Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Perasaan Fatimah


__ADS_3

“Kamu merasa ada yang aneh dengan Ning Fatimah?” tanya Amara saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Gak tahu.” Akram menjawab jujur, dia memang tak begitu memperhatikan wanita itu.


Memang dia tak begitu asing dengan Fatimah, mereka sudah sering kali bertemu beberapa kali, tetapi mereka tak pernah ngobrol.


Akram menghormati Fatimah sebagaimana seorang pengajar dan putri dari tokoh agama di kotanya.


Selebihnya, tidak ada.


“Mau beli sesuatu dulu gak?”


Amara menggeleng sebagai jawaban. Dia seperti malas sekali melakukan apa pun. Ingin segera tiba di rumah dan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Ah ... dia rindu ranjang dan kamarnya.




__ADS_1


Suasana hati Fatimah semakin mendung setelah mengetahui siapa sosok suami dari Amara.


Pria yang selalu dia harapkan.


Sosok yang membuatnya menolak banyak lamaran pria yang datang pada orang tuanya.


Fatimah terluka. Dia telah memendam perasaannya kepada Akram sangat lama, tetapi kenapa justru Amara yang jelas orang baru justru mendapatkan tempat lebih dulu.


Setelah puas menumpahkan air mata, Fatimah mencoba menghubungi Umi Rahma untuk bertanya. Dua kali panggilan tak terjawab, mungkin beliau tengah sibuk, tetapi saat Fatimah akan memasukkan ponselnya lagi, ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Dia langsung menjawab dengan tak lupa mengucap salam.


“Ada apa, Fatimah? Gak terjadi sesuatu, kan? Abahmu baik-baik saja, kan?” tanya Umi Rahma beruntun.


Meski tak mampu melihatnya Fatimah tetap memaksakan senyum. “Alhamdulilah baik, Umi. Abah masih menunggu donor jantung yang sesuai. Aku sebenarnya mau tanya sesuatu.”


“Amara menikah dengan Mas Akram, bagaimana bisa itu terjadi, Umi?” tanya Fatimah dengan suara pelan nyaris tak terdengar.


Terdengar helaan napas panjang dari Umi Rahma.


“Kenapa kamu menanyakan ini sekarang? Bukankah umi sudah memberitahumu sebelum Mara menikah?” Fatimah mengerjapkan mata, mengingat kembali kapan Umi Rahma pernah memberinya informasi itu. “Kamu mungkin gak menyimak, kala itu kamu sibuk mengurus umimu yang sedang sakit,” jelas Umi Rahma mengingatkan.


Fatimah mengigit bibir dalamnya, menahan isak tangis yang ingin tumpah begitu saja.

__ADS_1


“Bagaimana bisa Mara yang bersanding dengan Mas Akram sementara selama ini aku yang mengaguminya, mencintainya dalam diam. Kenapa, Umi?”


Di seberang panggilan Umi Rahma hanya bisa menarik napas dan mengeluarkannya perlahan.


“Kenapa harus Mara? Kenapa bukan aku? Apa kurangnya aku selama ini?” tanya Fatimah menuntut.


“Nak, jodoh itu rahasia Allah. Dia gak memilihmu karena memang kalian gak berjodoh, bukan karena kamu ada kekurangan dan Mara memiliki kelebihan, bukan. Sedekat apa pun kalian, jika kalian gak berjodoh akan selalu ada jalan yang menghalangi. Sejauh apa pun kalian, jika jodoh sudah digariskan, maka Allah akan mendekatkan kalian.”


“Tapi ini gak adil, Umi. Aku yang baik kenapa Mara yang ... maaf, masih belajar justru dimudahkan.”


“Bukan tentang apa, berapa atau siapa, tapi tentang bagaimana Allah SWT yang telah mengaturnya. Sebaik apa pun kamu kalau jodohnya sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Kamu bisa apa?”


Fatimah terisak pelan. Sungguh hatinya begitu nyeri merasakan orang yang selalu diharapkan dan dilangitkan namanya justru bersanding dengan orang lain.


“Nak, ikhlaskan apa yang memang bukan untukmu. Itu memang sulit, tapi pasrahkan segalanya hanya pada Allah. Semoga Allah segera hapus perasaan itu.”


“Aku mencintainya, Umi.”


“Mungkin ini juga sebagai pelajaran untukmu, Nak. Jangan mencintai ciptaan-Nya melebihi cintamu pada Sang Pencipta.”


Fatimah hanya terisak sambil membekap mulutnya supaya tangisan itu tak menarik perhatian orang, walau sebenarnya dia ingin sekali berteriak untuk melampiaskan perasaan sakit yang dirasakan.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2