
Pagi itu Kota Lamongan cukup cerah. Sejak pukul delapan pagi Amara sudah bersiap di ruang tamu menunggu kedatangan sopir yang akan menjemputnya.
Sebenarnya Amara sudah mengatakan tidak perlu dijemput, dia akan pulang sendiri dengan menyewa mobil atau naik angkutan umum saja. Namun, kedua orang tuanya tidak mengizinkan karena dia belum paham betul kota ini.
Tak lama mobil jemputan tiba, Amara segera berpamitan pada Umi Rahma dan teman-temannya yang lain, termasuk Fatimah dan Aisha yang mengantarnya dengan mata berkaca-kaca seolah dia akan pergi dan tak akan kembali.
Amara memeluk keduanya dan berbisik, “Aku hanya tiga hari. Kalian cengeng sekali,” katanya.
“Hati-hati di jalan, Nak Mara. Kabari umi jika kamu sudah sampai dengan selamat di rumah orang tuamu.”
“Baik, Umi. Aku pamit semua. Assalamu’alaikum.”
Amara masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju perlahan meninggalkan pondok.
Dalam perjalanan Amara mengingat tentang ponselnya yang dinonaktifkan sejak kepergiannya. Tangannya mencari ponsel yang ada di tas dan mengaktifkannya.
Serbuan pesan masuk begitu ponsel itu menyala.
Amara melihat pesan teratas yang paling banyak, nama Bilal Hasby menjadi urutan pertama. Dia mulai membacanya dari awal hingga terakhir kalinya beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
Pesan dari teman-temannya menyusul kemudian. Mereka menanyakan tentang keberadaannya yang sulit sekali ditemui. Diam-diam dia tersenyum. Dalam keterpurukan dia tahu mana teman yang benar-benar peduli dan mana yang hanya ingin kesenangan saja.
Pesan dari Umi Rahma kembali diingat. Bertemanlah dengan siapa saja, tetapi jika dia membawa keburukan bagimu, cukup hindari agar tak sampai terjerumus dalam pergaulan yang salah.
Amara mengirim pesan pada ibunya dan katakan dia sedang dalam perjalanan pulang.
“Pak Abas nanti mampir di toko oleh-oleh khas Lamongan. Ada gak, ya?”
“Ada, Mbak. Sepertinya ada di depan sana,” jawab sopir itu dengan ramah.
Sesuai permintaanya, mobil menepi di deretan ruko-ruko yang menjual berbagai macam oleh-oleh khas Lamongan. Salah satunya wingko babat yang terkenal rasanya.
Mobil kembali melaju kembali. Sesekali dia memejamkan mata saat bayangan mantan calon suaminya muncul dengan senyum menawan.
Amara menghapus tetesan bening yang ada di sudut matanya.
♡
♡
__ADS_1
♡
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, akhirnya mereka telah sampai di rumah.
Amara menatap rumahnya dengan penuh kerinduan. Dia segera masuk ke dalam rumah, tak lupa mengucapkan salam dan dijawab oleh pelayan yang kebetulan membersihkan ruang tamu.
“Alhamdulillah si cantik akhirnya pulang. Emak rindu sekali dengan Mbak Mara,” kata wanita paruh baya itu dengan senyum lebar.
“Emak, jangan bikin Mara nangis deh.” Amara tersenyum, menghampiri wanita paruh baya itu dan memeluknya sekilas. Dia telah menganggapnya lebih dari sekadar asisten rumah tangga. Sejak kecil dia sudah diasuh oleh Sumiyati saat kedua orang tuanya sibuk membesarkan usaha.
“Ibu masih di luar lihat restoran yang ada di Sidoarjo, mungkin siang baru pulang. Bapak masih lihat pembangunan di mana tadi, ya ... lupa,” kata Sumiyati sambil menggaruk kepalanya.
Amara terkekeh, dia mengangguk. Dia tidak sedih karena tak disambut kedua orang tuanya, dia sudah dewasa untuk mengerti tentang kesibukan mereka.
Amara meminta Sumiyati membagikan oleh-oleh yang dibawa kepada semua pekerja di rumah. Dirinya sendiri segera naik ke kamarnya dan memilih istirahat.
Sudah satu jam sejak dirinya masuk ke kamar, tetapi Amara belum bisa memejamkan mata. Dia hanya menatap langit-langit kamar, sesekali dia menoleh ke arah boneka kesayangannya, memeluknya, kemudian berbicara seolah boneka itu bisa mendengarnya.
Namun, detik berikutnya Amara gegas bangun seolah ingat sesuatu.
__ADS_1
“Jika aku ingin melupakan, maka aku harus mengeluarkan semua kenangan kita dalam hati dan hidupku. Terima kasih untuk pelajaran berharga yang telah kamu berikan, Mas Haris.”
To Be Continue ....