
Ternyata selama ini yang Nadira takutkan dan selalu ia hindari, membawa ketenangan bahkan membuatnya melupakan beban pekerjaan yang menumpuk di pundaknya. Dan orang itu lagi lagi Liam, ia selalu sja membawanya ketempat-tempat yang tidak pernah dikunjunginya. Dan itu membuat Nadira berterimakasih atas sema pengalaman barunya, dan bersyukur bahwa ternyata ia memiliki teman seperti Liam.
Semua pengalaman baru Nadira harus berakhir karena sang matahari sudah menyelesaikan tugasnya. Ia juga mendapatkan cantiknya matahari terbenam, yang merubah langit biru cerah perlahan mulai menampakan warna-warna cantik di balik gelapnya. Jika Nadira harus berpisah dari keindahannya alam, Liam justru harus berpisan dengan khayalan-khayalan yang ia rangkai dalam fikirannya. karena itu hanya terjadi dalam angannya saja.
"Terimkasih hari ini menjadi pengalaman yang baru buatku." Ucap Nadira sebelum turun dari mobil Liam.
Liam mengangguk dengan senyuman manisnnya, kemudian turun untuk membukakan pintu mobil untuk Nadira, senyumannya tak pernah lepas dari bibirnya, ia merasa tersanjung atas pujian dar Nadira, ia senang karena menjadi hal pertama bagi Nadira, Karena ia pernah mendengar sebuah kalimat, Bahwa yang pertama akan selalu tertanam dalam ingatan.
Setelah cukup melihat punggung Nadira yang sudah sedikit menjauh, Liampun berbalik hendak masuk kembali kedalam mobilnya.
"Sayang...." Teriak Nadira membuat Liam menghentikan langkahnya dan berbalik. seketika dirinya terkekeh, menertawakan dirinya sendiri, bodohnya dia menoleh, sebenarnya apa yang diharapkannya, tidak mungkin teriakan sayang dari mulut Nadira untuknya. Karena memang Liam tidak akan pernah mendaptkan panggilan itu lagi dari Nadira, sebab Nadira bukan lagi miliknya, tapi milik pria disana. Pria yang sedang memeluk erat Nadira tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan jelas Liam melihat mereka saling berpelukan melepsaskan kerinduan. Belaian bahkan kecupan yang di berikan pun terlihat jelas dan nyata di depannya, ini bukan lagi adegan yang selalu ia terka di setiap malam-malamnya, mencari tahu tentang Nadira dan Bagas hanya lewat reka adegan yang disusunnya rapi sampai membuat lukanya yang belum juga sembuh kini basah kembali dan semakin perih saat melihat kedua insan dengan tatapan cinta yang saling menyambut.
Liam kemudian pergi setelah semua pemandangan di depannya berakhir, ia segera membawa mobil meninggalkan Nadvilla, membawa hatinya yang semakin retak dan hampir saja pecah tercerai berai. Ia harus segera memperbaiki retakannya agar esok ia bisa lebih kuat jika terbentur kembali. dan cara seperti itu akan terulang dan terus terulang sampai tak tersisa celah untuk memperbaikinya.
Liam pun pulang dengan wajah yang sudah di tekuknya, Sampai kedua sahbatnya sudah hafal dengan ekspresi wajah yang akhir-akhir ini di tunjukan Liam. Namun meski sudah terbiasa melihatnya, Boy merasa ada yang aneh sebeb tadi siang ia tak sengaja melihat Liam sedang di pantai dengan wajah semuringahnya, bahkan sudah jarang Liam sebahagia itu, karena penasaran, Boy diam-diam mengikuti sahabatnya dan letak semua kebahagiaan yang terpancar dari wajah Liam ternyata berpusat di satu wanita. Tak sampai disana, boy masih memat-matai sahabatnya, yang sedang bersama Nadira rekan bisnis secara kertas, namun tidak secara sejarah. Jika orang yang melihat kedekatan mereka berdua pasti orang itu akan menajdikannya kiblat cintanya.Karena boy sendiri berkali-kali menggosok matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Pada saat itu Liam dan Nadira seperti sepasang kekasih, mereka tak terlihat canggung satu sama lain dan itu membuat Boy khawatir jika Liam merusak visi dan misi hidupnya sendiri. Orang kolot seperti Liam merusak norma yang di agungkannya sendiri.
Semua yang di lihat boy tersampaikan juga kepada tristan, untuk soal ini Tristan tidak memiliki jalan keluar, karena setiap kali membahas tentang Nadira pasti di akhiri pertengkaran diantara mereka. untuk kali ini tristan juga boy tidak bisa ikut campur terlalu dalam. karena mereka tidak menampik bahwa keceriaan Liam mulai kembali, meski lukanya juga terbuka kembali.
__ADS_1
*********************************
Dering telphon berkali-kali terdengar memenuhi kamar tidur Nadira, berkali-kali juga Nadira mematikan panggilannya,
"Bagaimana?" Tanya Ares.
Liam hanya meenggelengkan kepalanya sraya mencoba kembali menelphon Nadira.
"Bu Nadira tidak meninggalkan Nadvilla, dia masih di dalam kamarnya." Ucap boy setelah bertanya kepada salah satu pegawai Nadvilla.
Dengan gelisah Liam terus menelphon Nadira, ia takut sesuatu terjadi kepada Nadira, Liam lupa bahwa kini ada Bagas bersama Nadira.
"Kami semua sudah menunggu kedatangan bu Dira." Balas Liam dengan bahasa formalnya. Dan sontak saja membuat nadira terperanjat bahkan segera bangun dari posisi tidurnya.
Nadira melihat jam dinding yang cukup besar di sebrang tempat tidurnya, waktu sudah menunjukan pukul 09.15 yang berarti ia sudah terlambat 15 menit dan itu buka ciri khas dirinya.
"10 menit lagi, tumggu aku 10 menit lagi. Ucap panik Nadira dan segera menutup sambungan telphonya.
__ADS_1
Nadira kemudian membangunkan Bagas yang masih tidur terlelap di sampingnya.
"Bli bangun, kita kesiangan, aku lupa hari ini ada rapat bersama TBL juga Amecrop dan mereka sudah menunggu.
Bagas berusaha untuk cepat sadar dari tidurnya,dan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut istrinya. ini situasi gawat menurut Nadira, namun Bagas berusaha tenang untuk tidak memperkeruhnya. Dengan segela yang serba cepat Bagas mengintruksikan Nadira yang kebingungan satu demi satu langkah yang harus mereka ambil.
Bahakan mereka menggunakan kamar mandi berbarengan. di situasi seperti ini msih saja terdengar tawa dari kedunya. menertawakan apa yang sedang terjadi.
"Bli... apa yang kamu lakukan semalam" Ucap nadira berteriak sambil memegangi lehernya yang ternyata banyak bekas merah yang tertinggal karena ulah suaminya.
Bagas yang sedang memakaikan jas pun menoleh dan kembali tertawa, di susul sang istri yang juga ikut tertawa karena apa yang mereka lakukan semalam.
"Kamu bisa menutupinya dengan makeup kamu sayang." Ucap gemas bagas,
"Itu jika aku punya banyak waktu, tapi saat ini mereka sudah menunggu." jawab Nadira memelototi suaminya meminta pertanggung jawaban.
Terbesit ide dari Bagas, ia kemudian membuka kopernya dan membawa syal untuk ia belitkan di leher sang istri untuk menutuipi perbuatan ganasnya semalam.
__ADS_1
"Kamu terlihat cantik memakai ini." puji Bagas melihat pantulan dari cermin di depannya. Bagas sengaja membeli syal untuk ia berikan kepada Nadira, karena melihat warnanya yang ternyata warna kesukaan istrinya.