
Amara tersadar saat mendengar suara pintu diketuk beberapa kali. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bangun. Usai mandi dan salat zuhur, dia tertidur di atas sajadah masih dengan memakai mukenah.
Pintu kamarnya dibuka. Terlihat Umi Rahma tersenyum ke arahnya. “Ketiduran?”
“Iya, Umi. Capek banget,” jawab Amara mengusap matanya pelan. Kepalanya menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore.
“Mandi dan jangan lupa salat. Kamu bisa istirahat dulu, gak perlu datang ke masjid.”
Amara mengangguk patuh. Dia memang lelah sekali, ingin rasanya dia pergi ke salon dan memanjakan diri dengan berbagai perawatan.
Sudah lama sekali sejak kedatangannya ke pondok ini.
Pintu kembali tertutup, Amara segera mandi lalu melaksanakan kewajiban salat ashar.
“Ya Allah, aku pasrahkan semuanya padamu. Hidup dan matiku adalah milik-Mu, Engkau yang maha pengampun lagi maha penyayang. Ampuni dosa hamba yang pernah lalai akan kenikmatan dunia. Ya Rabb, aku percayakan semuanya pada-Mu. Insya Allah semoga aku ikhlas untuk menjalani setiap ujian yang Engkau berikan.”
Kepalanya menunduk semakin dalam, matanya mulai berkaca-kaca, dada terasa begitu sesak menahan diri untuk tak mengutuk kekerasan hati yang dimiliki di masa lalu.
__ADS_1
Amara memejamkan mata sambil menghela napas panjang. Semua terjadi atas izin dan karunia-Nya. Jika Allah tidak berkehendak tentu hidayah itu tidak akan pernah datang.
Setengah delapan Amara keluar kamar dan berniat turun. Dia melihat Ustadz Yusuf dan Umi Rahma tengah duduk bersama dengan Fatimah juga.
Keningnya mengernyit heran. Tumben sekali, pikirnya.
Dia putuskan untuk mendekat dan menyapa. Sebenarnya dia ingin mencari jawaban atas banyak pertanyaan kepada Umi Rahma tentang penjelasan yang siang itu belum begitu dimengerti.
Mereka bertiga kompak menjawab salam dan menatap kedatangannya. Amara segera duduk di samping Fatimah dan memeluk wanita itu sekilas. Dia mengatakan maksud dan tujuannya yang disambut Umi Rahma dengan anggukan dan tanda setuju.
“Jadi malam ini kita akan tanya jawab saja. Mara boleh tanya apa pun dan umi dan Fatimah akan menjawabnya,” kata Umi Rahma lembut.
“Umi mengatakan kita gak boleh menatap lawan jenis dan harus menundukkan pandangan karena khawatir akan menimbulkan syahwat. Tapi, gak semua orang begitu, kan? Kita gak bisa pukul rata seseorang memiliki pikiran kotor hanya karena memandang seseorang.” Amara membuka suaranya.
Umi Rahma tersenyum, tetapi masih diam menunggu ucapan Amara selanjutnya, “Bukankah saat bicara kita harus menatap lawan bicara agar terkesan sopan?”
“Menatap lawan bicara boleh saja, tapi kamu juga gak bisa menatapnya intens seolah menelanjanginya. Gak boleh memandang lama-lama jika gak ada keperluan,” jelas Fatimah dengan lebih sederhana.
__ADS_1
“Bagaimana cara mengontrolnya? Dengan cara jangan melihat lawan jenis sebagai makhluk seeksual, tapi juga sebagai makhluk intelektual dan spritual yang memiliki akal budi. Sehingga pergaulan dengan lawan jenis gak seperti hewan yang tujuannya hanya untuk bereproduksi, sehingga hubungan pejantan dan betina selalu dalam hal sekksualitas,” tambah Umi Rahma.
Amara benar-benar menyimak dan mendengarkan penjelasan tersebut. Dia memang fakir dalam ilmu agama, tetapi tidak ada yang tidak mungkin jika mau belajar dan berusaha.
“Maksud umi sebetulnya yang penting itu mengontrol cara kita memandang, bukan semata-mata menundukkan pandangan dan menutup mata begitu saja.” Fatimah bukan hanya memiliki paras yang cantik, tetapi juga otak cerdas dan akhlak yang baik. Dia menjelaskan secara singkat dan mudah dimengerti.
Banyak yang salah kaprah, menganggap bahwa menundukkan pandangan, diartikan harus menundukkan kepala saat berhadapan dengan lawan jenis. Padahal, yang lebih penting adalah mengendalikan cara pandang terhadap lawan jenis agar gak terjerumus ke dalam perbuatan zina.
Menundukkan pandangan adalah langkah awal menjaga jiwa dan akal seorang muslim dari hawa nafsu.
Seperti kata orang, dari mata turun ke hati. Berbagai perasaan dapat muncul bermula dari pandangan.
“Berarti kita boleh menatap siapa pun yang kita ajak bicara, kan? Larangannya hanya bagaimana cara pandang kita. Benar, begitu?” tukas Amara yang masih belum seratus persen paham. Sebab, menatap lawan bicara adalah usaha kesopanan untuk menghargai siapa pun yang kita ajak bicara.
Fatimah mengangguk. “Boleh, tapi gak boleh lama-lama dengan maksud dan tujuan tertentu. Contohnya kamu menatap seorang pria karena menganggumi parasnya yang tampan, itu jelas gak boleh. Apalagi sampai membayangkan sesuatu yang lain, haram hukumnya.”
Amara menganggukkan kepala tanda mengerti. Ternyata selama ini banyak dosa yang telah dilakukan tanpa sengaja.
__ADS_1
Allah ... ampuni hamba yang telah berbuat dosa tanpa sengaja karena terlalu sering mengagumi ciptaan-Mu.
To Be Continue ....