
“Kenapa Mbak Mara?”
Amara tersadar dan kembali menoleh, wajahnya memerah malu saat melihat pria di sebelahnya menatapnya aneh. Dia segera menggelengkan kepala pelan untuk menjawab bahwa dia baik-baik saja.
“Mas Akram kok bisa ada di sini?” tanya Amara setelah mampu mengendalikan diri.
“Kebetulan saya lagi nunggu jemputan. Mobil saya tiba-tiba mogok ... di sana.” Pria itu menunjuk ke arah seberang jalan, ada sebuah mobil terparkir di bahu jalan. “Mbak Mara sendiri sedang apa di sini?”
“Panggil saya Mara saja. Gak usah pakai mbak, saya jadi kelihatan tua banget,” kata Amara sambil terkekeh, menyembunyikan rasa gugup yang mendera.
Sejak keluar dari pondok, baru pertama Amara dekat dan bicara dengan lawan jenis. Saat di kantor memang ada beberapa lawan jenis yang sering berinteraksi dengannya, tetapi hanya sebatas urusan pekerjaan.
“Baik, Mara.”
Amara kembali ke tempat duduknya diikuti Akram yang mengekor di belakangnya. Sebelum duduk dia meminta izin pada Amara lebih dulu.
“Sendirian saja? Dari mana memangnya?” tanyanya mengedarkan pandangan.
“Sendiri, Mas. Kebetulan tadi melewatkan makan siang jadi habis rapat langsung keluar buat isi perut.”
Akram mengangguk dan memesan minuman.
__ADS_1
“Gak makan, Mas?” tanya Amara saat pria itu hanya memesan minuman.
“Enggak. Tadi sudah makan pas ketemu klien.”
Amara mengangguk. Dia menunduk dan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Hampir pukul tiga.
Suasana di antara keduanya tampak canggung. Amara tak berani mengangkat pandangan karena takut menganggumi ciptaan Tuhan di depannya, pun dengan Akram yang memilih menatap ke arah lain.
Meskipun begitu keduanya mampu merasakan getar-getar di dada yang begitu kuat.
“Saya gak nyangka kita bisa bertemu di sini dengan keadaan yang berbeda.” Setelah hening beberapa saat akhirnya Akram kembali melontarkan ucapan.
“Kita sudah bertemu beberapa kali, Mara.”
Amara mendongak, kini sepenuhnya dia bisa menatap wajah pria di depannya yang begitu sempurna.
“Kita bertemu di Pondok Ustadz Yusuf beberapa kali, tapi kita gak pernah bicara atau saling sapa.”
Akram menggeleng pelan. Tidak setuju dengan pernyataan itu, karena mereka telah bertemu sebelumnya. Namun, dia yakin wanita di depannya pasti tidak mengingatnya.
“Kita sudah bertemu sebelumnya. Pertama kali kita bertemu di Juanda saat saya gak sengaja nabrak kamu. Yang kedua kita ketemu di Taman Bungkul, tapi kamu mungkin gak sadar. Lalu yang ketiga baru di Pondok Ustadz Yusuf,” jelas Akram detail.
__ADS_1
Amara mencoba membongkar memori lama, mencari urutan kejadian itu diingatan. Setelah mengingatnya dia mengangguk dan tersenyum. “Itu sudah lama, Mas. Sekitar setahun yang lalu.”
“Benar, sudah lama tapi wajah kamu sudah terpatri dalam ingatan sejak pertemuan pertama.”
Eh!
Amara mengedipkan matanya berulang kali, meyakinkan diri bahwa pendengarannya tidak salah.
Mengapa pria itu selalu menyulut api dalam dadanya?
“Mas Akram, gak boleh menggoda. Ingat kita bukan mahrom, kata Umi Rahma gak boleh, dosa.” Amara menjawab sambil menundukkan kepalanya, menghindari tatapan rupawan pria di depannya yang sangat mempesona.
Akram terkekeh pelan, dia menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya. Tangannya terangkat mengusap dadanya sambil beristighfar tanpa suara.
“Maaf, Mara.”
Amara segera bangkit dan berpamitan lebih dulu. Dia mengatakan bahwa masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Dia berniat membayar pesanannya, tetapi Akram menolaknya dan mengatakan dia yang akan mentraktir.
“Terima kasih, Mas. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,” kata Amara dengan cepat pergi dan menghilang dari pandangan.
To Be Continue ....
__ADS_1