Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Alasan di Balik Sikap


__ADS_3

Bagas tidak bisa tenang setelah bertemu dengan Liam pagi tadi. Ucapan liam terdengar seperti ancaman baginya, meski ia sangat tahu maksud dari perkatan Liam, dia hanya ingin dirinya untuk lebih memperhatikan sang istri, yang memang akhir-akhir ini ya membangun jarak, namun ia tak hanya diam saja, ia berusaha terus mengejar agar tidak semakin jauh jaraknya dengan Nadira.


Namun salah jika mengabaikan semua perkataan Liam, karena ia tahu itu tak hanya sebatas kata-kata belaka, jika Liam bertekad maka itu akan terjadi.


Bagas menatap jarum jam di depannya, detik demi detik seakan terdengar semakin jelas, namun ia tak boleh hanya duduk di dalam kantornya. Bagas kemudian beranjak meninggalkan ruangannya, dengan langkah cepat, Bagas menuju respsionis menanyakan keberadaan Liam, karena yang ia tahu Liam hanya akan semalam berada di hotelnya.


"Pak alex baru saja meninggalkan hotel." Ucap salah satu pekerjanya.


Bagas pun segera berlari, untuk menyusul Liam, berharap Liam belim terlalu jauh meninggalkan hotelnya.


Bagas menghalangi Liam untuk masuk kedalam mobil. Jika saja ia telat sedikit, mungkin Liam sudah naik taxi yang tepat di depannya.


"Ada yang ingin saya bicarakan." Ucap Bagas dengan sedikit ragu.


Bagas sempat maju mundur untuk mengatakan keadaannya kepada Liam. Namun ini adalah salah satu cara untuk membuat Liam mengerti keadaan sebenarnya.


Kini mereka tengah duduk saling berhadapan di sebuah caffe tepat di sebrang Gasturi Hotel, Liam masih menunggu Bagas yang sejak kedatangan mereka belum mengeluarkan sepatah katapun. Bagas terlihat gelisah, bahkan kini keringatnya keluar, meski suhu sejuk memenuhi caffe tersebut.


"Ada alasannya mengapa aku sampai seperti ini kepada Nadira, Aku sedang mengatasi trauma masa kecilku." Bagas mulai menceritakan bagaimana awal trauma itu kembali mengganggunya, yaitu tepat mengetahui kehamilan Nadira, ia juga menceritakan bagaimana ia sedang berusaha keras untuk sembuh dan kembali kepada istrinya.


"Jika ternyata traumaku tidak juga sembuh hingga Nadira berada di sini, dan aku pun tidak sanggup untuk menemui Nadira, maka aku akan menyerah."


Bagas sudah mengambil keputusannya, ia tidak ingin egois. Karena Nadira pasti butuh seseorang yang selalu di sisinya, butuh sosok yang bisa menjaga dia dan anaknya kelak.

__ADS_1


Liam sangat terkejut dengan apa yang di ucapakan Bagas, ia sudah berpikiran buruk tentang Bagas, tapi ternyata ada alasan pahit di belakang itu.


"Fokus saja dengan kesembuhanmu, saya pastikan Nadira akan baik-baik saja." Ucap Liam yang kini bersimpati kepada Bagas. Kini ia tahu Bagas begitu tersiksa menghadapi masalah itu, ia sangat tahu bahwa keinginan Bagas adalah menemani Nadira di saat-saat kehamilannya, karena itu juga merupakan impian semua pria dalam fase rumah tangganya. Karena Bagas adalah tipe pria penyayang bahkan ia rela melepaskan cintanya untuk bersanding dengan Bagas. Dan ternyata ia tak salah dengan keputusannya.


...****************...


Liam sudah kembali dari perjalanan bisnisnya, setelah satu hari di Bali dan satu hari di jakarta ia pun segera mengambil penerbangan tercepat untuk kembali pulang menemui Nadira. Rasanya ia sudah sangat merindukan bisa berada di sisi Nadira, melayani ibu hamil memang mebuatnya terasa berbeda. Ada kebahagiaan tersendiri bisa mengajak bayi di dalam perut Nadira berbicara, meski ia tidak tahu apa bayi tersebut mengerti, Namun menurut buku yang pernah ia baca, apa yang ia lakukan sangat berpengaruh.


Begitu sampai di depan rumah, Liam segera masuk dan mencari keberadaan Nadira di dalam rumah yang terasa sepi. Namun Liam tak menemukan nadira di dalam kamarnya, seketika ia menjadi panik, karena ia sudah memanggil Nama Nadira berulang kali, namun tak ada jawaban. Liam terus mencari Nadira di semua ruangan, ia khawatir terjadi sesuatu kepada Nadira, sementara kedua sahabatnya ia suruh untuk melanjutkan pekerjaannya.


Namun perasaannya lega, saat melihat Nadira yang sedang tertidur pulas di pinggi kolam berenang, pantas saja ia tak mendapatkan jawaban dari semua panggilannya.


Liam perlahan membawa Nadira dalam gendongannya, karena akan tidak nyaman punggung Nadira jika nanti ia terbangun.


Melihat Nadira terlelap tidur, membuat Liam merasa bersalah, apa lagi setelah mendengar kenyataan Bagas, itu semakin membuatnya bersalah. Kenapa Nadira harus mendaptkan cobaan seperti itu? ia hanya ingin Nadira hidup bahagia bersama suaminya. Tanpa masalah apapun.


"Iam, kapan kamu sampai?" Tanya Nadira yang merasakan kehadiran Liam di sisinya, Nadirapun perlahan membuka matanya.


"Aku baru saja datang, lanjutkan saja tidurmu." Ucap Liam mengusap pucuk kepala Nadira sehingga membuat Nadira kembali terlelap.


Setelah melihat Nadira yang kembali tertidur, Liam perlahan beranjak meninggalkan kamar Nadira, untuk membersihkan diri setelah perjalanan panjangnya.


...****************...

__ADS_1


Sudah dua bulan Nadira tinggal di rumah sewaannya, perutnya pun mulai terlihat membesar, sudah tidak ada lagibkeluhan seperti di awal-awal kehamilannya, Nadira terbilang sudah semakin sehat dan kehamilannyapun kuat.


Hari ini adalah jadwal Nadira untuk memeriksakan kandungannya, serta menanykan tentang boleh tidaknya ia melakukan perjalanan jauh. Karena ia sudah tak sabar ingin segera pulang.


Dengan di antar Liam, Nadira pun menemui dokternya, seperti biasa ia akan menunggu sebentar sebelum gilirannya menemui sang dokter. Dengan terus di temani Liam, nadira mendengar detak jantung yang sudah terdengar jelas memenuhi ruangan,dan lagi-lagi itu membuat pasangan yang bukan suami istri itu terharu.


"Selamat, yang bu Dira tunggu akhirnya terjadi." Ucap sang dokter memberikan surat pernyataan bahwa kehamilan Nadira di nyaatakan aman untuk penerbangannya.


Nadira tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, ia segera meluapkan itu dengan memeluk orang yang duduk tepat di sampingnya.


Namun berbeda dengan apa yang Liam rasakan, ia tak mau kebersamaannya dengan Nadira harus berakhir, karena kebersamaan itu sangat singkat baginya. Lagi-lagi keegoisan Liam mempengaruhi isi kepalanya. Kebersamaan dengan Nadira sudah membuatnya nyaman, bahakan ia sudah terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Aku sangat Bahagia, akhirnya sebentar lagi aku akan bertemu dengan Bagas dan bayi ini akan segera mendengar suara papanya." Ucap Nadira memegangi perutnya, karena selama ini bayi dalam perutnya belum mengenal papanya sedikitpun.


Nadira melirik Liam yang hanya menatap jalanan, dan tak menanggapi semua ucapannya.


Sepanjang perjalanan ini Liam banyak terdiam, berbeda dengan saat mereka berangkat, jalan pulangnya kini terasa hampa.


"Iam, kamu kenapa?" Tanya Nadira memastikan Liam baik-baik saja, ia tidak terpikir bahwa diamnya Liam adalah karena harus berpisah dengannya.


"Aku baik-baik saja, nanti aku yang urus kepulangan kamu." Ucap Liam dengan wajah datarnya. terdengar dingin di telinga Nadira.


Nadira segera diam, tak lagi mengeluarkan kata-katanya. ia tak tahu mengapa Liam menjadi diam seperti itu di sepanjang perjalanan pulang.

__ADS_1


__ADS_2