
“Melamun saja,” omel Umi Rahma mengejutkan Amara yang tengah membaca buku.
“Umi,” kata Amara sambil mengulum senyum malu. Dia menggeser duduknya untuk memberi ruang pada wanita paruh baya itu untuk duduk.
“Apa yang tengah menganggu pikiranmu, Mara?” tanya Umi Rahma
“Gak ada, Umi.” Kepalanya menggeleng pelan, tangannya memainkan pena yang tengah dipegang, seolah menunjukkan gelisah yang dirasa.
“Katakan saja apa yang ganggu pikiran kamu. Kali saja umi bisa bantu. Kamu sudah umi anggap sebagai anak sendiri,” ujar Umi Rahma dengan lembut dan tampak ketulusan dari sorot matanya.
Amara menoleh dan tersenyum. Dia sudah menganggap Umi Rahma dan Ustadz Yusuf lebih dari seorang guru, sebagai orang tua kedua yang telah mengajarinya banyak hal tentang arti kehidupan.
Selama berada di sini baik Umi Rahma atau Ustadz Yusuf dan penghuni lainnya tak pernah menganggap sebelah mata. Baginya semua orang sama di mata Tuhan. Baik buruknya seseorang bukan hak manusia untuk menghakimi.
“Aku rindu luar, Umi ... maksudnya bukan karena aku gak betah, aku nyaman berada di sini, tapi aku rindu untuk kerja dan kembali pada kehidupanku.” Tampak raut wajah Amara menunjukkan kebimbangan. Takut ucapannya menyingung atau menyakiti Umi Rahma yang terlampau baik padanya.
Selama tinggal di sini, Umi Rahma tak pernah memarahinya, menghakimi kesalahannya atau menegurnya selayaknya guru pada murid.
Tidak pernah sekalipun itu terjadi.
“Umi paham apa yang kamu maksud, Mara. Kamu ingin kembali ke Surabaya dan melanjutkan hidup. Benar begitu, kan? Bagi umi gak masalah, kamu sudah mengerti mana yang baik dan gak baik. Kamu sudah belajar banyak hal di sini,” kata Umi Rahma dengan senyuman, seperti paham gelisah yang dirasa.
“Umi gak apa-apa?” tanya Amara ragu.
__ADS_1
“Hidup itu sebuah pilihan, kamu bisa memilih apa pun untuk kelangsungan hidup. Asal jangan pernah lupa pada Allah. Libatkan dan tanamkan namanya di dalam hatimu, insya Allah kamu gak akan salah jalan.”
Amara mengangguk. “Terima kasih banyak, Umi. Aku sayang umi,” katanya dengan tumpahan cairan bening yang meluncur melewati pipinya.
Waktu terasa lambat bagi mereka yang menunggu. Namun, bagi Amara, waktu begitu cepat sekali berlalu.
Seingatnya dia baru datang ke tempat ini kemarin, tetapi ternyata setahun sudah berlalu tanpa terasa.
Kehidupan mengajarkan banyak hal. Salah satunya tetap bersyukur apa pun yang terjadi, sebab nikmat dunia tak melulu karena kesenangan.
♡
♡
♡
“Mbak Mara gak akan balik ke sini lagi, ya?” tanya Aisha dengan suara seraknya.
Amara tersenyum lembut dan mengusap bahu gadis itu. “Insya Allah aku akan tetap datang dan mengunjungi kalian. Semoga aku diberikan panjang umur supaya bisa datang lagi,” katanya dengan serius.
Kini Amara berpindah ke arah Fatimah, memeluknya lembut dan mengusap punggungnya pelan.
“Terima kasih Ning Fatimah sudah membimbingku selama di sini. Semoga Allah kabulkan doa dan harapannya untuk bersanding dengan pria saleh yang diinginkan.”
__ADS_1
“Aamiin. Semoga kamu juga dipertemukan dengan jodoh yang saleh yang bisa membawamu dalam kebaikan, Mara.”
Amara beralih pada teman-temannya yang lain. Mengucapkan permintaan maaf dan terima kasih untuk setiap hari yang telah dilewati bersama.
Setelah berpamitan dengan mereka, dirinya kembali ke rumah dan memeluk Umi Rahma dengan isak tangis pelan. Sungguh berat sekali dia harus berpisah dengan orang-orang baik seperti mereka.
“Umi Rahma, Ustadz Yusuf, terima kasih karena telah menerimaku dengan tangan terbuka. Semoga Allah memberikan panjang umur agar kita bisa bertemu lagi di kemudian hari.”
Umi Rahma mengangguk. “Jangan lupa apa yang telah kamu pelajari di sini. Ingat, Allah selalu bersama hamba-Nya.”
Satu tahun telah berlalu dengan cepat. Tanpa sadar, banyak perubahan yang terjadi pada wanita yang dulunya bebas, kini sudah mampu istiqomah dengan pakaian yang menyembunyikan keindahan tubuh.
Perubahan besar benar-benar terjadi pada diri Amara, dia yang awalnya merasa bebas kini berubah menjadi wanita yang selalu menjaga pandangan, menjaga lisan dan selalu berprasangka baik pada orang lain.
Waktu memang mampu membuat seseorang berubah.
Amara yang tak pernah mengenal Tuhan, kini lebih dekat dengan-Nya.
To Be Continue ....
...♡♡♡...
...Next di part selanjutnya kita mulai dengan kehidupan baru Amara dan kisah cintanya. Jangan lupa like, komen dan vote 💛...
__ADS_1