
“Maaf kami merepotkan, Bu,” kata Akram sungkan.
“Gak apa, Mas. Untungnya saya tadi belum pulang ke rumah,” jawab wanita paruh baya itu ramah.
Akram menghela napas lega ketika melihat sang istri menikmati sepiring nasi krawu dengan begitu lahap.
Beberapa menit sebelumnya ... ketika mereka sampai, ternyata tempat makan itu sudah tutup dan Amara langsung mengubah mimik wajahnya yang cerah jadi mendung seketika.
Saat Akram turun dan mencoba bertanya pada orang yang kebetulan lewat, dia mendapatkan setitik harapan ketika orang itu bilang biasanya masih ada orang di dalam. Gegas Akram mengetuk pintu dengan keras untuk memastikan.
Hampir sepuluh menit menunggu, Amara berteriak dari dalam mobil untuk memintanya pulang saja jika memang tidak ada. Namun, keberuntungan itu datang saat Akram baru saja berbalik pintu samping warung itu terbuka.
“Mas gak makan?” tanya Amara.
“Masih kenyang. Mau bungkus gak?” tawar Akram.
Amara setuju. “Tanpa nasi, Bu.” Menoleh ke arah ibu pemilik warung makan.
Pukul dua belas malam mereka meninggalkan tempat makan sederhana itu. Akram bahkan membayar lebih untuk kedatangan mereka yang mengganggu.
Akram menggendong tubuh sang istri yang sejak perjalanan pulang tadi sudah tidur. Namun, dia tidak menyangka saat ini sang ibu masih terjaga dan mereka berpapasan.
“Lho, dari mana kalian? Ada apa dengan istrimu?” tanya Azizah menatap menantunya yang ada dalam pelukan suaminya.
“Malam-malam minta ke Gresik cuma buat beli nasi krawu. Habis makan langsung terkapar kayak orang pingsan malahan,” jawab Akram sambil terkekeh pelan.
Azizah menatap menantunya dalam diam, keningnya mengernyit seperti menyadari sesuatu.
“Ya sudah bawa istrimu istirahat. Mama haus pengen air dingin.”
Akram mengangguk dan menaiki tangga dengan hati-hati karena membawa beban yang lumayan berat. Ah ... andai dia mengatakan itu saat istrinya bangun, wanita itu pasti akan marah karena disingung terkait berat badan yang sensitif bagi sebagian wanita.
Akram menurunkan Amara di atas ranjang dengan hati-hati dan menggantikan pakaiannya dengan yang lebih nyaman. Setelahnya dia sendiri ikut berbaring di sebelahnya sambil memeluk wanita itu.
“Mimpi indah istriku,” bisiknya lembut sebelum memejamkan mata.
__ADS_1
♡
♡
♡
Huek!
Selepas subuh Amara telah beberapa kali masuk kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Akram ingin memanggil ibunya, tetapi Amara menolak dan mengatakan bahwa dia hanya masuk angin. Mungkin efek terkena angin malam saat perutnya lapar.
“Minum, Mas.”
Akram yang tengah memijat tengkuknya langsung bergegas mengambil segelas air di atas nakas.
“Aku panggilkan mama dulu. Wajahmu pucat, kamu gak baik-baik saja. Ingat sudah berapa kali kamu muntah dalam pagi ini,” kata Akram menuntun Amara kembali ke kamar.
“Dibilang gak apa-apa juga. Aku hanya butuh udara segar sepertinya, temani aku ke taman yuk. Sepertinya duduk di sana sambil ngeteh enak,” kata Amara dengan mata berbinar.
Masih tertutup rapat, itu artinya mereka belum keluar.
Duduk di taman, menikmati udara pagi yang masih dingin. Amara tersenyum dan menarik napas panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia akui sejak beberapa minggu ini banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Salah satunya malas mandi, bahkan ada perasaan enggan saat dirinya harus bersentuhan dengan air.
Entahlah ... bisa jadi karena perubahan cuaca yang menjadi penyebabnya.
“Selamat pagi, Bu Mara,” sapa Meri membawa nampan berisi teh dan beberapa potong roti bakar.
“Terima kasih, Bu Meri. Ngomong-ngomong ibu pakai parfum apa? Wanginya menyengat sekali,” kata Amara sambil menutup hidungnya.
“Saya gak pakai parfum, Bu. Mungkin ini aroma bumbu dapur.” Mencoba mencium aroma tubuhnya sendiri, tetapi Meri merasa tubuhnya tidak bau apa-apa.
“Gak seperti biasanya, Bu. Ah sudahlah ... kamu masuk ke dalam saja. Aku gak tahan dengan aroma menyengat ini, kalau perlu Bu Meri mandi lagi deh,” kata Amara tidak suka. Dia meminta maaf dan meminta wanita paruh baya itu untuk tak mendekat jika masih memakai parfum yang sama.
Meskipun tampak bingung, Meri hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Akram menatap Amara dengan mata memicing sedikit tajam. Bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi, beberapa hari ini tingkah wanita itu memang sedikit menyebalkan dengan mengomentari banyak hal yang menurutnya tidak begitu penting.
“Kenapa kamu lihat aku kayak gitu, Mas?” tanya Amara dengan mata menyipit.
Akram tak menjawab, hanya menggelengkan kepala saja. Sebab dari sorot mata istrinya yang tidak bersahabat, dia tahu wanita itu sedang dalam suasana hati yang tidak menentu.
♡
♡
♡
Amara berniat sarapan bersama dengan mertuanya di meja makan, tetapi saat duduk di meja makan tiba-tiba perutnya kembali mual dan ingin rasanya muntah. Dirinya berlari ke arah wastafel dan memuntahkan cairan bening yang rasanya sedikit pahit.
Tak lama dia kembali ke meja makan dan meneguk segelas air putih.
“Bu Meri, tolong makanan itu disingkirkan ya. Aku gak suka,” perintahnya sambil menunjuk ke arah piring yang berisi ikan bakar kesukaannya.
“Itu kan kesukaanmu, Mara,” kata Akram yang dibalas gelengan kepala.
“Gak mau, baunya gak enak.”
Azizah yang duduk di sebelahnya langsung menyambar, “Kapan terakhir kali kamu datang bulan?”
Amara justru mengernyit heran, untuk apa menanyakan itu. Namun, dia tetap menjawab, “Baru beberapa minggu yang lalu, Ma.”
Kini giliran Azizah yang termenung. Apa mungkin prediksinya salah?
Tiba-tiba Amara kembali berlari ke arah wastafel dan muntah lagi. Akram menyusul dengan wajah khawatir, sudah beberapa hari istrinya seperti ini.
Setelah muntah, Amara merasakan pening di kepala. Pandangannya mulai mengabur, tangannya meraih bahu sang suami dan terkulai begitu saja.
“Mara!”
To Be Continue ....
__ADS_1