
“Bu Mara mobilnya sudah selesai, semua tagihannya dimasukkan dalam tagihan kantor,” kata Lukman memberitahu.
Setelah dua hari akhirnya mobil kesayangannya telah selesai. Amara mengangguk mengerti, tetapi dia mengernyit dan bertanya, “Kenapa tagihannya masuk ke perusahaan, Mas? Itu kan mobil pribadiku.”
“Pak Adnan yang memintanya, Bu.”
Amara masih cukup mampu untuk membayar menggunakan uang pribadinya. Namun, tak bisa melakukan apa pun ketika sang ayah telah memutuskan.
“Ya sudah gak apa-apa. Terima kasih, Mas.”
Amara kembali ke ruangannya, dia mendudukkan diri di sofa sambil mengangkat kakinya ke atas meja.
Hari yang melelahkan.
Dia baru saja rapat dengan direktur perencanaan dan keuangan, membahas tentang pembangunan kantor baru sesuai dengan permintaan klien.
Amara yang memilih menutup matanya, tetapi tak sampai sepuluh menit matanya kembali terbuka saat mendengar dering ponsel berbunyi. Dia bangun dan melangkah dengan malas mengambil ponsel. Matanya menatap layar ponsel yang menunjukkan panggilan dari nomor tak dikenal.
Siapa? Pikirnya sedikit heran.
“Assalamu’alaikum. Selamat siang.” Suara di seberang sana yang maskulin terdengar saat panggilan pertama kali diangkat.
“Wa’alaikum salam. Maaf dengan siapa, ya?” tanya Amara dengan mata menyipit penuh tanya.
“Saya yang gak sengaja nabrak mobil Anda.”
Amara mengangguk walaupun sosok di seberang jelas tak akan tahu.
“Iya. Ada keperluan apa, ya?”
Terdengar suara kekehan pelan dari pria itu. “Saya mau tanya tentang perbaikan mobil Anda. Kenapa belum memberikan kabar ya? Saya berniat tanggung jawab, Mbak Shaza.” Baru kali ini pria itu menyebutkan namanya, tetapi justru nama belakangnya yang disebut.
Sebuah desiran aneh menerpa, angin sejuk mendinginkan hatinya. Amara tersipu dengan panggilan itu, selama ini belum ada yang memanggilnya dengan nama belakang.
“Terima kasih niat baiknya, Mas. Tapi sungguh itu gak perlu, saya sudah membereskannya.”
“Lho, kok! Saya benar-benar ingin tanggung jawab, Mbak Shaza. Saya malah jadi gak enak kalau seperti ini.”
“Gak apa-apa, Mas. Saya hargai niat baiknya, tapi saya benar-benar tidak perlu tanggung jawab atas perbaikan mobil itu.”
__ADS_1
“Kalau saya bertanggung jawab dengan Mbak Shaza saja, bagaimana?”
“Eh!” Amara salah tingkah. Dia menjauhkan ponselnya dan menutup mulutnya sendiri.
“Mbak Shaza?”
“Sekali lagi terima kasih atas niat baiknya. Maaf, Mas. Saya sedikit sibuk, saya tutup dulu teleponnya. Assalamu’alaikum,” kata Amara segera mematikan sambungan tanpa menunggu jawaban.
Apa ini?
Amara menyentuh dadanya yang berdetak keras hanya karena ucapan pria itu. Pria asing yang telah beberapa kali ditemui saat masih di pondok Ustadz Yusuf.
Disebut asing karena meskipun tahu rupa satu sama lain, tetapi tak pernah bertegur sapa.
♡
♡
♡
Amara menjatuhkan kepalanya saat selesai memeriksa beberapa berkas dari direktur keuangan tentang alokasi dana yang dibutuhkan.
Suara ketukan pintu terdengar disusul pintu terbuka dan suara sang sekretaris.
“Bu Mara, ada tamu yang ingin menemui Anda.”
“Siapa?” Amara mengangkat wajahnya, mendongak menatap sang sekretaris yang berdiri di gawang pintu.
“Pak Hanif. Beliau menunggu Anda di lobi.”
Hanif siapa?
“Siapa dia? Kamu kenal gak?” tanya Amara karena seingatnya dia tidak memiliki janji temu dengan siapa pun. Jikapun ada klien atau tamu penting, sekretarisnya pasti akan memberitahu.
“Kata beliau ini urusan pribadi, Bu.”
“Oh, oke. Aku akan menemuinya. Terima kasih, Mbak Naura.”
Amara bangkit dan merapikan pakaiannya. Tak lupa mengambil ponsel yang ada di atas meja. Dia segera melangkah turun menuju lobi di mana tamu menunggunya.
__ADS_1
Mengedarkan pandangan untuk mencari siapa tamu yang dimaksud. Namun, matanya justru bersitatap dengan manik hitam seorang pria yang menyunggingkan senyum tipis ke arahnya.
Pria itu segera bangun ketika Amara berjalan mendekatinya.
“Mbak Shaza. Maaf jika kedatangan saya menganggu dan tanpa memberitahu,” katanya begitu sopan.
“Gak apa-apa, Mas. Tapi ada keperluan apa ya sampai harus cari saya?”
Pria itu menerima selembar cek yang diberikan pria di sebelahnya. Kemudian menyodorkannya ke arah Amara yang hanya menatapnya.
“Saya gak bisa tidur memikirkan perbaikan mobil, Mbak Shaza. Saya gak mau dianggap gak bertanggung jawab.”
Amara terkekeh pelan. “Astaga, Mas. Saya beneran gak minta ganti rugi karena semua biaya sudah dicover perusahaan.”
“Tapi beneran saya gak enak, Mbak. Mohon jangan ditolak ya, saya tulus ingin bertanggung jawab. Saya gak akan bisa tenang kalau Mbak Shaza menolaknya.”
Amara mengangguk dan menerimanya. Dia mengambil cek itu tanpa melihat nominal yang tertera. Toh bukan itu yang menjadi fokusnya sekarang, pria itu mau bertanggung jawab dan mendatanginya adalah suatu hal yang luar biasa.
“Saya terima niat baiknya. Terima kasih, Mas.”
“Akram,” sahut pria itu dengan cepat.
“Baik, Mas Akram. Mau minum dulu?” tawarnya ketika melihat salah satu office girl lewat. Bagaimana pun kedatangannya, pria itu tetaplah tamu yang wajib disambut.
“Gak perlu, Mbak Shaza. Terima kasih.” Pria itu menolaknya.
“Amara, panggil saya Mara saja.”
Keduanya tersenyum dengan getar-getar di dada yang semakin terasa kuat menerjang. Sebuah perasaan yang tak mampu diungkapkan, tetapi senyum di bibir seperti sudah menjelaskan.
To Be Continue ....
...♡♡♡...
...Ketika cuma bisa up satu bab, artinya saya sedang gak baik-baik saja....
...Sibuk di real life, sakit atau memang sedang gak ada ide....
...Jadi mohon dimaklumi 🙏...
__ADS_1