
“Mama, tadi aku ketemu sama Ning Fatimah pas di rumah sakit.”
“Ning Fatimah yang ngajar di pondok Ustadz Yusuf itu kah?”
Azizah ingat wanita cantik yang beberapa kali pernah ngobrol dengannya. Seorang putri dari salah satu pemilik pondok juga yang justru memilih mengabdi di tempat lain.
Sungguh luar biasa. Azizah kagum.
“Iya. Gak sengaja ketemu. Waktu nikahan aku dia gak datang karena uminya sakit, eh sekarang malah abahnya yang tengah dirawat di sana hampir seminggu.”
“Sakit apa katanya? Dia gak ngabarin kamu kalau lagi di Surabaya?”
Amara menggelengkan kepala pelan. “Katanya gak mau ganggu pengantin baru. Padahal aku gak keberatan lho kalau dia ngabarin.”
“Hormati saja keputusannya, mungkin dia memang benar gak ingin ganggu dan merepotkan kamu.”
Amara mengangguk. Dia paham, hanya sedikit menyayangkan.
“Jaga kesehatan, jangan banyak pikiran dan perbanyak makan yang bergizi. Semoga sehat selalu dan dilancarkan sampai waktunya persalinan.”
“Aamiin. Makasih, Ma. Maaf kami merepotkan,” kata Amara sambil memeluk ibu mertuanya dengan sayang.
Selepas menemui ibu mertuanya Amara kembali ke kamar dan melihat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Dia mendekat dan memeluk tubuh pria itu penuh sayang.
“Kenapa hm?” tanya Akram mengusap lembut tangan istrinya.
“Gak apa-apa, hanya rindu ingin peluk kamu.” Di balik punggung suaminya, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.
“Uhh, istriku kok jadi manja, ya.”
Amara terkekeh pelan menanggapi ucapan suaminya.
“Bawaan bayi kayaknya,” lanjut Akram membalikkan tubuhnya, lalu memeluk pinggang Amara lembut.
Keduanya saling tatap dalam diam, lalu menyatukan napas bersama menuju puncak kerinduan yang akhirnya menemukan penawar.
__ADS_1
Keesokan paginya Amara telah meminta izin pada suaminya untuk mengunjungi Fatimah. Dia akan berangkat bersama dengan ibu mertuanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Amara ikut ke ruangan sang mertua. Menunggu di sana sambil dia menghubungi Fatimah yang tak menjawab panggilannya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Amara yang baru saja keluar dari ruangan sang mertua tak sengaja melihat Fatimah yang berjalan dari arah berlawanan.
“Ning Fatimah!” panggilnya membuat langkah kaki wanita itu terhenti.
Amara segera menghampiri wanita itu dan memeluknya seperti seorang saudara yang sudah lama tak bertemu.
“Kamu di sini? Kenapa lagi?” tanya Fatimah lirih.
“Nyari kamu, Ning. Aku sudah telepon beberapa kali, tapi gak dijawab.”
“Aku baru saja menemui dokter, hapeku ada di kamar rawat abah. Ada apa kamu cari aku?”
Amara menatap respons Fatimah yang tampak sedikit berubah. Tidak seperti dulu yang selalu menebar senyum menenangkan. Namun, Amara mencoba tak menaruh prasangka buruk, mungkin saja Fatimah memang sedang lelah dan banyak pikiran.
“Makasih, Mara. Tapi kamu gak perlu repot-repot seperti ini.”
Fatimah tersenyum paksa. Dia mengajak Amara menuju ruang rawat orang tuanya yang terletak di kelas VIP juga tentunya.
Sebelum memasuki ruangan Amara mengucap salam. Di tengah ruangan ada sebuah ranjang dengan tubuh seorang pria paruh baya yang tengah terbujur dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya. Tampak wajah tua itu begitu teduh meskipun matanya terpejam dengan erat.
“Assalamu’alaikum, Abah. Saya murid sekaligus teman Ning Fatimah di pondok Ustadz Yusuf. Semoga Anda segera pulih dan diangkat segala penyakitnya.”
Kata Fatimah, sang ayah mendapat suntikan obat dan kemungkinan tidak akan sadar dalam waktu beberapa jam ke depan.
“Aamiin,” sahut Fatimah menimpali.
Amara tampak menatap iba pada Fatimah. Mungkin wanita itu benar-benar banyak pikiran dan beban dalam benak, terbukti bahkan saat Amara mengajaknya bicara wanita itu tampak seperti tengah berada di dunia lain.
Hingga tangan Amara menyentuh bahu Fatimah, membuat wanita itu tersentak kaget dan kembali pada kesadarannya.
“Ning Fatimah baik-baik saja?”
__ADS_1
Fatimah mengangguk. “Iya. Kamu kan sedang hamil, kenapa repot-repot ke sini.”
“Aku sudah menganggap Ning Fatimah seperti saudara. Jadi untuk hal kecil seperti ini bukan masalah. Oh ya, kalau Ning Fatimah perlu apa-apa jangan sungkan kabari, ya.”
“Makasih banyak, Mara. Saat di luar pondok kamu bisa memanggil namaku saja.”
Amara mengangguk. “Baik, Mbak.”
Orang tua Fatimah menderita gagal jantung yang sudah kronis. Kondisinya semakin memburuk dalam minggu terakhir dan harus dirujuk ke rumah sakit ini karena rumah sakit daerah yang ada di kotanya tidak memiliki kelengkapan alat dan dokter yang menangani.
Setelah mendapat perawatan di rumah sakit dokter menyarankan untuk transplantasi jantung. Namun, hingga detik ini belum mendapatkan pendonor yang cocok.
Sambil menceritakan keadaan orang tuanya, isak tangis Fatimah tak dapat dibendung. Perempuan berpakaian syar’i itu memeluk Amara untuk menenangkan dirinya yang kacau.
“Kenapa Allah harus mengambil orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku? Apa aku gak pantas bahagia? Aku selalu menjalankan perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, aku mengabdikan hidupku hanya untuk mendapat ridha dari-Nya. Tapi apa yang aku dapatkan? Gak ada sedikit kebaikan yang aku terima.”
“Mbak,” desis Amara pelan. “Allah sedang mengujimu. Teruslah berdoa dan menyerahkan segalanya hanya pada-Nya. Gak akan ada ujian yang gak bisa dilewati.”
Amara meringis. Entah sefrustrasi apa hingga wanita itu bisa berkata demikian. Kadang kala seorang yang beriman sekalipun akan merasakan ketidakadilan takdir saat apa yang diinginkan tidak berjalan sesuai inginnya. Itu adalah godaan setan untuk menghasut manusia yang tengah dalam kebimbangan. Berharap manusia akan meninggalkan Tuhan-Nya karena merasa ibadah yang dilakukan hanya sia-sia.
Begitulah muslihat setan. Mereka selalu mengambil kesempatan dalam setiap kesempitan yang terjadi.
“Allah gak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya. Mbak Fatimah diuji karena Allah tahu kamu kuat. Anggap saja ini ujian untuk menaikkan derajatmu dan keluarga.”
“Astaghfirullah,” desis Fatimah sambil mengusap dada dan bergumam pelan mohon ampun atas ucapan buruk yang telah keluar tanpa sengaja.
“Kecewa itu wajar, Mbak. Tapi kamu juga harus tahu bahwa Allah itu gak menguji hamba-Nya tanpa memberikan hikmah yang baik.”
Fatimah mengangguk. “Makasih sudah mengingatkan.”
Amara menatap Fatimah intens. Wajah dan sikap wanita itu seperti seseorang yang tengah patah hati.
Benarkah?
Dengan siapa?
__ADS_1
To Be Continue ....