
Hawa dingin bercampur aroma embun menyerbu indera penciuman ketika Amara berjalan-jalan keluar dari pondok menghirup udara segar.
Sejak kedatangannya, Amara belum sekalipun keluar.
Pukul lima pagi langit mulai nampak terang, sudah banyak warga yang berlalu lalang memulai aktivitasnya.
Amara mengikuti jalan dan mengamati sekitarnya. Di kanan dan kiri membentang hamparan sawah yang ditumbuhi padi dan hasil bumi lainnya.
Meski ini bukan jalan utama, tetapi cukup lebar dan menjadi jalan penghubung ke arah perkampungan penduduk.
Setelah cukup puas menikmati keindahan alam yang memanjakan mata, Amara kembali ke pondok dan menuju ke arah pendopo.
“Dari mana, Mbak?” tanya Aisha yang berpapasan dengannya.
“Jalan-jalan di depan.”
“Mbak Mara pasti rindu dengan suasana di luar, ya? Nanti siang aku mau ke pasar, mau ikut gak? Barangkali mau titip sesuatu,” kata Aisha dengan wajah yang berseri.
“Memangnya boleh?”
“Boleh, Mbak. Asal sudah izin dulu.”
“Oke, aku ikut. Tapi nanti izin Umi Rahma dulu,” kata Amara setuju.
“Baik, Mbak. Aku permisi dulu, ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Amara kembali melanjutkan langkah kakinya. Sesekali dia menggoda anak-anak yang tengah bermain. Dia menatap mereka semua yang tersenyum dan bahagia walaupun tak memiliki orang tua.
Setidaknya Amara harus bersyukur karena masih memiliki orang tua yang lengkap dan dianugerahi kehidupan yang layak tanpa kekurangan apa pun.
__ADS_1
Memiliki orang tua yang menyayanginya dan menjadi tempatnya berkeluh kesah.
Lihatlah!
Di depan matanya banyak anak-anak yang kurang beruntung.
Kadang kala kita selalu melihat ke atas dan membandingkan hidup dengan orang-orang yang tampak bahagia. Namun, kita tidak pernah melihat ke bawah di mana masih banyak orang lain yang kehidupannya tak lebih baik.
Apa pun jalan hidupnya, tetaplah selalu bersyukur atas apa yang diberikan. Bukankah nikmat tak selalu tentang bahagia? Masih diberikan napas hingga detik ini itu juga kenikmatan Tuhan.
Sore itu Amara baru saja kembali dari pasar bersama dengan Aisha. Jarak yang cukup jauh, cuaca panas dan naik sepeda motor membuat keringat bercucuran di keningnya.
Aisha hanya tertawa melihat Amara yang nampak kelelahan.
“Mbak Mara gak pernah naik motor?” tanya Aisha.
“Pernah, waktu sekolah dulu. Tapi sudah lama gak pernah,” jawab Amara sambil mengatur napasnya yang memburu.
Tergantung kemampuan.
Mereka berpisah di halaman. Amara kembali ke rumah, tetapi dia mengernyit heran saat tak menemukan siapa pun di rumah.
Keadaan begitu sepi, tidak ada tanda-tanda orang membuat Amara memilih langsung masuk ke kamar.
♡
♡
♡
Amara yang baru selesai mandi dan salat, segera turun berniat ke masjid. Namun, sesampainya di bawah dia mendengar ada seseorang tengah mengobrol di ruang tamu. Dia mengurungkan langkah kakinya karena merasa segan, tetapi sudah dipanggil oleh Umi Rahma yang kebetulan melintas dari dapur.
__ADS_1
“Ada tamu, Umi?” tanya Amara.
“Iya. Ada keluarga Pak Ahmad Arsalan. Mereka juga dari Surabaya.”
Amara hanya mengangguk. Surabaya itu luas, meskipun sama-sama di kota yang sama belum tentu mereka saling mengenal satu sama lain.
“Aku mau ke masjid tapi segan mau lewat. Gak datang gak apa kan, Umi?”
Umi Rahma tersenyum, lalu detik kemudian menggeleng pelan. “Kamu bisa lewat, gak apa-apa. Ayo ke depan bareng umi,” katanya.
Entah mengapa Amara seperti merasakan desiran aneh pada hatinya. Seperti ada embusan angin segar yang merasuk dalam tubuhnya.
Langkah kakinya sedikit ragu, dia berjalan perlahan dan sampai di ruang tamu. Kepalanya masih menunduk tanpa melihat ke siapa tamunya.
“Oh Allah, sungguh indah ciptaan-Mu.” Suara berat seorang pria membuat Amara mendongak.
Ada empat orang termasuk dengan Ustadz Yusuf yang duduk di sofa tunggal. Di antara mereka ada salah satu pria yang sepertinya masih muda.
“Assalamu’alaikum.”
Amara tersenyum sambil mengucapkan salam. Pipinya merona karena menjadi pusat perhatian.
Deg!
Tatapan Amara dan pria muda itu menyatu untuk beberapa detik sebelum akhirnya sang pria kembali menunduk.
Ada desiran aneh yang menggetarkan jantung keduanya. Sebuah perasaan asing yang menyergap di relung hati.
Allah, apa ini?
To Be Continue ....
__ADS_1