Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Godaan


__ADS_3

Akram sejak tadi mondar-mandir di kamarnya. Dia dilema karena harus pergi meninggalkan istrinya. Ada sedikit revisi dari kliennya terkait pembangunan gedung yang ada di Bandung.


Bingung tentu melanda hati dan pikirannya. HPL sang istri semakin dekat, bisa maju ataupun mundur. Namun, dokter memperkirakan dalam dua minggu ini harus siaga.


Dia takut meninggalkan Amara sendirian meski sebenarnya ada orang tuanya di rumah ini.


Kecemasan Akram membuat Amara yang sejak tadi diam, akhirnya angkat suara.


“Ada apa, Mas?” tanyanya.


“Gak apa. Kenapa? Mau dipijat kah?” Akram duduk di sisi ranjang dan menatap istrinya.


Perut Amara yang semakin besar membuat wanita itu sering mengeluh sakit pinggang jika terlalu lama duduk.


Amara menggeleng pelan. “Kamu cemas. Sebenarnya ada apa?”


“Hanya masalah pekerjaan.”


“Katakan saja, mungkin aku bisa bantu kasih solusi.”


Akram akhirnya menceritakan tentang pekerjaannya.

__ADS_1


“Gak apalah kamu ke sana, kan gak lama. Insya Allah dede siap nunggu papa pulang buat nemenin dede lihat dunia,” kata Amara tersenyum sambil mengelus perutnya lembut.


“Tapi aku gak tenang ninggalin kamu, Mara.”


Amara terkekeh. “Bilang saja gak bisa jauh dari aku, Mas.”


“Itu tahu,” timpal Akram ikut terkekeh.


“Terserah kamu saja baiknya gimana. Kalau memang penting gak masalah kamu pergi. Lagipula di rumah banyak orang yang bisa dimintai tolong kalau ada apa-apa.”


Akram menimbang sesaat. Hanya revisi beberapa hal, kemungkinan tak akan memakan waktu seminggu. Itu perkiraannya.


Dia akan menyelesaikannya dengan cepat dan segera kembali.


“Tiduran saja. Aku bisa siapkan sendiri,” tolaknya dengan tegas.


Begitulah Akram. Semenjak perut istrinya semakin membesar dia tak ingin wanita hamil itu melakukan apa pun.


Akram selalu memanjakan Amara. Perhatian yang diberikan pun selalu totalitas. Termasuk hal-hal remeh sekalipun.


Pria itu selalu meminta sang asisten rumah tangga selalu membersihkan kamar mandi setiap hari. Khawatir licin, katanya. Padahal menurut Amara itu terlalu berlebihan.

__ADS_1


Tentu meski dianggap berlebihan, tetapi Amara merasa bahagia karena diperhatikan sedemikian rupa. Merasa dicintai dengan sangat besar. Di saat diluar sana banyak gosip tentang isu perselingkuhan. Mulai dari pengusaha, artis bahkan orang-orang dari kalangan biasa.


Keesokan paginya setelah sarapan bersama. Akram mengutarakan niat kepergiannya, juga menitipkan Amara pada kedua orang tuanya.


Awalnya Ahmad Arsalan agak keberatan dengan keinginan sang anak.


“Pekerjaan bisa kamu alihkan dulu pada Hakim. Kenapa harus kamu juga yang turun tangan?”


“Karena aku arsiteknya. Andai Hakim bisa aku pasti akan menyuruhnya saja yang terbang ke sana.” Akram menjawab sambil mengembuskan napas kasar.


“Kasihan istrimu. Apa kamu gak bisa melakukannya secara virtual saja?”


Akram menggeleng. “Aku harus survey lokasi dulu dan tahu detail revisinya. Setelah itu mungkin aku bisa melakukannya secara online. Untuk sekarang memang gak bisa,” jelasnya.


“Sudah-sudah. Kalau memang pekerjaannya benar-benar urgent ya pergilah. Amara pasti mengerti. Ingat ... jangan lama-lama di sana. Setelah selesai cepat balik.” Azizah melerai. Dia tersenyum saat Amara mengangguk mendengar ucapannya.


Setelah sarapan, Amara mengantarkan suaminya sampai ke halaman dan melepas kepergiannya dengan satu pelukan dan tiga kecupan di wajah.


“Hati-hati, Mas. Jaga diri, jaga hati dan jaga pandangan. Jangan sampai kamu memberi celah pada orang lain untuk masuk dan mengguncang hubungan kita.” Amara berpesan seperti memiliki firasat yang tak baik.


Akram mengangguk pasti. “Kamu juga hati-hati. Kabari apa pun yang terjadi. Assalamu‘alaikum.”

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2