
Samar-samar aroma parfum merasuk indera penciumannya. Matanya yang terpejam perlahan terbuka dengan bibir yang mengerang pelan, saat merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Matanya telah terbuka, dia menatap sekeliling ruangan.
Kamar hotelnya.
Bagaimana dia bisa ada di sini? Pikiran itu seketika membuatnya mencoba mengingat kejadian setelah makan malam.
Saat otaknya mencoba mengingat sesuatu, dia dikejutkan dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka.
“Bagaimana bisa Anda ada di sini?” tanya Akram yang seketika langsung bangun. Kepalanya menunduk untuk memastikan bahwa dia masih berpakaian lengkap.
Apa yang telah terjadi? Itu adalah pertanyaan yang bersarang di kepalanya.
Akram ingat bahwa dia dan Hakim datang untuk menemui Galih yang mengajaknya makan malam. Pria paruh baya itu mengucapkan terima kasih untuk pekerjaan yang dilakukan. Pun dengan Claudia yang melakukan hal yang sama. Dia memujinya. Entah untuk pekerjaan atau untuk hal lainnya.
Lalu belum sempat makan malam usai, Galih pergi lebih dulu karena ada kepentingan. Akram yang tak ingin berlama-lama segera menyelesaikan acara makan malam itu dan pamit undur diri.
Seingatnya dia memang benar-benar pulang bersama dengan Hakim. Namun, ingatannya hanya berhenti sampai di situ. Dia tidak ingat kapan tepatnya mereka sampai dan apa yang terjadi setelah itu.
“Maaf jika tindakanku lancang dengan masuk ke sini tanpa izin. But, aku hanya ingin memastikan bahwa kamu dalam keadaan baik-baik saja,” jawabnya berkilah. Bahkan dia sudah tak memanggil Akram dengan sebutan Anda lagi. “Aku numpang mandi karena bajuku terkena tumpahan kopi,” sambungnya menjelaskan. Namun, sama sekali Akram tak mempercayainya.
__ADS_1
“Silakan keluar dari kamar saya!” Akram menatap wanita di depannya dengan tatapan nyalang.
Claudia menggeleng pelan. Dia justru berjalan mendekat ke arahnya sembari tersenyum penuh arti.
“Kenapa buru-buru? Aku harus menunggu pakaianku kering sebentar lagi. Tak mungkin kan aku keluar hanya dengan menggunakan kimono seperti ini. Orang-orang akan menatapku aneh,” balasnya sembari menyenggol bahu Akram. Dia melewati pria itu dan memilih duduk di sofa dengan posisi yang sangat menggoda. Pahanya tersingkap, menampilkan kulit putihnya yang seolah tanpa cacat sedikitpun.
“Jangan membuat saya bertindak kasar pada wanita, Nona Claudia!” tekan Akram dengan suara berat. Tatapannya menghunus tajam ke arah wanita yang tanpa tahu malu memamerkan bagian tubuhnya.
Claudia tak peduli, justru matanya melirik jam di pergelangan tangan. Dia menyeringai seolah menanti sesuatu.
Dan ....
Sementara Claudia tersenyum menyeringai. Dia kembali melangkah maju mendekat, tangannya menyentuh bahu Akram sambil bertanya, “Apa yang terjadi?” Dengan sengaja tangannya mengusap bahu Akram dengan gerakan yang semakin membuat tubuh pria itu menegang.
“Jangan menyentuhku!” Meski tubuh Akram merasakan gejolak yang luar biasa, tetapi otaknya masih mampu berpikir. Dia menyentak tangan wanita itu kasar hingga membuat tubuhnya terdorong mundur.
“Kenapa kau kasar sekali, aku hanya ingin membantumu.” Claudia mendengus pelan.
Akram bukan orang bodoh. Dia tahu apa yang tengah terjadi pada tubuhnya dan jelas tahu siapa pelakunya. Pemandangan di depan mata semakin membuatnya digulung hasrat yang membara, tetapi akal sehatnya masih mampu digunakan.
__ADS_1
“Ayolah, Akram. Aku berniat baik padamu,” kata Claudia mengusap lembut tangan Akram, tidak peduli bahwa pria itu terus menolaknya dan bersikap kasar, Claudia bertekad untuk menaklukkan pria di depannya. “Ahhh ....” jeritnya ketika tangan Akram justru bertengker di lehernya dan menekannya kuat.
“Jangan bermain-main denganku, Nona Claudia. Aku mungkin tak sebaik apa yang terlihat.” Akram menatap tajam wanita di depannya dengan pandangan penuh amarah.
“Aku rela memberikan apa pun padamu, Akram. Bahkan jika hanya menjadi simpananmu aku sama sekali tidak keberatan,” ucap Claudia masih mencoba merayu. Suaranya sedikit tercekat karena rasa sesak yang menghimpit tenggorokannya.
Bruk!
“Ahhh ....”
Suara melengking Claudia memenuhi ruangan ketika Akram membanting tubuh wanita itu ke atas ranjang. Meski empuk, rasa terkejut tak mampu dihindari.
Secepat kilat Claudia menghirup oksigen untuk memenuhi paru-parunya. Setelah cukup, dia tersenyum nakal ke arah Akram sambil mengedipkan matanya.
“Kemarilah, Akram. Nikmati aku ....” Suaranya lembut diiringi *******.
Akram yang tadinya menunduk, mendongak dan menatap Claudia dengan wajah memerah. Pose wanita itu semakin menantang, apalagi dengan posisinya yang saat ini terlentang. Kedua kakinya sengaja dibuka dengan lebar seolah mempersilakan untuk segera dimasuki.
“Jangan menantangku, Nona Claudia!”
__ADS_1
To Be Continue ....