
Liam sudah berada di Nadvilla menunggu Nadira keluar mengambil sisa barangnya, karena hari ini adalah hari kepulangan Nadira, hari dimana Liam akan merasa sendiri lagi, Tak berapa lama Nadira pun keluar dengan membawa barang bawaannya, yang tidak sedikit, karena Nadira membawa semua barang-barangnya, karena ia takakan kembali lagi, sedih memang harus kembali berjauhan seperti terbangun dari mimpi-mimpi indahnya, namun ia harus bisa melepaskan Nadira sebab ia bukan siapa-siapa bagi Nadira, hanya seorang sahabat yang selama ini siap siaga menemani.
"Ayo iam, aku sudah selesai." Ucap Nadira yang segera masuk kedalam mobil. Sementara Liam menyimmpan barang bawaan Nadira kedalam Bagasi.
Dengan di antar para pekerjanya, mobil yang di naiki Nadira perlahan meninggalkan Nadvilla. Nampaknya Nadira akan sangat merindukan susana di villanya, dan enatah beberapa tahun kedapan dirinya akan kembali lagi, karena sudah jelas terbayang di hari-harinya akan disibukan dengan menjadi ibu baru, mengurus sang anak juga suami tercintanya.
Nadira mersa liam hari ini jauh berbeda dengan kemarin, tak disadari Nadira memperhatikan Liam melalui kaca sepion tengah mobil.
"Ada apa?" tanya Liam membuat Nadira terkejut.
"Ah, nggak iam, aku hanya akan merindukan kita yang seperti ini." Jawabnya dengan sedikit terbata-bata.
Liam hanya tersenyum, melihat Nadira yang seketika menjadi gugup.
__ADS_1
"Tentang sikap ku kemarin, aku minta maaf. aku sedikit berlebihan. aku hanya masih ingin menemani kamu disisni. tapi aku juga senang akhirnya kamu akan segera bertemu suami kamu lagi." Liam sadar sikapnya kemarin sangat berlebihan dan membuat nadira tidak nyaman.
"Aku paham iam, aku pun measakan hal yang sama." Balas Nadira membalas senyuman Liam.
Liam pun menghentikkan mobilnya begitu sampai di pintu masuk bandara, membantu Nadira menurunkan semua barang bawaannya. mengantarkan Nadira sampai masuk dan menghilang di kerumunan orang. Sangat berat memang melepas kepergian wanita yang selama beberap bulan ini menemani hari-harinya, memberi pengalaman bagaimana rasanya menjadi suami dan calon ayah, memberi kebahagian yang tidak bisa di ukur dengan apapun.
setelah melepas kepergian nadira, Liam kembali ke rumahnya yang di tempati Nadira, menyusuri setiap sudut rumah, masih sangat terasa kehadiran Nadira di dalamnya, bahkan harumnya pun masih terasa. Liam kemudian mmembuka pintu kamar dimana tempat Nadira tidur. Ia kemudian membaringakan tubuhnya di atas kasur yang masih tercium wangi dari Nadira. Jelas kehadiran Nadira membayangi pikirannya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Sampai tak terasa kedua matanya mulai terpejam.
************************
Bagas sudah mempersiapkan perayaan untuk menyambut Nadira dan calon bayinya di rumah baru mereka, rumah yang belum sempat mereka tempati karena harus segera pergi karena pekerjaan. Bagas sudah mendekor rumahnya untuk membuat Nadira bahagia, sekaligus permohonan maafnya karena selama kehamilan Nadira tak mendapatkan perhatian darinya.
Hampir saja Bagas terlamabt, karena waktu sudah menujukan untuknya segera berangkat menuju bandara menjemput istri tercinta. Bagas sangat semangat ingin segera bertemu dan memeluk Nadira, karena ia sudah sangat merindukan Nadira.
__ADS_1
Cukup lama menunggu, sampai akhirnya ia melihat sosok sang istri dari kejauhan, Namun tiba-tiba saja tubuhnya berkeringat hebat, tangannya bergetar, ritme jantungnya berdetak tak beraturan, Kemudian ia segera berlari untuk bersembunyi. Enatah mengapa ia memilih untuk menghindar lagi, nayatanya setelah meliaht Nadira dengan perut yang membesar, mengingatkan akan sang ibu yang menerima siksaan saat sedang hamil seperti Nadira.
Bagas mengepalkan tangannya, di benci dengan kondisinya yang bersembunyi, sementara Nadira sedang mencari keberadaan dirinya. Tak berapa lama ponselnya berdering dan itu dari Nadira yang jelas akan menanyakan keberadaannya.
"Hallo sayang, kamu di mana?" Tanya Nadira begitu panggilan tersambung.
"Maaf sayang, aku lupa mengabari, sepertinya aku tidak bisa jempu, ada pekerjaan penting yang mendadak. nanti kita bertemu di rumah." Ucap Bagas segera mengakhiri panggilannya. Hanya itu yang bisa Bagas lakukan, meski dia kembali membuat Nadira kecewa.
Setelah menelphon suaminya,Nadira segera keluar dari bandara untuk mencari taxi. Nadira sangat kecewa, sejak di hawai sampai ia kembali masih saja Bagas tak memiliki waktu untuknya, meski hanya menjemputnya di bandara saja Bagas sampai lupa. Terkadang ia teringat Liam jika sudah seperti ini, karena berbanding terbalik dengan suaminya. Liam selalu saja memiliki waktu untuknya.
Memang bawaan ibu hamil atrau memang dirinya yang cengeng, sampai harus mengeluarkan airmata hanya karena tidak di jemput Bagas setelah hampir 6 bulan tidak bertemu. Tak terasa perjalan Nadira sangat cepat karena taxi yang di tumpanginya sudah berhenti tepat di depan rumah barunya.
Setelah membayar argonya, Nadira segera masuk dengan di bantu satpam rumahnya membawa barang bawaaanya, Dan alangkah terkejutnya,begitu masuk Nadira sudah di sambut dengan puluhan Balon dan ucapan manis sambutan Bagas untuknya. Ia sangat terharu, karena ia tak berpikir Bagas akan melakukan ini semua, karena menjemputnya saja ia tak sempat, namun semua yang di pikirkannya salah, Meski tanpa kehadiran Bagas semua usaha Bagas terasa tulus di hati Nadira.
__ADS_1
Tanpa nadira sadar ada sepasang mata yang mulai dari bandara mengikutinya sampai tiba rumah, kini ia sedang tersenyum namun dengan tatapan sedih karena tak bisa bergabung menghampiri dan menyambut Nadira, melanikan hanya besembunyi dan diam-diam memperhatikan.
Setelah lama menatap kebahagiaan Nadira, Bagas kemudian pergi untuk menemui dokternya, dia ingin mengetahui mengapa traumanya belum juga hilang, meski ada sedikit perubahan, namun ia tak ingin hanya sampai di situ, dan juga ia tak memilki banyak waktu, jika tidak segera sembuh maka dia harus rela melepaskan Nadira sementara dia tidak ingin melakukan itu,