Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Aneh


__ADS_3

Sore harinya Azizah dan Ahmad Arsalan benar-benar datang begitu mendengar kabar menantunya sakit.


Tak lupa Azizah membawa alat-alat medis dan persediaan obat untuk Amara, dan benar saja menantunya itu mengalami tekanan darah rendah hingga pusing terus melanda kepalanya.


“Mama tahu kamu banyak pekerjaan, tapi jangan abaikan kondisi kesehatan kamu, Mara. Kesehatan itu gak akan bisa ditukar dengan segala pencapaian kamu,” kata Azizah setelah memeriksa kondisi menantunya. “Hidup itu bukan tentang apa saja yang harus kita capai. Lebih dari itu kesehatan itu yang utama. Percuma punya segalanya kalau tubuh gak sehat, itu gak akan ada artinya.”


“Terima kasih karena mama sudah datang dan maaf sudah merepotkan,” balas Amara dengan senyum tipis.


“Alah, kamu kan menantu mama. Sudah mama anggap seperti anak sendiri.”


Amara menganggukkan dan berterima kasih banyak karena keluarga itu menerimanya dengan baik.


Akram mendekat dan melabuhkan kecupan di kening sang istri. “Mau mandi gak? Biar aku yang mandikan.”


“Nggak mau mandi.” Amara menggeleng dan kembali berbaring. Tubuhnya memang tidak demam, tetapi dia sedang tidak ingin mandi. Malas sekali rasanya.


Akram pun hanya menggeleng gemas dan ikut naik ke atas ranjang. Memeluk istrinya dengan penuh sayang sambil ngobrol ringan tentang banyak hal.




__ADS_1


“Mas.”


Akram berdehem tanpa membalas sahutan istrinya. Matanya masih fokus menatap laptop untuk melihat laporan dari Hakim yang baru saja dikirim.


“Mas!”


“Apa?” tanya Akram masih terus fokus dengan laptop tanpa menoleh, membuat Amara merasa kesal hingga menendang selimut yang menutupi kakinya. “Kamu kenapa?”


“Alah, kamu ini dipanggil kok gitu sih. Suka banget mandang laptop dan mengabaikan aku,” gerutu Amara.


Akram mengulum senyum kecil di sudut bibirnya. Dia menoleh dan melihat istrinya yang kini memunggunginya.


“Ada apa?” tanya Akram menyentuh lembut bahu sang istri, tetapi langsung ditepis pelan.


“Jangan pegang-pegang!”


“Kamu kenapa?” tanya Akram sembari memeluk istrinya, bibirnya mengecup tengkuk Amara hingga wanita itu bergerak tidak nyaman.


“Lapar. Pengen beli nasi krawu,” gumam Amara pelan tetapi masih jelas terdengar.


“Mau aku buatkan sesuatu?” tawar Akram.


Saat makan malam tadi Amara memang hanya makan sedikit karena mual. Saat ditanya dia hanya menjawab jika mungkin saja asam lambungnya naik karena pola makan yang tak teratur.

__ADS_1


Amara menggeleng pelan. “Pengen nasi krawu bu tiban.”


Seketika Akram terdiam cukup lama. Ayolah ini sudah tengah malam, nasi krawu yang diinginkan istrinya ada di kota sebelah. Mungkin jika mereka nekat tetap pergi sampai sana sudah tutup.


“Besok ke Gresik, ya. Ini sudah malam, sebentar lagi juga pasti tutup.” Melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh.


“Sekarang, Mas!”


“Beli di dekat stasiun kota saja. Di sana ada kayaknya.”


Amara menggeleng pelan. “Maunya bu tiban.”


Akram menghela napas pelan. “Mara,” katanya penuh penekanan yang membuat istrinya terdiam.


Namun, tak lama terdengar isak tangis pelan yang ternyata dari bibir Amara. Wanita itu menutup wajahnya dengan selimut.


“Ini sudah malam.”


“Terserah!”


Suara isak tangis itu masih terdengar membuat Akram pun lama-lama tidak tega. Dia meminta sang istri menghentikan tangisan dan mengganti pakaian.


Aneh sekali, pikirnya. Tidak biasanya sang istri akan menangis untuk hal-hal sepele seperti ini.

__ADS_1


“Ayo, Mas!”


To Be Continue ....


__ADS_2