
Liam berdiri di sebuah gedung perusahaan tempat ia akan bekerja, akhirnya semua jerih payahnya terbayarkan dengannya di percaya menjadi CEO di S&T, yang merupakan bagian dari Amecrop, meski tak sebesar Amecrop namun Liam senang bisa bekerja di rumahnya sendiri.
Kedatangan Liam sangat di nantikan bahkan mendaptakan sambutan dari beberpa petinggi perusahaan, Karena liam merupakan CEO termuda dengan membawa harapan baru bagi citra perusahaan.
Liam membangun image dirinya sebagai pria yang sudah berkeluarga, karena sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Ia sengaja melakukan itu karena itu adalah doa dan harapannya.
Dimasa peralihan ini banyak sekali pekerjaan baru Liam, sampai ia belum sempat menemui kedua orang tuanya untuk memberi tahu kepulangannya.
Hari ini pekerjaan Liam selesai lebih cepat, ia kemudian membawa mobilnya menuju rumah orang tuannya.
Sandra sangat terkejut melihat kehadiran Liam yang sudah berada di depan pintu rumahnya, Sandra langsung memeluknya.
"Kenapa tidak mengabari mama, mamakan bisa menjemput kamu?" Tanya Sandra merangkul masuk anaknya kedalam rumah, tanpa melihat mobil liam yang terparkir di depan rumahnya.
"Mam,sebenarnya aku sudah mulai bekerja di S&T grup." Ucap Liam memberitahu sandra tentang dirinya yang sudah resmi mengambil alih perusahaan yang terbilang cukup besar di Jakarta. " Dan aku sudah satu minggu berada disini." Lanjut Liam yang membuat dirinya mendapat pukulan dari sandra.
Sandra yang terkejut kemudian memukul bahu sang anak berulang kali dengan omelannya sebagai seorang ibu.
"Kenapa kamu baru datang setelah satu minggu, terus kamu tinggal dimana? bukankah kantormu itu dekat dari sini."
"Maaf mah, aku sangat sibuk sejak hari pertama, aku sementara tinggal di apartmen sampai rumahku selesai."
"Apartemen, rumah? untuk apa? kamu bisa tinggal disini, rumah ini rumah kamu juga." Sandra merasa sedih, meski sudah bedekatan dengan anaknya, masih saja Liam enggan tinggal lagi di rumahnya.
"Aku tahu mah, aku hanya ingin mandiri," Jawab Liam, bukannya tak mau satu rumah lagi dengan orang tuanya, hanya saja sandy dan keluargannya masih sering datang dan berkumpul dengan Sandra, sehingga membuat Liam sedikit merasa tak nyaman, apa lagi jika nanti ia kembali bersama Nadira.
"Selama ini kamu sudah hidup mandiri nak, mama hanya ingin berkumpul lagi dengan kamu." Sandra tidak mengerti jalan pikiran anaknya, karena baginya Liam sudah sangat mandiri, bahkan terlalu mandiri.
"Karena Liam akan membangun keluarga Liam sendiri, dan nanti Liam akan sering mengunjungi mama." Liam terpaksa mengatakan hal itu untuk lebih menenangkan Sandra. Meski ia tak tahu kapan tepatnya hari itu akan tiba.
"Keluarga, kamu sudah menemukan wanita yang tepat sayang?" Sandra tersenyum merekah mendengar ucapan anaknya, karena semula Liam menolak untuk menikah jika bukan dengan Nadira, dan itu membuatnya khawatir.
__ADS_1
"Mama doakan saja Liam." Jawab Liam memeluk sang mama.
***********************
Setelah mengetahu keadaan Bagas, Nadira hanya terus memikrkannya dan belum mengambil keputusan apapun, hari-harinya terus berjalan seperti biasa, mencoba menerima kenyataan, tak menuntut lagi perhatian dari Bagas, ataupun hal lain yang tidak bisa Bagas berikan, karena Nadira melakukannya seorang diri, menjalani kehamilannya seorang diri seperti sebelumnya, mulai melanjutkan pekerjaannya, seperti tak ada maslah dalam kehidupannya.
Di sisi lain Bagas masih menunggu keputusan Nadira, semenjak Nadira tahu kondisinya, Nadira tak lagi meminta untuk bertemu, namun Bagas masih memberi perhatian kepada Nadira meski hanya melalui pesan yang selalu ia kirimkan setiap harinya, menanyakan kabar nadira, kehamilan nadira dan aktifitas Nadira.
Hari ini Nadira akan mengadakan rapat dengan beberapa klien, ia sudah berda di kantornya sejak pagi tadi, karena ia harus menyiapkan materi rapat terlebih dahulu.
Nadira dengan perut besarnya, berjalan menuju ruang rapat, ia di kejutkan dengan kehadiran seorang pria yang tak disangka bisa bertemu kembali di tempat yang tak terduga.
"Liam..." Ucapnya dalam hati, dengan tersenyum tipis.
Rapat berjalan lancar, semua orang telah meninggalkan ruangan, kecuali Liam yang memilih menunggu sampai tak ada satu oarang pun di ruangan itu sehingga menyisakan dirinya dan Nadira.
"Mau keruanganku?" Ajak Nadira kepada Liam. Liam pun mengangguk dan berjalan mengikuti Nadira.
"Bagas tidak siap menjadi ayah dari anaku ini." Ucap Nadira kepada liam, nadira bahkan menceritakan semuanya. dan semua itu sudah lebih dulu di ketahui Liam.
Namun jawaban tak terduga keluar dari mulut Liam. "Aku Siap jadi suami dan ayah dari anakmu."
Nadira terkekh, dia menggap ucapan Liam hanya candaan untuk menghiburnya saja. "Apa sih iam, jangan bercanda." Ucap nadira mencoba mengalihkan pembicaraan mereak. Meski ada getaran aneh di hatinya saat mendengar ucapan Liam tadi, namun Nadira tak mau menyimpulkan secepat itu, karena Liam masih bisa mendapatkan wanita yang baik dari pada terjebak dengan dirinya.
Liam tak akan memaksakan, setidaknya ia telah mengutarakannya, membiarkan Nadira untuk memikirkan kembali ucapannya.
"Kamu sudah membeli perlengkapan bayi? bukannya usia kehamilan kamu sudah menginjak 7 bulan?" Tanya Liam
"Belum, aku belum sempat." Jawab nadira sambil menggelengkan kepalanya.
Liam kemudian beranjak dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Nadira, "Kita harus mulai membelinya."
__ADS_1
Nadira menatap uluran tangan Liam, sebelum menyambutnya.
**********************
Nadira memikirkan ucapan Liam tadi siang, yang terdengar sangat tulus, dia sangat bingung, di sisi lain ia juga membutuhkan sosok ayah agar anaknya tak seperti dirinya. sementara Bagas tak bisa memberikan itu.
Kembali bersama Liam mungkin akan terlihat buruk, bagaimana dulu ia telah mencampakan laim berkali-kali, Apa lagi ia harus menghadapi keluarga Liam, apakah mereka akan menerima nadira yang sekarang, belum lagi harus kembali bertemu Sandy orang yang ingin ia hapus dari kehidupannya jika itu bisa.
tok...tok...tok...
Suara pintu kamar nadira di ketuk.
Terdengar dari luar suara ART nya yang memberi tahu, bahwa ada tamuu yang sudah menunggunya di bawah.
Nadira segera beranjak dari tempat tidurnya, untuk menemui tamunya yang datang di jam malam.
"Liam, ada apa?" Tanya Nadira saat mengetahui tamunya itu adalah Liam.
" Aku datang untuk mememberi tahu bahwa ucapanku tadi siang adalah benar, itu kesungguhan. Aku masih sangat mencintai kamu Nadira." Ucap Liam kini menggenggam kedua tangan Nadira.
Nadira menatap kedua bola mata Liam tajam, dia sangat tahu tatapan itu, yang tak pernah berubah sejak bertahun tahun lalu.
"Kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku iam." Ucap nadira menahan air matanya untu tidak terjatuh.
" Tidak nad, yang aku inginkan menjadi suami dan ayah dari anakmu." Ucap Liam kini beralih memegang perut besar Nadira.
"Dia bergerak Nad." Ucap Liam penuh haru, "Sepertinya dia merindukan suaraku Nad." lanjut Liam mengajak ngobrol bayi dalam perut nadira, sampai gerakannya semakin intens. bahak selama ini gerakannya tak pernah sehebat ini, apakah ini tanda bahwa bayi dalam perutnya memang menginginkan Liam menjadi ayahnya?.
"Setelah perceraianku, mari kita menikah." Ucap nadira membuat Liam mendongkakan kepalanya menatap Nadira,
Liam amat senang, karena sangat cepat Nadira memberikan jawabannya. Liam kemudian memeluk Nadira dengan erat, ia tak pernah mersa bahagia seperti ini, karena sebentar lagi ia akan memiliki istri juga seorang anak.
__ADS_1