
Nadira kembali kedalam kamar setelah kepergian Liam, ia kemudian duduk di depan cermin meja riasnya, sekelibat bayangan hari-hari yang pernah ia lewati bersama Bagas memenuhi kepalanya, bahakan dulu ia sampai mengatakan bahwa pernikahannya dengan Bagas akan menjadi pernikahan terakhirnya, apapun yang terjadi ia akan mempertahankan pernikahannya. Namun kini ia tak boleh hanya memikirkan dirinya saja, mungkin ia bisa tetap bertahan dengan Bagas, tapi bagaimana dengan nasib anak yang di kandungnnya, anaknya tidak bersalah sampai tidak menerima kehadiran seorang ayah, meski ada kemungkinan trauma Bagas sembuh, namun butuh waktu lama, dan Nadira tidak bisa untuk menunggu yang tidak pasti.
Menatap sebuah laci di dekatnya, kemudian menariknya untuk mengeluarkan sebuah map coklat, yang beberapa hari lalu berada di atas meja kantornya, Nadira mengulang membaca isi map tersebut, dengan tangan kanan yang sudah memegang sebuah pena, akhirnya goresan penanya tertera di atas kertas putih yang menjadi akhir dari perjalanan rumah tangganya bersama Bagas.
***"Bli\, aku sudah mengambil keputusan\, meski berat tapi ini adalah yang terbai bagi kita berdua dan juga calon anak kita. Aku sudah menandatangani surat cerai yang kamu berikan\, dan besok akan aku serahkan kepada pengecaraku." ***Tulis pesan teks yang Nadira kirimkan kepada Bagas.
Tidak perlu menunggu lama, Nadira sudah menerima balasan dari Bagas yang menghubunginya lewat sambungan telphon.
"Aku hargai keputusan kamu, maaf tidak bisa membuat kamu dan anak kita bahagia." Ucap Bagas yang membuat airmata Nadira membanjiri pipinya. Kalimat bagas terasa begitu menusuk di hatinya. Entah mengapa bisa sesakit itu, padahal Nadira yang memutuskan semuannya.
*************************
Liam mengajak kedua orang tuannya untuk makan malam di luar, tidak biasannya Liam melakukan itu, sehingga membuat sandra heran, dan menduga Liam akan memperkenalkan seseorang kepadannya, seperti apa yang sempat Liam katakan, bahwa dia sudah memiliki seseorang di sisinya.
Sandra segera bergegas untuk bersiap-siap, dan meninggalkan adiknya yang kebetulan sedang bersamannya.
"Kak, mau kemana? aku belum selesai." Ucap Sandy kepada kakaknya.
"Kita tunda besok, sepertinya akan ada kabar bahagia dari Liam." jawab Sandea yang kemudia pergi dengan tergesa-gesa.
mendengar itu membuat Sandy penasaran, bahkan Sandy menduga hal yangg sama dengan apa yang di pikirkan kakaknya. Dia semakin penasarn dengan sosok yang berhasil menggeser posisi Nadira di hati Liam.
__ADS_1
"Kakak pergi dulu." Ucap Sandra yang dengan cepatnya selesai bersiap.
Sandra melesat membawa mobilnya untuk sampai di alamat restoran yang liam janjikan. Namun sebelum itu ia harus menjemput suaminya di kantor terlebih dahulu.
Liam sudah duduk menunggu kedatangan kedua orang tuanya dengan sangat gelisah, karena hari ini ia akan meminta izin untuk menikahi seorang wanita yang pasti akan membuat kedua orang tuanya terkejut.
"Mam, pah, kalian sudah sampai." sapa Liam yang mempersilahkan kedua orang tuannya untuk duduk.
"Ada apa nak? apa yang akan kamu bicarakan sampai mengajak kami makan di luar?" Tanya papa Liam mengawali pembicaraan mereka.
"Kita makan saja dulu pah, aku sudah pesankan" Jawab Liam yang masih merasa gugup untuk mengatakan tujuannya.
Waktu terasa begitu cepat, karena hidangan makan malam secepat itu sudah habis, namun rasa gugup Liam tak juga pergi, liam khwatir dengan reaksi kedua orang tuannya saat tahu wanita yang akan ia nikahi adalah wanita yang sama.
"Mam, pah, tujuan Liam adalah untuk meminta izin uuntuk menikahi wanita pilihan Liam yang sangat Liam cintai selama ini. Dan aku ingin mama dan papa setuju." Ucap Liam membuat sandra tersenyum mengembang melirik kearah suaminya, seakan tak percaya apa yang baru saja keluar dari bibir anak sulungnya.
"Jelas mama akan setuju nak, ini hal yang sangat membahgiakan, siapa dia? mama harus berterimakasih karena sudah membuat anak mama ada keinginan untuk menikah." Sandra merasa terharu, karena sebelumnya Liam pernah mengatak untuk tidak menikah.
"Betul mam, karena dengan dia aku ingin menikah." Liam semakin tegang, karena melihat respond Sabdra, yang belum tahu dengan wanita yang Liam maksud.
"Segera kenalkan kepada kami." Ucap papanya yang lebih memberi respond datar.
__ADS_1
"Iya nak, kenalkan kepada kami, mana? apa dia ikut malam ini?" Tanya Sandra mencari sosok yang mungkin saja sedang bersembunyi.
"Tapi sebelum itu,aku harus mengatakan satu hal lagi, seperti apa yang pernah aku ucapkan dulu, aku hanya ingin menikah dengan dia seorang, bahkan jika mama dan papa tak merestui, aku akan tetap menikahinya."
Ada perasaan aneh yang sandra rasakan, saat mendengar ucapan anaknya, ia sepertinya mengetahui siapa wanita yang Liam maksud.
"Mengapa kami tidak merestui, jika kamu sudah menentukan itu berarti dia yang terbaik untuk kamu." Jawab papanya.
"Iam akan menikahi Nadira." Ucap Liam menyebutkan NAma Nadira dengan penuh keyakinan.
"Nadira....," Ucap papanya mengulang nama yang sudah tidak asing di telingannya, " Nadira yang kita kenal?" Tanyanya lagi untuk memastikan.
"Betul pah, Nadira." Jawab Liam mengiyakan.
"Tunggu dulu nak, bagaimana bisa Nadira? kamu tidak merebut dari suaminya? atau kamu yang merusak rumah tanggannya?" Tanya Sandra yang tak percaya bahwa Nadira yang merupakan istri orang akan menjadi calon istri dari anaknya.
Meski Sabdra tidak percaya anaknya menjadi biabng dari hancurnya rumah tangga orang lain.
"Tidak begitu mam, Liam tidak merebut atau merusak bahkan menyakiti siapapun. ceritanya sangat panjang, yang penting Liam tidak seperti yang mama sebutkan tadi."
"Baiklah, jika memang seperti itu, mama percaya kamu, dan mama merestuinya." Ucap Sandra tak terduga, Liam sangat senang mendengarnya, bahkan papanya juga memberi restu yang serupa.
__ADS_1