Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Ayah Ibra


__ADS_3

Keesokan paginya Amara bersikap seolah semalam tak terjadi apa pun. Dia keluar dari kamar tamu sebelum mertuanya keluar dan masuk kamar utama.


“Mara!”


“Tolong jangan katakan apa pun, Mas. Biarkan aku menenangkan diri.”


“Jangan banyak pikiran, itu bisa mempengaruhi kondisi ibu dan bayi. Tolong ... jangan lakukan apa pun yang bisa membahayakan dirimu.”


Amara terkekeh pelan seraya mengusap bahu suaminya. “Aku tidak sedangkal itu, Mas.”


Keduanya berjalan menuju ruang makan. Di sana sudah ada Azizah dan Ahmad Arsalan. Amara menyapa mereka ceria seperti biasa, wajahnya gak menunjukan tanda-tanda jika hubungan mereka sedang diguncang masalah.


“Mara mau ke mana? Rapi banget,” kata Azizah memperhatikan penampilan sang menantu.


“Mau ke rumah ibu diantar Mas Akram,” jawab Amara membuat sang suami sontak menoleh. Jelas sekali terlihat terkejut karena dia memang tak mengatakannya.


“Ya sudah. Nginap di sana? Yah mama kesepian deh.”


Amara terkekeh pelan. “Cuma dua malam, Ma.”


“Setelah kangennya terobati. Janji pulang ke sini lagi, ya.”


“Mama ini kok ada-ada saja. Ya jelas Mara bakal pulang di mana suaminya berada,” protes Akram.


“Iya-iya, begitu saja kok sewot!”


Setelah sarapan semua orang berangkat dengan aktivitas masing-masing.


Amara yang ada di dalam mobil bersama suaminya tampak tak mengeluarkan satu kata pun untuk menjelaskan.


“Aku turun sendiri saja. Mas Akram langsung berangkat deh biar gak kejebak macet,” cegah Amara yang melihat sang suami hendak turun.

__ADS_1


“Mara.”


Amara abai. Dia mengambil tangan suaminya, mencium punggung tangannya dan berkata, “Hati-hati saat berkendara. Jangan melamun, Mas.” Setelah mengucapkan salam, Amara turun dan gegas masuk ke dalam rumah di bawah tatapan sendu sang suami.





“Aku bertemu Mas Akram dan istrinya.” Pemberitahuan itu menarik perhatian Wahyu Nugroho yang tengah sarapan.


“Kamu menemuinya?”


Zivanna menggeleng. “Aku gak sengaja bertemu saat di rumah sakit.”


Wahyu tampak menghela napas panjang dan menghentikan sarapan. Dia menatap adiknya dalam-dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya diinginkan saudarinya.


Zivanna lagi-lagi menggeleng. Sorot matanya menunjukkan sesuatu rahasia yang coba disembunyikan.


“Brengsek itu telah menodaimu!” geram Wahyu dengan tangan terkepal.


“Sudah cukup, Mas. Jangan terus menyalahkan Mas Akram atas apa yang terjadi. Ini semua inginku. Aku gak ingin membuat Mas Akram merasa berdosa dan bersalah. Tolong hargai keputusanku!” keukeh Zivanna mengalihkan pandangan. Setitik air mata jatuh membasahi pipinya yang kemerahan.


“Bodoh! Jika kamu cinta dia, kamu bisa mendapatkannya sejak lama.”


“Mas,” protes Zivanna dengan tatapan memohon.


“Terserah! Besok aku balik Jakarta, pekerjaanku sudah selesai di sini.”


Zivanna hanya mengangguk. Setelah selesai sarapan, Wahyu langsung berangkat ke kantor ketika sang asisten sudah datang.

__ADS_1


“Ibu!” Sosok Ibra muncul membuat Zivanna mengusap air matanya cepat. Dia segera memasang senyum yang secerah mentari.


“Kenapa? Ibra sudah selesai makan?” tanyanya dengan ceria.


“Apa Ibra bisa ketemu sama ayah lagi?”


“Jika ayah gak sibuk dan ada waktu, pasti bisa ketemu. Tapi Ibra gak boleh minta yang macam-macam sama ayah.”


“Kenapa?”


“Ayah sudah punya istri dan akan punya bayi. Jadi kita gak boleh merepotkan ayah lagi.”


“Apa karena ayah punya mama baru?”


Zivanna mengangguk pelan.


“Kenapa mama baru? Kan sudah ada ibu,” kata Ibra dengan mata yang berkaca-kaca.


Zivanna hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepala putranya. Tanpa menjawab lagi, sebab jika diteruskan pertanyaan itu akan menjalar ke mana-mana dan semakin tak berujung. Dia sendiri tentu akan pusing memikirkan jawabannya.


“Ibu, kenapa menangis?” tanya Ibra mengejutkan Zivanna yang tengah melamun. Dia bahkan tak sadar jika air matanya menetes begitu saja.


“Ibu ingat sama ayahnya Ibra.” Zivanna tersenyum tipis.


“Ayah Akram?”


Zivanna menggeleng dengan miris.


“Lalu ayah yang mana lagi, Bu?”


Zivanna bungkam. Dia memilih memalingkan wajah dan menelungkup kepalanya pada bantal. Hingga terdengar suara isakan kecil penuh luka yang mengiris hati.

__ADS_1


To Be Continue ....


__ADS_2