Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
AKU ADA


__ADS_3

Nadira memikirkan pertemuan dengan Liam yang tidak di sengaja tadi, dalam hatinya merasa senang karena kini sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka, nampaknya ide untuk berteman merupakan hal positif bagi mereka, karena memang sejak awal tidak ada rasa benci atau hal semacamnya diantara mereka berdua, sehingga berteman sangat cocok untuk mereka berdua.


Namun  bukan itu yang kini mengusik pikiran Nadira melainkan tanggapan suaminya jika nanti mengetahui tentang ini, Karena Nadira belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Bagas. kesibukan Bagas nampaknya sedikit mengganggu waktu yang seharusnya dihabiskan dengan Nadira, meski pun hanya melalui sambungan telphon, ditambah perbedaan waktu yang semakin sulit untuk di sesuaikan. Namun semua itu Bagas lakukan agar segera bertemu dengan istri tercintanya.


Surara dering ponsel Nadira berbunyi, ia segera berlari untuk mengambilnya, baru saja ia memikirkan suaminya, selang beberapa lama, Bagas ada menghubungi, seolah jiwa mereka saling bertaut dan saling merindukan.


seperti biasa Nadira akan menceritakan seluruh kegiatannya selama jauh dari Bagas, begitupun sebaliknya, bahkan terkadang mereka membahas sedikit pekerjaan dan bertukar ide. namun dengan suasana santai,


"Bli, tadi tak sengaja aku bertemu dengan Liam di bioskop, dan kebetulan kami menoton film yang sama. aku bicara begini hanya ingin kamu tahu saja." ucap nadira mulai menceritakan apa yang terjadi diantara dirinya dan Liam.


Bagas tersenyum menanggapi cerita istrinya, ia berusaha tetap menedengarkan kelanjutan cerita Nadira, meski hatinya berdesir merasakan cemburu.


"Lalu...?"


Nadira terdiam sejenak mengamati wajah sang suami, saat tak melihat raut marah dari Bagas Nadirapun melanjutkan ucapannya.


"Liam tadi sempat mengatakan sesuatu," nadira menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Ia seperti sedang menghadap hakim, dan menunggu vonisnya. "Liam menjadi teman, maksudnya anatar aku dan dia tidak lagi ada kecanggungan yang membatasi. Dan sebenarnya aku ingin pendapat kamu bli." Rasanya lega telah mengutarakan isi pikirannya kepada Bagas, Kini ia ingin tahu apa pendapat suaminya, kalaupun bagas melarang, ia akan mengikutinya.


"Terimakasih kamu sudah bercerita dengan jujur, kebanyakan pasangan akan menyimpan rapat hal ini." Banyak cerita yang Bagas sudah dengar dari beberapa temannya tentang hubungan istri mereka dengan teman laki-lakinya yang ternyata tersimpan dengan rapat tanpa sang suami tahu.


"dan kini aku akan jujur sebagai suami kamu, aku cemburu mendengarnya, istriku menonton dengan pria lain, namun aku sangat mempercayai kamu, sehingga rasa cemburu kalah dengan rasa percayaku, dan terkait berteman dengan pak Alex, aku tidak keberatan karena aku sudah mengenal pak alex sangat lama, dan aku tahu orang seprti apa dia."


Semua bisa di bicarakan dengan baik, Nadira dan Bagas keduanya sudah sangat dewasa, mereka bisa mengkomunikasikan semuanya, dari msalah kecil hingga masalah besar yang kelak akan mereka jumpai. karena hubungan tak selamanya berjalan mulus, patilah ada kerikil yang harus mereka lewati bersama.

__ADS_1


                                                          *******************************


tujuan Nadira berada di Nadvilla buka hanya untuk berlibur, melainkan bekerja, dan itu membuat Nadira sudah berada di resto villanya menunggu kedatangan Tristan dan juga Liam, dengan layar  laptop yang sejak tadi ia hidupkan.


"Langsung saja kepada intinya, saya ingin perubahan di semua sisi ini." unjuk nadira kepada Tristan.


Tristan sedikit membelak, karena hampir seluruh kerja kerasnya di tolak Nadira, ia cukup geram dengan tingkah Nadira akhir-akhir ini yang dianggapnya terlalu rewel.


Liam yang tahu sahabtanya sedang kesal, mencoba meneouk paha tristan untuk meredam kekesalannya, karena saat ini ia sedang berhadapan dengan klien penting TBL.


" Baik bu saya akan perbaiki." Ucap Tristan yang kemudian pergi dari hadapan Nadira.


Jika semua tristan datang bersama Liam, kini ia harus pulang seorang diri sebab, Nadira mengajak Liam kesuatu tempat.


"Bawa aku kemanapun, aku ingin menengkan pikiran." Balas Nadira.


Nadira merasa ada yang salah dari dirinya, namun ia tidak tahu apa itu, dan itu sangat berpengaruh dalam cara ia bekerja, seperti halnya tadi saat bersama Tristan, Tidak biasanya ia sedingin itu kepada rekan bisnisnya.


Liam melajukan mobil mengarah ke area sekitar pantai, karena ia tahu pantai adalah tempat yang paling Nadira senangi. Namun ada hal berbeda kali ini, jika biasanya Nadira mendatangi Pantai yang sepi akan pengunjung, Namun kini Liam membawa Nadira ketempat yang sangat ramai pengunjung.


"Tempat apa ini iam?" tanya Nadira yang terheran-heran, karena ini diluar ekspetasinya.


"Ini tempat yang kamu butuhkan." jawab Liam membuka pintu mobil, mempersilahkan Nadira untuk keluar.

__ADS_1


Nadira ragu untuk menapakan kakinya di atas pasir, hiruk pikuk dari pengunjung terdengar di telinganya, tawa dari bebera orang, bahkan tangis dari beberapa anak begitu terdengar, dia tidak tahu apakah akan dapat ketenangan di tempat seramai ini.


Liam menghebuskan nafasnya pelan, melihhat Nadira tak juga melangkah dari tempat semula ia berdiri. Terpaksa Liam berbuat hal ekstrim, ia menarik tangan Nadira sampai ke bibir pantai.


"Kamu gila iam." Tutrunya begitu Liam memintanya untuk menaiki  jetsky.


"Apa ada yang salah?" Tanya Liam menahan senyumnya. Karena kini wajah Nadira sangat pucat.


"Aku tidak bawa baju renang, dan aku tidak pernah naik itu." Ucapnya pelan namun masih terdengar oleh Liam.


Liam kemudian menujukan telunjuknya kearah bangunan yang tak jauh dari tempatnya berdiri. seraya menarik lagi tangan Nadira untuk menuju ke bangunan itu.


Ternyata liam mengajaknya ke toko yang menjual perlengkapan berenang, disana Nadira di tujukan untuk memili sendiri baju renangnya, sementara Liam pergi ke bilik ganti untuk mengganti pakaiannya.


 Nadira berdiri mematung, bukan karena tidak mengerti, melainkan karena semua baju renang disana sangat pendek, dan ia tidak bisa memkainya, terlebih lagi di depan Liam. Nadira kemudian berbalik, membelakangi,  ia tidak menyukai ide konyol Liam, Namun sedikit merenung dan ia kembali memilih sampai ia menemukan pakaian yang menurutnya agak aman untuk dipakainya. Dan segera menuju bilik untuk mengganti pakaiannya.


Penampilan Nadira ternyata berhasil membuat Liam tidak berkedip begitu keluar dari bilik ganti, Liam belum pernah melihat nadira sesexy ini, kulitnya yang putih bersih juga lekukan tubuhnya yang sangat sempurna.  Membuat otaknya berfantasi sesukannya.


"Ayo, aku siap." Ucap Nadira sedikit murung.


Liam mulai menaiki jetsky, dengan Nadira duduk di belakangya, memeluknya dengan erat, tidak ada jarak diantara mereka, bahkan wajahnya pun di benamkan di balik punggung Liam. Nadira merasa sangat ketakutan.


"Coba buka mata kamu, jangan takut ada aku disini." teriak liam meminta Nadira untuk membuka matanya menikmati pemandangan indah yang tidak ia dapat dengan berdiri di bibir pantai.

__ADS_1


Nadira mengikuti intruksi Liam, perlahan membuka matanya, tanpa melepas pegangannya, ia sangat takjub melihat dirinya di tengah lautan yang membentang, setelah sedikit relaxe barulah ia merentangkan tangannya, menikmati angin yang menerjang kulit tubuhnya. perlahan pikrannya yang semula semeraut kini mulai mereda, semua ketenangan yang ia butuhkan kini datang dan menghangatkan jiwanya.


__ADS_2