
Semua yang telah terlewati hanya masa lalu. Hidup bukan untuk kemarin tapi untuk hari ini dan hari esok. Belajar menikmati dan melakukan yang terbaik untuk meraih hidup bahagia di dunia maupun di akhirat kelak.
Semakin hari Amara semakin bersemangat untuk menjalani hidup karena telah diberikan nikmat kesehatan dan napas sampai detik ini.
Tanpa terasa sebulan terlewati begitu saja. Amara mengutarakan niatnya pada Umi Rahma bahwa dia izin akan pulang lagi untuk membantu sahabatnya yang melakukan aksi sosial. Tentunya hal baik selalu mendapatkan kebaikan pula. Umi Rahma mengizinkan dan memberikan banyak nasihat seperti biasanya.
Setiap sebulan sekali, Amara akan pulang ke Surabaya.
Sore itu Amara yang tengah datang bulan tidak melakukan kegiatan apa pun. Dia duduk di teras rumah sembari mengamati setiap orang yang berlalu lalang dan menyapanya.
“Ning Fatimah mau ke mana?” tanya Amara melihat Fatimah telah rapi dan membawa tas. Wajahnya tampak lesu tak bersemangat seperti ada beban berat yang tengah dipikirkan.
“Mau pulang ke Kediri, Mara. Umiku sedang sakit,” jawabnya pelan.
“Semoga segera diberikan kesembuhan untuk ibunda tercinta dan diangkat segala penyakitnya.”
__ADS_1
Fatimah mengangguk. “Terima kasih, Mara. Aku duluan, ya. Assalamu’alaikum,” katanya berlalu begitu saja.
Hari-hari berlalu, minggu berganti, bulan terlewati dengan cepat tanpa masalah yang berarti.
Semakin hari Amara semakin terlihat begitu bijak dalam menyikapi banyak hal. Tampak begitu tenang dalam setiap tutur kata dan sikapnya.
Selepas magrib dia menemui Umi Rahma yang ada di selasar masjid mengajari para santriwati yang mulai beranjak remaja.
“Wanita beda dengan pria. Dalam menjalankan aktivitas pun sangat berbeda. Tapi hukum syara’ memandang sejajar antara wanita dan pria. Dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 17, ‘Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.’ Jadi derajat antara pria dan wanita itu sama di mata Allah.”
Amara ikut duduk di sana, ikut mendengarkan apa yang tengah dijelaskan.
muslim memiliki etika antara lain, menahan pandangan, menutup aurat, dalam perkataan harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan, dalam berjalan jangan memancing pandangan lawan jenis, dalam gerak gak boleh berjingkrak atau berlenggak-lenggok, menjauhkan diri dari parfum yang mencolok, gak boleh berkhalwat dengan lawan jenis karena bisa jadi yang ketiganya nanti setan.” Umi Rahma terkekeh pelan diakhir kalimat.
“Mengapa seorang wanita dan pria berbeda, Umi?” tanya seorang santriwati.
__ADS_1
“Pria dan wanita telah diberikan tanggung jawab yang berbeda. Perbedaan tersebut tentu disesuaikan pula dengan kewajibannya. Dalam hukum syara’ memandang sejajar antara pria dan wanita. Islam memandang sama pria dan wanita dalam aspek keseteraan. Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang istimewa. Allah menciptakan satu ruang khusus pada tubuh wanita yang tidak ada pada pria, yaitu rahim.”
Amarah mengangguk membenarkan. Dalam hal kesetaraan wanita dan pria memang sama. Namun, perlu diingat lagi bahwa perbedaan itu juga memiliki tanggung jawab yang berbeda.
“Allah telah mengangkat derajat wanita dengan memberikan fungsi khusus dan tugas yang amat berat ini hanya kepada golongan wanita. Pemilihan wanita sebagai penyebab warisan generasi manusia adalah lambang keagungan karunia Allah.”
“Oleh karena itu surga diciptakan di bawah telapak kaki ibu?”
“Surga di bawah telapak kaki ibu hanya sebagai kiasan karena kita sebagai anak wajib taat dan berbakti kepada ibu untuk mendapatkan ridha-nya. Ibu menempatkan diri sebagai posisi pertama sebelum ayah.”
“Kenapa hanya ibu? Kenapa bukan ayah?”
“Hati ibu adalah anugerah terindah dari Allah. Mengapa ibu, bukan ayah? Karena ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, dan menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anaknya. Seorang ibu rela mengandung dan melahirkan anaknya meskipun harus bertaruh nyawa. Kasihnya sepanjang masa, gak akan lekang oleh waktu meski anak-anaknya kelak beranjak dewasa.”
Amara menyeka sudut matanya yang basah. Nasihat-nasihat dari Umi Rahma selalu menyentuh hati.
__ADS_1
Ibu, maafkan aku yang pernah melawan dan tak berbakti pada-Mu. Allah berikan umur yang panjang untuk kedua orang tuaku.
To Be Continue ....