Di Ujung Penantian

Di Ujung Penantian
Tertarik


__ADS_3

“Bos, Bu Claudia sudah menunggu di lobby,” kata Hakim membuat Akram mengernyit heran.


“Untuk apa?”


“Asistennya mengatakan Bu Claudia meminta kita berangkat bersama.”


Akram menghela napas pelan. “Kenapa gak kamu tolak saja!”


“Asistennya baru menghubungi saat mereka sudah tiba di lobby.”


Sampai di lobby, Akram melihat Claudia. Wanita itu berdiri dan berjalan mendekatinya.


“Hai, aku sengaja ke sini supaya kita bisa sama-sama ke lokasi. Gak masalah, kan?”


“Seharusnya Anda gak perlu melakukannya,” balas Akram sedikit dingin.


Mobil melaju membelah jalanan Kota Bandung. Akram duduk di depan di sebelah sopir, sementara Hakim duduk di bagian belakang sendirian.


“Istri Pak Akram kenapa gak pernah kelihatan? Beliau hanya ibu rumah tangga biasa?” tanya Claudia membunuh rasa bosan.


“Apa bertanya tentang kehidupan pribadi, sangat penting untuk Anda kulik, Bu Claudia? Mau istri saya wanita karier atau hanya ibu rumah tangga, gak akan merugikan Anda,” jawab Akram tegas.

__ADS_1


“Maaf jika pertanyaan itu menyinggung. Istri Anda pasti sangat beruntung mendapatkan pria seperti Anda.” Ucapannya terdengar sinis. Claudia menganggap bahwa istri Akram hanya wanita dari kalangan biasa yang beruntung diperistri oleh pria kaya.


“Kami sama-sama beruntung bisa dipertemukan dan disatukan dalam ikatan yang sakral,” balas Akram dengan membayangkan wajah istrinya saat pertama kali bertemu.


“Anda memang kandidat suami idaman,” pujinya.


Akram tak lagi menanggapi. Pembicaraan itu terlalu melebar ke mana-mana.


Kurang lebih empat puluh menit, mereka tiba di salah satu bangunan bertingkat lima yang masih dalam pengerjaan.


Mereka memasuki gedung diiringi sapaan sopan para pekerja. Salah satu bagian perencanaan menghampiri Akram dan menyapanya.


Setelah memahami apa yang diinginkan kliennya, Akram mengangguk mengerti. Di kepalanya sudah tersusun banyak draft dan tinggal menumpahkannya saja.


Setelah melihat lokasi, mereka sarapan bersama di salah satu restoran yang tak jauh dari sana.


Sambil menunggu pesanan datang, Akram bermain ponsel dan tak sengaja melihat unggahan foto Amara yang tampak estetik dengan latar kebun bunga.


“Cantik sekali,” ucapnya membuat Claudia yang ada di depannya mengangkat wajah.


“Makasih pujian Anda, Pak Akram,” sahutnya percaya diri.

__ADS_1


Akram menatapnya sekilas dan kembali menunduk melihat ponselnya.


“Anda manis sekali. Memuji kecantikan wanita tapi gak mau menatap wanita itu sendiri. Padahal banyak pria yang justru menatap intens dengan pikiran liar, tapi Anda sangat berbeda.”


“Maaf, saya gak memuji Anda, Bu Claudia. Saya memuja dan mengagumi hanya pada pasangan,” tandasnya ketika mengerti arah pembicaraan wanita di depannya.


“Oh, maaf, saya pikir Anda memuji kecantikan saya,” balas Claudia dengan kecewa.


Hakim mengembungkan pipinya, menahan tawa yang ingin menyembur. Kliennya satu ini memang cantik, diakuinya bahkan sangat cantik dan selalu tampil paripurna dengan riasannya. Namun, itu tak akan menarik perhatian sang atasan.


“Bukankah seorang pria selalu mengagumi kecantikan seorang wanita?”


“Benar, Bu. Kecantikan fisik selalu terlihat saat pertama kali mata memandang, tapi gak semua kecantikan fisik mampu membuat hati tertarik,” timpal Hakim.


Wajah Claudia merah padam. Dia tak lagi menimpali, bahkan makanan yang terhidang di atas meja sama sekali tak menggugah selera. Dia menatap Akram dalam, sesuatu dalam dirinya menarik dan Claudia sangat ingin menaklukkan itu.


Bibirnya tertarik membentuk senyum sinis.


Pada dasarnya pria itu sama saja. Hanya belum terpancing umpan.


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2