
“Ma, perutku sakit sekali,” keluh Amara sambil meringis pelan. Dia masih duduk di meja makan berdua dengan ibu mertuanya.
“Minum dulu. Tarik napas panjang dan buang perlahan, jangan panik.” Azizah sebagai dokter cukup bisa mengendalikan diri dan menenangkan menantunya.
Azizah berteriak cukup keras, membuat asisten rumah tangga langsung datang dengan tergopoh.
“Ambil perlengkapan lahiran dan masukkan ke dalam mobil,” titahnya jelas, membuat Anita segera berlari menuju ruang tamu. Di sana sudah disiapkan satu tas berisi perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit.
Amara memejamkan mata, tangannya mencengkeram ujung meja untuk menyalurkan rasa sakit yang mendera. Sejak dua hari yang lalu, kontraksi sudah sering muncul, tetapi hanya beberapa saat dan sakitnya pun masih dapat ditahan. Namun, kali ini dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa.
“Jalan pelan-pelan, ya. Kita ke rumah sakit sekarang saja,” kata Azizah.
Dibantu oleh mertua dan asisten rumah tangganya, Amara berjalan perlahan ke halaman di mana mobil terparkir.
Azizah meminta Anita untuk ikut dan menemani Amara duduk di jok belakang, dia sendiri akan menjadi sopir.
Setelah memastikan Amara berbaring dengan nyaman, Azizah menuju kemudi dan bersiap menyalakan mesin.
“Bi Meri, telepon bapak dan bilang saya bawa Mara ke rumah sakit.” Ahmad Arsalan memang sedang tidak ada di rumah. Pria yang berprofesi sebagai dosen itu tengah ada acara seminar sebagai pengisi acara.
__ADS_1
“Baik, Nyonya.”
Perasaan Amara semakin tidak karuan. Di dalam mobil, sesekali dia meringis dan menangis saat rasa sakit menyerang dengan begitu kuat. Perjalanan yang dilalui pun cukup panjang dan terasa lambat baginya.
Azizah yang mengemudi sesekali melirik ke arah belakang, memastikan keadaan menantunya masih sadar.
“Ma, aku gak kuat. Ini sakit sekali,” desis Amara lirih. Napasnya semakin terasa sesak, air mata tumpah dari pipinya tanpa bisa dicegah. Meski Azizah memintanya untuk mengucap istighfar, tetapi itu semua tak cukup mampu menguatkannya.
Amara membuka mata ketika mobil berhenti dan Azizah sibuk memberikan perintah untuk membawanya masuk. Agar segera ditangani oleh dokter ahlinya.
Mondar-mandir Azizah menunggu di depan ruang persalinan. Belum ada tanda-tanda dokter atau pun suster keluar memberinya kabar.
Saat pintu ruangan terbuka, Azizah segera mendekati dokter dan memberodongnya dengan berbagai tanya.
“Anda bisa menemani pasien untuk membantunya melakukan olahraga ringan sambil menunggu bukaan lengkap.”
“Terima kasih, Dokter,” balas Azizah dan segera menyusul memasuki ruangan. Tampak Amara berbaring di atas ranjang dengan wajah lelah, bibirnya mengulas senyum tipis saat melihat kehadirannya.
“Maaf aku membuat Mama panik.”
__ADS_1
“Masih sakit?”
Amara menggeleng pelan. “Enggak, Ma. Tapi beneran tadi sakitnya luar biasa. Sampai rasanya gak tahan.”
Azizah tersenyum, mengusap puncak kepala menantunya dan berkata, “Mama dulu juga begitu. Itulah proses panjang wanita yang akan menjadi ibu. Rasa sakit saat melahirkan anak adalah nikmat yang diberikan Allah. Bersyukurlah kamu termasuk wanita yang diberikan rezeki sakitnya melahirkan buah hati, sebab gak semua wanita dapat merasakannya.”
Ada banyak wanita di luaran sana yang tak mampu mengandung dan diberikan rezeki anak. Itu bukan salah wanitanya, itu adalah takdir yang telah digariskan. Semua manusia selalu berharap segala hal berjalan dengan baik dan sempurna sesuai keinginan, tetapi Allah selalu memiliki rencana lain yang lebih baik.
Selang satu jam kemudian orang tua Amara datang dengan wajah cemas. Raisa segera menghambur menghampiri sang anak yang bersandar di atas ranjang dan mencium keningnya.
“Bagaimana?” tanyanya menatap besannya.
“Belum ada kontraksi lagi,” sahut Azizah pelan.
Tangan Raisa lembut mengusap puncak kepala sang putri. “Ibu selalu berdoa agar persalinanmu dilancarkan dan kalian berdua selamat.”
“Aamiin.”
Raisa menatap putrinya dengan mata berembun, ada sesuatu yang seolah menekan dadanya dengan kuat.
__ADS_1
Perasaannya tiba-tiba memburuk, entah karena rasa takut atau memang itu adalah sebuah tanda.
To Be Continue ....