
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Semua yang direncanakan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Amara dan Akram masih menikmati madu pernikahan di tengah kesibukan pekerjaan yang menyita waktu.
Selama perjalanan pernikahan yang hampir dua bulan lamanya, belum ada masalah berarti.
Sesekali mereka datang dan menginap ke rumah orang tua untuk melepas rindu. Mereka menjalani pernikahan seperti pada umumnya seseorang yang saling mencintai.
“Aku ada undangan makan siang dengan Pak Wahyu Nugroho, sekaligus mau bahas kerjasama. Beliau datang dari Jakarta dan ingin bertemu,” kata Amara membuat Akram mengalihkan pandangan.
“Bisa diwakilkan saja gak?” tanya Akram dengan nada tidak suka.
“Beliau maunya ketemu sama ayah, tapi ayah kan masih di Semarang dan minta aku yang mewakili sekalian minta keputusan mau dilanjut apa gak.”
“Dia menyukai kamu, Mara.”
Amara menatap suaminya dengan mata memicing tajam. “Siapa?”
“Ya pria itu. Dari sorot matanya sudah jelas dia menginginkan lebih. Aku hanya gak suka kamu berurusan dengannya.” Sebagai sesama pria dia tahu bahwa tatapan pria itu memiliki arti lain. Jelas pria itu tak menyembunyikan ketertarikannya pada sang istri.
“Kamu mengenalnya?”
Akram mengangguk, tetapi detik berikutnya menggeleng ragu.
“Aku juga sebenarnya gak suka sama dia. Tatapannya itu lho bikin aku merinding seperti ditelanjangi. Tapi mau gimana lagi, kita harus bersikap profesional dan mengesampingkan urusan pribadi selagi dia memang gak bertindak di luar batas.”
Akram mengangguk membenarkan. Dia mungkin bisa percaya dengan istrinya, tetapi dia tidak bisa percaya dengan pria itu. Seperti ada rahasia besar yang tersembunyi. Namun, Amara tak ingin berprasangka buruk.
Setelah sarapan keduanya meninggalkan rumah. Akram mengantarkan istrinya ke kantor lebih dulu.
__ADS_1
“Nanti Mas nyusul aku ke restoran tempatku makan siang ya. Kita bisa makan siang bersama sekalian temani aku.”
Akram mengangguk. Dia mengecup kening istrinya sebelum wanita itu turun dari mobil.
“Hati-hati di jalan. Jangan ngebut!”
♡
♡
♡
Amara bersama dengan Naura dalam perjalanan menuju restoran yang akan dijadikan tempat pertemuan. Sebelum berangkat dia juga telah mengirim pesan pada suaminya.
“Dari gelagatnya sepertinya Pak Wahyu Nugroho menyukai Anda, Bu.” Naura berkata hati-hati.
Amara hanya tersenyum tipis. “Saya wanita bersuami.”
“Takutnya beliau nekat mendekati Bu Mara.”
“Biarkan saja, Mbak. Toh yang saya cinta tetap suami,” balas Amara singkat.
Tak lama mereka tiba di restoran yang dituju. Untungnya mereka tidak memesan ruangan VIP jadi tetap bisa melihat keadaan di sekitarnya.
Amara berjalan diikuti Naura yang mengekor di belakangnya, mengedarkan pandangan mencari meja beserta orang yang akan ditemui. Kakinya melangkah dengan pasti saat menemukan yang diinginkan.
“Selamat siang, Pak Wahyu,” sapa Amara dengan sopan yang dijawab pria itu dengan anggukan kepala.
__ADS_1
“Terima kasih kedatangannya, Bu Mara. Silakan duduk.”
“Anda sendirian?” tanya Amara yang tak melihat siapa pun.
“Asisten saya masih ke toilet sebentar. Silakan pesan makanan yang Anda inginkan.”
Amara mengangguk dan segera membuka buku menu yang ada di depannya. Naura mencatat pesanan yang diinginkan dan bertanya pada pria di depannya yang sudah lebih dulu memesan.
Tak lama salah satu pria datang dan duduk di sebelah pria itu.
“Saya setuju untuk berinvestasi di Adisa Group bersama dengan Mandalika Land untuk pembangunan resort di Bali. Proposal sudah saya pelajari dan setuju dengan isinya.”
Amara mengangguk dan tersenyum tipis. “Tiga hari lagi sekretaris saya akan mengirimkan surat kontraknya.”
“Anda bisa kirim ke e-mail saja karena sore nanti saya akan kembali terbang ke Jakarta.”
Amara menoleh pada Naura yang juga mengangguk. “Anda tidak ingin merevisi apa pun, Pak?” tanya sekretaris Amara.
“Tidak. Itu sudah cukup.”
“Terima kasih.”
“Terlalu dini Anda mengucapkan terima kasih, Bu Mara.” Ucapan pria itu seperti mengandung maksud terselubung, tetapi Amara tak ambil pusing dengan hal itu.
Sedikit banyak Amara merasakan perasaan kurang nyaman saat pria di depannya terlalu intens memandangnya seolah ada yang aneh dari wajahnya.
Setelah pembicaraan urusan pekerjaan selesai, tak lama pelayan datang dan mengantarkan makanan.
__ADS_1
“Sayang!”
To Be Continue ....