Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
ART baru


__ADS_3

Pagi menyambut sepasang suami istri yang masih berkutat di kamar. Masa di mana manisnya hubungan masih dirasakan dan indahnya cinta masih bermekaran.


Saat turun ke lantai satu mereka disambut oleh tiga pelayan, salah satunya adalah pelayan kepercayaan keluarga Arsalan yang memang diminta langsung oleh Akram untuk mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan di rumah ini. Sementara satu lainnya masih baru datang kemarin dari kampung.


“Pak Akram, Bu Mara, perkenalkan ini Anita dan Tiara. Mereka yang akan bekerja membantu saya di sini. Sudah bertemu Bu Azizah dan sudah oke katanya,” kata Meri mengenalkan. “Tapi untuk Tiara, dia gak bisa menginap dan akan pulang pergi karena rumahnya gak jauh dari sini dan kebetulan ibunya sedang sakit,” jelas Meri panjang lebar, kebetulan Tiara adalah keponakan teman baiknya yang tengah butuh pekerjaan.


Sebelum datang ke rumah ini dua orang itu sudah dibawa menemui Azizah untuk memastikan bahwa mereka memang sudah biasa bekerja dan berpengalaman. Anita dan Meri sudah tinggal di rumah ini sehari setelah acara pernikahan, memastikan bahwa saat pemilik rumah datang semuanya dalam keadaan yang baik.


Amara menatap kedua orang itu intens dan mengangguk. “Terima kasih, Bu Meri. Nanti dikasih tahu saja apa pekerjaan mereka.”


“Baik, Bu.”


Amara mengandeng suaminya ke meja makan dan duduk melakukan sarapan dengan tenang.


“Mas Akram libur sampai kapan?”


“Senin saja sekalian. Kenapa?”


“Gak apa sih, cuma tanya saja. Berarti aku bisa masuk di hari Senin juga biar gak ninggalin kamu lah.”

__ADS_1


“Hakim masih akan mengurus rencana kita untuk umroh. Mungkin dua atau tiga minggu lagi kita berangkat.”


Amara mengangguk. Setelah sarapan dia menuju dapur dan membuatkan suaminya secangkir kopi. Aroma seduhan kopi yang menyegarkan sudah tercium saat Amara kembali ke meja makan dan meletakkannya di depan suaminya.


“Terima kasih, Sayang.”


Setelah suhu minuman itu tak terlalu panas, Akram mengangkat cangkirnya dan menyesap cairan hitam itu secara perlahan. Keningnya mengernyit saat merasakan pahit yang lumayan membuatnya memejamkan mata.


Entah berapa banyak takaran kopi dan gula yang diberikan istrinya, karena tak dapat dirasakan manisnya sama sekali.


Namun, melihat wajah Amar membuat Akram sedikit mengalihkan rasa pahit itu karena senyum sang istri yang tampak begitu manis.


“Enak, kok. Apalagi yang buat istri, ditambah pakai cinta.”


Amara terkekeh. “Kurang apa menurutmu, Mas? Maaf aku lupa tanya tentang seleramu.”


“Kurangnya kamu belum memberikan aku kecupan penambah semangat.”


Amara terkekeh lagi. “Ditanya serius lho.”

__ADS_1


“Kurang manis, tapi kalau sama kamu apa pun rasanya akan tetap manis saat minumnya sambil lihat wajah kamu.”


Obrolan hangat dan manis suami istri tersebut jelas mampu terdengar oleh pelayan yang saat ini tengah sibuk di dapur. Mereka hanya tersenyum melihat bagaimana interaksi keduanya.


“Mereka pengantin baru, Bu?” tanya Anita kepada Meri.


“Ya, baru nikah kemarin.”


“Pantas masih hangat-hangatnya. Coba kalau sudah bertahun-tahun pasti gak akan semanis ini lagi.”


“Hush! Jangan ngomong sembarangan. Doakan saja hubungan mereka akan selalu seperti ini.”


Meri kemudian meminta Anita untuk pergi ke halaman menyerahkan sarapan pada tukang kebun dan satpam.


Saat Anita melewati pintu samping dia bisa melihat tuan dan nyonya rumah tengah tertawa dengan begitu bahagia. Terlihat sang tuan sangat mencintai istrinya, dan siapa pun yang melihat akan merasa iri dibuatnya.


Termasuk dirinya. Wanita kelas menengah ke bawah yang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga, tetapi memiliki impian mendapatkan suami kaya raya.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2