya.
Liam yang terganggu dengan suara getar dari ponselnya pun terbangun dan melihat nama tantenya tertera di layar ponselnya, dengan menggosok kedua matanya mencoba tersadar bahwa ia bukan sedang bermimpi, melainkan kenyataan bahwa Reni sudah menunggunya di parkiran apartemannya.
Dengan pakaian seadaanya, juga wajah yang kusut Liam turun menemui Reni untuk menanyakan alasan menemuinya di jam yang tidak normal.
"Ada apa?" Tanya Liam yang selalu sinis jika berbicara dengan Reni, Meski ia sudah tak membenci Reni seperti dulu, namun pembawaannya tak pernah berubah,
__ADS_1
"Apa kamu yakin untuk kembali dengan Nadira, secara tidak langsung kamu membawa dia kembali di kehidupan Sandy." Ucap Reni yang membuat Liam terkekeh. Liam merasa lucu karena Reni datang dini hari hanya untuk menanyakan hal seperti itu.
"Kenapa? Apa tante tidak percaya dengan om Sandy?" Bukannya menjawab Liam justru balik bertannya.
"Liam mungkin kamu tidak pernah memikirkan hal ini, Om kamu itu tidak akan menerima begitu saja, selama ini Nadira memiliki arti lain di kehidupannya, Rencana kamu ini sangat gila, Membawa masa lalu itu tidak akan pernah berakhir baik."
" Cukup. Ini sudah keputusanku, tante tidak bisa mengaturnya. jika tante merasa khawatir , awasi saja dengan ketat suami tante." Ucap Liam yang kemudian pergi meninggalkan Reni.
Reni sangat kesal karena usahanya bertemu Liam tidak berjalan sesuai keinginannya, dia hanya bermaksud baik, memperingati Liam agar berhati-hati membawa kembali Nadira dalam kehidupan Sandy, karena ia merasa akan ada sesuatu yang ia khawatirkan mengancam khidupan rumah tangganya.
*******************
Sesuai jadwal, bahwa hari ini Nadira akan menemui dokter kandungan, namun kali ini ia akan pergi bersama dengan calon mertuannya, karena Sandra sangat ingin melihat bayi di dalam perut Nadira. Sebelum berangakt bekerja Liam terlebih dahulu mengantarkan Nadira menuju rumah orang tuannya, karena nanti Nadira dan Sandra akan pergi di antar supir sang mama.
"Mama bisa istirahat saja, biar aku pergi sendiri dengan taxi." Ucap nadira memnbantu Sandra berbaring di atas kursi.
"Jangan sayang, kamu tidak boleh sendiri, supir mama akan mengantarkan." Dengan terpaksa Sandra meminta supirnya mengantarkan Nadira tanpa dirinya.
Akhirnya Nadira pergi untuk menuju rumah sakit memeriksakan kandungannya, namun tanpa Nadira sadari sejak tadi sandy sudah mengekori Nadira, sandy yang tahu tentang kepergian nadira sudah sejak pagi menunggu tak jauh dari rumah kakaknya. Sandy hanya ingin mendapatkan kesempatan bertemu Nadira berdua saja.
nadira duduk di kursi tunggu, menunggu namanya di panggil. pemeriksaan kali ini cukup terasa hampa, karena ia hanya seorang diri, tanpa liam yang selalu menemaninya.
__ADS_1
"Sendiri saja, kemana perginya calon suami yang biasa menemanimu?" tanya seseorang di samping nadira. Sontak saja Nadira menoleh dan terkejut, mendapati Sandy sudah duduk tepat di sampinya.
"kamu mengikutiku?" Tanya Nadira sedikit ketakutan, untung saja namanya tiba-tiba di panggil, akhirnya ia mendapat kesempatan untuk kabur dari Sandy.
Namun rupanya nadira salah, karena Sandy tak diam saja, melainkan mengikutinya yang hendak masuk keruangan pemeriksaan.
"Kenapa kamu masih mengikutiku?" Tanya nadira kesal.
Melihat Nadira yang kesal seperti ini mengingatkan pada Nadira yang dulu yang selalu mudah marah kepadanya.
"Hanya ingin saja." Jawab sandy dengan memerkan gigi rapinya.
Nadira tidak tahu lagi harus bagaimana, ia hanya meminta suster untuk tidak mengizinkan Sandy untuk mengikutinya masuk.
Nadira merasa sandy tidak akanmenyerah, sehingga iia memberi tahu semuanya kepada Liam, dan tentu saja Liam sangat marah dengan sikap sandy dan segera meninggalkan pekerjaannya untuk segera menemui Nadira.
Dugaan nadira benar, begitu ia keluar ternyata Sandy masih menunggunya, Nadira hanya melewatinya begitu saja, namun tiba-tiba Sandy menarik tangannya. " Aku perlu bicara."
"Lepaskan, aku bisa jalan sendiri." Ucap Nadira menarik paksa tangannya, dan terus mengikuti Sandy sampai ke sebuah cafe.
Ia tak pernah membayangkan akan duduk berdua lagi dengan Sandy, dari gelagat yang Sandy tunjukan, sepertinya memang ada sesuatu yang akan Sandy ucapkan. Namun apapun itu Nadira tak ingin lagi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Sandy, Ia hanya berharap Liam segera datang dan membawanya pergi.
__ADS_1
Belum juga Sandy bicara, Liam sudah datang di hadapan mereka, "Sayang, ayo kita pulang." Liam menggengam tangan Nadira dan segera membawanya pergi dari hadapan Sandy.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Liam merangkul Nadira, Liam tidak tahu akan sejauh apa sandy akan mengganggu Nadira. liam merasa harus mengambil tindakan agar hal ini tidak terjadi lagi.