
Selepas makan malam bersama dengan kedua orang tuanya. Amara memilih kembali ke kamar dan istirahat. Usia kehamilan yang semakin membesar membuat tubuhnya memang gampang lelah jika terlalu lama duduk.
Raisa masuk ke kamar putrinya dengan membawa segelas susu hangat dan juga vitamin. Duduk di sofa kamar dengan bibir yang sama-sama terkunci rapat.
“Boleh ibu tanya?”
Amara yang tengah melamun sama sekali tak mendengar ucapan sang ibu. Hingga beberapa saat Raisa menunggu, akhirnya tangan wanita paruh baya itu terulur menepuk pelan bahu putrinya yang berjingkat kaget.
“Ada apa, Bu?” tanya Amara sambil tersenyum tipis.
“Datang ke rumah sudah izin suami?”
Amara tampak diam. Pertanyaan ibunya sangat berat untuk dijawab.
“Tahu hukum istri yang pergi tanpa seizin suaminya?”
Kembali suara Raisa membuat Amara tertampar. Meskipun Akram sendiri yang mengantarkannya pergi, tetapi Amara sama sekali tak bertanya atau sekadar mendengarkan perkataan suaminya.
“Mas Akram yang mengantarku, Bu,” jawab Amara pelan.
“Jika memang ada masalah selesaikan dengan kepala dingin. Jangan menghindar, apalagi kabur dari masalah.”
__ADS_1
“Complicated. Aku sendiri bingung mana yang harus kupercaya.”
Raisa menyentuh bahu putrinya dan memijatnya lembut. Hanya itu yang bisa dilakukan untuk mengurangi perasaan tak nyaman yang menghampiri.
“Dalam rumah tangga, konflik adalah hal wajar, Mara. Masalah berat atau sedang tergantung bagaimana kita menyikapinya. Hal sepele bisa jadi besar ketika salah satu atau justru keduanya saling menghindar. Ibu gak mau tau masalahmu, yang pasti ibu hanya minta jangan berlarut-larut.”
“Iya, Bu.”
Terbangun di tengah malam, Amara merasakan sebuah pelukan hangat melingkar di perutnya. Dalam kegelapan kamar, Amara yakin jika itu adalah suaminya. Siapa lagi pria yang berani masuk ke kamarnya selain sang suami.
Perlahan Amara menyingkirkan tangan kekar itu dari tubuhnya, lalu turun dari ranjang dengan hati-hati.
Setelah menuntaskan kegiatan di kamar mandi, Amara mendapati lampu kamar menyala. Akram duduk dengan kepala bersandar di kepala ranjang sambil menatapnya tanpa berkedip.
“Ini sudah malam. Tidurlah, Mas.” Amara sedang tak ingin memperpanjang masalah. Lagipula ini masih tengah malam jika harus beradu argumen.
“Jangan seperti ini, Mara.”
“Lalu aku harus apa, Mas? Aku harus bagaimana? Kehamilanku sudah sulit. Lalu aku dengar kenyataan bahwa suamiku pernah melakukan kesalahan di masa lalu hingga lahir seorang anak. Kamu pikir ini gak berat buatku?”
“Aku yakin di antara aku dan Ziva gak terjadi apa pun.”
__ADS_1
“Yakin? Kamu saja gak sadar telah menidurinya.”
Akram menggeleng pelan. “Gak ada pernyataan bahwa aku menidurinya, Mara. Aku terbangun dalam keadaan tubuh polos, bukan berarti aku telah menidurinya.”
“Gak masuk akal, Mas.” Amara menggeleng. “Kamu ada di kamar wanita dengan tubuh polos. Apa yang telah kalian lakukan? Itu poinnya! Seorang pria dan wanita berada di satu kamar, meskipun kamu gak sadar, bukankah tubuh polosmu sudah menjelaskan semuanya?”
“Terkadang pikiran gak selalu benar, Mara. Kamu bisa menduga, menafsirkan atau apa pun itu. Tapi kadang kenyataan bisa saja di luar isi kepalamu.”
“Sudahlah. Gak ada gunanya ngomong sama kamu, Mas. Capek aku.”
Amara menarik selimut dan kembali terlelap dengan posisi memunggungi suaminya.
“Jangan sentuh!” ujarnya penuh peringatan saat tangan Akram mengusap bahunya lembut.
Meski ditolak, Akram tetap memeluk istrinya erat. Namun, dipastikan tidak menyakiti kandungannya.
Pria itu menempelkan kepalanya di punggung sang istri sembari berbisik kata maaf berulang kali.
Sebenarnya sudah sejak lama Akram melakukan test DNA dengan Ibra. Hasilnya golongan darah mereka sama. Namun, saat Akram mendesak Zivanna tentang kejadian itu, hanya kata maaf yang berulang kali wanita itu ucapkan, seolah ada kesalahan yang telah dilakukan.
Zivanna memilih bungkam dan membuat semua orang yang mengetahui berspekulasi jika dia benar ayah dari Ibra.
__ADS_1
To Be Continue ....