Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Sakit


__ADS_3

Amara menahan pusing di kepalanya. Beberapa hari ini banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan membuatnya kurang tidur, mungkin itu menjadi penyebabnya.


“Sayang kamu kenapa?” tanya Akram yang kembali ke kamar menemui istrinya. Padahal dirinya tadi sudah menunggu di meja makan.


“Kepalaku sakit banget, Mas.”


Akram menuntun Amara ke sisi ranjang dan memberikannya air putih. Wajah istrinya memang tampak sedikit pucat dengan mata yang terlihat sayu.


“Aku panggilkan dokter ya.”


Amara menggeleng pelan. “Gak perlu. Ini mungkin hanya efek karena kurang tidur saja.”


“Kamu gak perlu ke kantor, nanti biar aku bilang sama ayah kalau kamu sakit.”


Amara mengangguk lemah. Dia memilih kembali merebahkan tubuhnya dan menutup mata yang terasa panas.


“Minta tolong carikan obat pusing saja, Mas.”


“Ya, kamu tunggu sebentar, jangan turun dari ranjang.”


Akram segera keluar dari kamar dan mencari persediaan obat. Juga meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk dibawa ke kamar.


Setelah mendapat obat yang dibutuhkan, Akram kembali ke kamar.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


“Masuk,” kata Akram yang berada di sebelah istrinya.


“Ini sarapannya, Pak.”


Kebetulan Anita yang membawakan sarapan itu ke kamar. Sebelumnya dia bahkan tak pernah memasuki kamar utama di rumah ini. Sebab hanya Meri yang diizinkan keluar masuk ke dalam kamar utama dan memegang kunci kamar itu.


Wanita itu menganggumi desain kamar yang serba mewah dengan ukuran yang sangat luas, lalu membandingkan kamar di rumahnya sendiri yang bahkan lebih bagus kamarnya di sini.


Andai dia bisa mendapatkan pria kaya, mungkin hidupnya akan bahagia.


Anita tersenyum dan mengangguk. Dia menoleh ke atas ranjang dan melihat majikannya masih tidur. Tidak seperti biasanya. Tumben sekali.


“Bu Mara kenapa, Pak?” tanya Anita dengan pelan.


“Lagi gak enak badan. Tolong suruh Bu Meri ke kamar,” kata Akram yang secara tidak langsung meminta wanita itu untuk segera keluar dari kamar.


Anita mengangguk paham dan segera keluar dengan senyum tipis. Andai dia yang jadi istrinya pasti hidupnya akan bahagia.


Bermimpi setinggi-tingginya boleh, kan? Anita sedang melakukannya, berharap mimpinya akan jadi kenyataan.


Akram mengusap pipi Amara lembut sambil berbisik lirih di telinganya, “Sayang bangun. Sarapan dulu dan minum obat, nanti kamu bisa tidur lagi.”

__ADS_1


“Aku gak mau makan. Aku hanya perlu obat, Mas.” Amara menjawab tanpa membuka mata.


“Mana boleh. Kamu harus makan sedikit.”


Namun, ucapan Akram justru tak mendapatkan respons apa pun.


Mau tidak mau Akram harus sedikit memaksa sang istri. Dia membangunkan wanita itu dan mendudukkannya dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang. Memaksa wanita itu untuk menelan sarapan walau hanya beberapa sendok. Setelah itu baru dia ulurkan obat dan air putih.


“Kamu gak ke kantor? Tinggal saja aku gak apa-apa.”


“Mana bisa aku ninggalin kamu kayak gini.”


“Aku hanya butuh tidur dan akan baik-baik saja setelahnya. Aku tahu kamu banyak pekerjaan,” kata Amara paham.


“Kamu lebih berarti daripada setumpuk dokumen menyebalkan itu, Mara.”


Amara terkekeh pelan. Dia memajukan kepalanya untuk meminta kecupan yang langsung dimengerti oleh suaminya.


Tak butuh waktu lama. Amara langsung tertidur dengan tenang saat matanya terasa berat.


To Be Continue ....


...♡♡♡...


...Hi, aku belum bisa update banyak-banyak karena beberapa hari ini aku terserang demam dan tekanan darah rendah....

__ADS_1


__ADS_2